Ulasan

Workshop Hypnotelling di Dispersip Penuh Tawa

TandaPetik.Com – Lelaki itu berdiri santai di depan para peserta dengan rona wajah yang bersahabat, senyumnya ramah dan menenangkan. Pada setiap bicaranya, seringkali dia merubah karakter suara dan membuat suasana pecah dengan riuh tawa peserta workhsop hypnotelling sore ini, Minggu (22/7/2018), yang diadakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Selatan.

Seperti mana yang telah dipromosikan oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalimantan Selatan, Hj. Nurliani Dardie lewat akun facebook miliknya, acara ini diisi langsung oleh seorang Master Storytelling Indonesia, Agus Djafar Sodik atau yang akrab dipanggil Kak Agus DS.

Kepala Dispersip Provinsi Kalimantan Selatan, Hj. Nurliani Dardie yang diwakili Kabid Pelayanan Dispersip Provinsi Kalimantan Selatan Wildan Akhyar, mengatakan dalam pembukaan acara itu bahwa, acara ini merupakan apresiasi Dispersip Provinsi Kalimantan Selatan terhadap para pemilik Kartu Tanda Anggota (KTA) perpustakaan. Pasalnya, hanya orang-orang yang punya KTA-lah yang bisa mengikuti acara gratis dan keren tersebut.

Kak Agus DS, dalam pembukaan materinya menceritakan pengalamannya dalam dunia perdongengan, dimulai pada tahun 1978, lelaki itu mulai mengikuti ajang perlombaan dongeng  sekolah yang akhirnya membuatnya juara, dan juara, dan juara lagi, hingga lima kali berturut-turut dan tidak dibolehkan lagi ikut berpartisipasi dalam ajang itu. Ia juga pernah berturut-turut menang lomba dongeng se asia, bahkan dunia. Dan, sebagaimana juga lomba dongeng tingkat sekolah itu, ia pun kini tak boleh lagi mengikuti lomba tingkat dunia karena sudah keseringan juara.

Dia juga mengaku bahwa inilah kali pertama datang ke Banjarmasin setelah sekian lama berkecimpung dalam dunia dongeng dan sudah begitu sering pulang-pergi ke luar negeri.

“Banyak guru PAUD justru gagal mendongeng,” kata lelaki pemilik sekolah berkebutuhan khusus ini, hal itu dikarenakan guru tidak memahami polah anak dan bersikap tidak kompeten dalam dunia tersebut. Guru sering kali, kata beliau lebih lanjut, tidak bersikap layaknya seorang guru, berpakaian ke sekolah sudah seperti pergi ke mall, dalam kelas mereka marah-marah, pengajaran tidak kreatif, dan lain sebagainya.

Dengan hypnotelling, katanya, anak-anak tidak hanya akan mendengarkan dongeng yang disampaikan oleh gurunya saja, melainkan juga akan terbawa ke dalam cerita itu. Dia juga mengatakan bahwa dongeng yang disampaikan itu tidak perlu ribet dan susah-susah, cukup yang ringan-ringan saja tapi disampaikan dengan cara kreatif.

Seringkali, dalam workhsop tersebut, tawa peserta pecah oleh karena polah Kak Agus yang memang membawakan materinya nampak seperti mendongeng pada anak-anak. Suatu waktu beliau merubah suaranya, waktu yang lain dia mengambil selendang untuk kemudian berlagak seperti ibunya Malin Kundang, lain waktu lagi dia mengajak para peserta untuk terlibat dalam workhsop itu dengan menanyakan satu-dua pertanyaan ringan dengan hadiah CD dongeng darinya.

Dalam workshop yang dihadiri kebanyakan oleh kaum hawa itu, ada satu peserta yang menarik perhatian: dialah Muhammad Ishak, seorang pemuda yang sore itu menjadi minoritas di antara wanita-wanita berhijab.

Pemuda yang merupakan seorang pengajar PAUD di Banjarmasin itu mengaku senang dengan dunia anak-anak, dan ingin lebih dalam mempelajarinya. Ia juga mengatakan bahwa acara-acara seperti ini (Workshop) sangat bagus untuk dirinya dan juga guru-guru PAUD lainnya agar dapat mendidik anak-anak dengan benar.

“Saya harap acara-acara seperti ini dapat terus ada di Kalimantan Selatan agar ilmu para guru-guru terus berkembang untuk kemudian diajarkan lagi pada orang lain,” ujar Muhammad Ishak.

Kak Agus juga membeberkan tips untuk para guru agar menjadi seorang yang berkualitas, tips itu beliau katakan sebagai: 4 Sehat, 5 sempurna. Pertama, sabar. Kedua, ikhlas. Ketiga, ridha. Keempat, istiqomah. Dan Kelima, tahan.

Besar harapan Kak Agus untuk satu ketika nanti, acara seperti itu diadakan lagi dengan waktu yang panjang, seharian, sehingga ilmu yang disampaikan tidak setengah-setengah dan tanggung

“Jika memang mau diadakan lagi acara ini, dia mensyaratkan agar satu orang yang sore itu hadir membawa tiga orang lainnya supaya yang ikut berpartisipasi lebih banyak dan menyenangkan,” ucap Kak Agus.

Baca juga Artikel Berikut:

Rafii Syihab

Mahasiswa biasa yang punya cita-cita jadi manusia.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin