Andin; Anak Yatim Yang Tadinya Cuma Bermimpi Bisa Sekolah

  • Whatsapp
Andin Sofyanoor bersama tokoh ulama kharismatik asal Kota Martapura, Tuan Guru Muaz.
Andin Sofyanoor bersama tokoh ulama kharismatik asal Kota Martapura, Tuan Guru Muaz.

KALIMANTAN SELATAN, Tandapetik.com – Menjadi politisi muda yang dapat menyandang gelar doktor di bidang ilmu hukum tata negara merupakan anugerah terbesar dalam kehidupan Dr. Andin Sofyanoor, SH.MH. Bagi orang yang hidup dalam lingkungan berada, pengusaha atau pejabat, meraih pendidikan setingkat doktor, mungkin tidak sebangga yang dirasakan Andin.

Bagi Andin, jauh sebelum memperoleh pendidikan hingga mencapai S3, dia tidak pernah bermimpi untuk mampu mencapai itu. Untuk bisa sekolah saja, dia sudah amat sangat bersyukur.

Muat Lebih

Sejak usia tiga tahun, Andin Sofyanoor sudah ditinggal ayah kandungnya menghadap Ilahi atau menjadi anak yatim. Kemudian sejak itu dia diasuh oleh ayah tiri yang memperlakukan dirinya seperti anak kandung.

Menapaki hidup dengan segala kekurangan menjadi suatu hal yang biasa bagi dia maupun keluarganya. Terkadang mendapat perlakuan sebagaimana rakyat jelata, bukan hal yang baru. Direndahkan, di pandang sebelah mata atau dianggap bukan siapa-siapa juga bukanlah sebuah hal yang langka. Namun, keadaan itulah yang membuat kepribadiannya menjadi seorang yang tegar dan kuat.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, dia cuma memiliki sebuah keinginan besar, yakni sekolah setinggi-tingginya, tanpa mengharap lebih dari itu. Karena itulah wasiat terbesar yang dititipkan ayah tirinya sebelum wafat. Akan tetapi, Allah Maha Pengasih, apa yang diperolehnya jauh lebih besar dari sekadar bisa mengecap pendidikan. Rencana Allah Swt diyakininya jauh lebih dahsyat. Usai menyandang gelar doktor, dia mendapat tawaran dari sejumlah universitas, baik di Kalimantan Selatan maupun Pulau Jawa, untuk menjadi dosen atau pendidik.

Dengan penuh rasa syukur, diapun menerima beberapa tawaran tersebut, untuk mendermakan pengetahuannya, sebagai bentuk amal jariah.

“Tadinya, ulun tidak pernah bermimpi menjadi seorang dosen. Sewaktu masih kuliah, ulun menyangka, jadi seorang dosen itu harus mendaftar. Ternyata ulun mendapatkan tawaran, sungguh Allah Maha Pemurah,” ungkap Dosen Universitas Ahmad Yani ini.

Usai meraih gelar doktor, dia tak hanya mendapat beberapa tawaran menjadi pendidik, tetapi juga menjadi sebuah harapan baru bagi keluarga, para alim ulama, kerabat serta orang-orang yang kenal dengan dirinya untuk menerapkan keilmuan ikut berperan membangun Kabupaten Banjar agar lebih baik lagi dan lebih bermartabat lagi sebagamana dahulu.(*)

Pos terkait