Ulasan

Ulasan Sebelum Pementasan : Naskah Drama Seandainya Waktu Bisa Diulang

TandaPetik.Com – Mengapa waktu tak bisa diulang? Baru saja ayah ketahuan selingkuh, bersama ibu, dia kudapati sedang bersama seorang perempuan di salah satu tempat makan. Ibu dan ayah bertengkar hebat. Mereka pisah. Entah. Sudah terlalu banyak masalah yang menimpaku.

Bahkan, pacarku memilih untuk meninggalkanku karena satu kesalahan konyol yang kuperbuat. Tidakkah alasan-alasan tersebut cukup untukku bisa memutar waktu, kembali ke masa di mana semuanya masih damai, dan akan kuperbaiki semua khilaf yang tiada guna tersebut. Aku janji!
_______

Mengapa waktu tak bisa diulang? Suatu hari seorang kawan dari Sanggar Ar-rumi datang ke rumah, ia sering dipanggil Epank Rumi, membawa satu naskah drama yang akan ia dipentaskan dalam beberapa waktu ke depan untuk menyambut mahasiswa baru Institut Agama Islam Darussalam Martapura. Naskah itu ia tulis sendiri, ia sutradari sendiri. Naskah yang ia beri judul Seandainya Waktu Bisa diulang.

“Naskah yang sangat sederhana. Alurnya santai dan penuh canda,” kata saya.

“Di mana nilai estetisnya?” kata seorang kawan yang juga sebagai pembaca pertama naskah tersebut. Dia meyakini bahwa komedi seperti itu tak pernah layak untuk dipentaskan. Demi Tuhan, seseorang ingin mengulang waktu hanya karena hal sepele macam putus cinta?

Tunggu dulu, kawan, bukankah seniman selalu punya cara untuk membuat karyanya nyaman dilihat, dibaca, dinikmati, tanpa harus menampakkan keindahan secara gamblang. Saya yakin ada satu hal menarik dari naskah tersebut. Yakin sekali!

Keindahan, merupakan hal yang sangat sulit untuk dinilai, tak ada parameter yang jelas untuk menilai sebuah karya tulis seperti naskah drama. Seorang penulis bisa saja memercayai bahwa realisme merupakan suatu keindahan yang hakiki, seorang yang lain ternyata dengan keras hati berkata bahwa romantisme-lah yang sesuai dengan konsep keindahan.

Jadi, apa itu keindahan? Ia tak pernah punya rumusan. Keindahan dinilai berdasarkan bagaimana penerimaan masyarakat terhadap suatu ide pemilik karya. Sebab itulah, ada dua hal dalam menilai suatu keindahan: beauty and ugly.

Beauty, merupakan karya yang memang dari sononya diakui banyak orang sebagai suatu keindahan yang asali—baik itu para penonton atau pembaca. Ia nyaman untuk dinikmati. Dalam perkara seni panggung, pementasan itu sangat menghibur hati baik dari alur, tokoh, dialog, artistik, musik, tata panggung, atau hal lainnya.

Sedangkan Ugly, adalah karya yang acap kali dinilai buruk dan tidak bermanfaat. Orang-orang biasanya melihat ini sebagai suatu kegagalan yang disengaja oleh si pemilik karya. Namun, jika kemudian dilihat lebih dalam, karya tersebut ternyata memperlihatkan banyak keindahan yang tersirat. Begitu.. Jadi, untuk melihat suatu karya, jangan cuma berdasarkan nafsu indrawi semata—bahwa yang komedi tidak mengandung moral—jangan, caranya bukan seperti itu. Caranya adalah, nikmati, telaah, sesekali tertawa, lalu pikirkan!
______

Kembali ke naskah tersebut, saya pikir naskah ini punya pesan yang sangat dalam, bahwa kembali ke masa lalu hanyalah kebodohan lain yang akan manusia perbuat. Dalam konsep ketuhanan, segala sesuatu memang sudah digariskan dari sononya. Saya yakin Tuhan telah merencanakan apa yang akan terjadi pada saya esok hari. Dan, berapa kali pun saya mengulang masa lalu saya, hal yang seperti itulah yang akan terjadi. Tetap sama. Tidak ada perubahan. Saya kira, Tuhan terlalu “besar” untuk manusia bodohi dengan konsep mengulang waktu tersebut.

Dalam beberapa kajian tentang waktu, ulama muslim lebih sering mengatakan bahwa suatu pengulangan waktu sangat tidak mungkin terjadi dan bertolak belakang dengan ajaran agama. Meskipun, dalam konsep ilmiah, para pemikir barat mengatakan bahwa mengulang waktu sungguh mungkin terjadi.

Tapi percayalah, pada abad 19 lalu, seorang Friedrich Nietzsche mengatakan bahwa umat manusia telah membunuh Tuhan. Bahwa menusia pada era sekarang (dimulai abad 19) telah melupakan Tuhan sebagai suatu poros kehidupan. Manusia lebih percaya akan sains. Contohnya saja, beberapa orang tidak percaya kalau salat itu membawa kesehatan bagi yang mengerjakan, hingga sampai suatu masa ada satu kajian sains yang mengatakan bahwa salat sangat baik untuk kesehatan guna melancarkan aliran darah ke otak, barulah mereka mengerjakan salat. Begitulah memang manusia (kita) pada abad sekarang.

Lalu soal alasan yang sangat sederhana itu, mengapa seseorang mau mengulang waktu hanya karena masalah cinta. Sigmun Freud menggambarkan tentang tiga sistem kepribadian manusia: Id, Ego, Super Ego.

– Id, merupakan dorongan bersifat primitif yang ada dalam diri manusia, ia bergerak berdasarkan prinsip kesenangan semata. Egois. Tidak peduli keadaan. Ia mampu melahirkan banyak keinginan, tetapi tak tahu cara mewujudkannya.

– Ego, berfungsi sebagai jembatan antara Id dan dunia realistis. Ego menjadi semacam mediator antara hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik.

– Super Ego, merupakan zat yang lebih tinggi yang ada pada manusia, ia memberikan pengarahan norma-norma yang harus dianut. Ia berfungsi sebagai penyeimbang, sebagai hati nurani yang mengontrol dan mengkritik perbuatan.

Dari situ, meski pun tidak begitu nyambung dengan perkara waktu, saya kira, kita dapat memahami bahwa si tokoh utama tak bisa menekan id-nya sehingga hasrat hewani kemudian membuatnya berfikir untuk mengulang waktu—apa pun yang kemudian terjadi tidak pernah ia pikirkan.

Ah, apaansih, udah ah, kepanjangan. Gini aja, silakan nonton pementasannya tanggal 26 September (malam kamis iniiii) nanti di Aula Institut Agama Islam Darussalam Martapura. Selepas salat Isya. Gratis. Saya sarankan sih, kalau mendapat candaan atau lawakan yang lucu banget dari para pemainnya, kamu ketawa aja. Jangan dipikirin mana pesan moralnya. Ketawa aja dulu. Kalau kamu ketawa, entar juga otakmu lancar, lalu pikiran-pikiran cerdas kemudian muncul dalam otakmu. Yakin deh. Mwah..

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

Rafii Syihab

Mahasiswa biasa yang punya cita-cita jadi manusia.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin