Esai

Tuhan Menegur Saya Melalui 3 Santri di Warung Kopi

TandaPetik.Com – Di suatu Sabtu, saya mendapatkan pekerjaan untuk mengantarkan sejumlah tamu dari luar daerah menuju Pasar Terapung, Lok Baintan. Tamunya ini para Fotografer. Penampilan saya biasa, ya kacamata di kepala, arloji putih, T-Shirt putih komunitas jam tangan, paket jaket bomber hitam, celana hitam, sepatu ket biru navy. Sedikit lebih keren dari supir kebanyakan. Hanya Tuhan yang tahu berapa uang yang saya bawa.

Tidak ada yang berat dalam perjalanan menuju Pasar Terapung selain dibangun paksa dan mesti berangkat sebelum subuh dan tidak sarapan. Sesampainya di dermaga, saya putuskan untuk tinggal di mobil saja karena masih terlalu mengantuk. Para wisatawan berangkat menuju sungai menggunakan klotok untuk mengambil angle terbaik mereka.

Gulang-galing di atas jok mobil, tak juga membuat saya tertidur. Ujung-ujungnya buka medsos campur boring. Saya keluar mobil dan mencari warung kopi. Persis di samping dermaga. Saya tanyakan berapa harga kopi segelas kepada Acil yang jaga. Alhamdulilah cukup. Saya cemas kalau-kalau dengan penampilan saya sekarang harga kopi kelas warung wisata mendadak naik sekelas mall.

Acil warung bore sangat. Padahal saya sedang malas bicara tapi dia, bertanya kayak wartawan yang baru magang, 5W1H. Apa di mana dengan siapa bagaimana bla-bla-bla. Saya manggut saja dan sesekali menjawab dengan iya disertai hehe. Saya bilang, saya driver yang sedang mengantar tamu berwisata singgah ke warungnya untuk sekadar menunggu saja. Titik.

Kopi dihidangkan, sebelah kaki dinaikkan ke atas kursi, dan saya mulai membakar gulungan tembakau yang tinggal sebatang, Last Choice. Saya tidak punya pilihan lain setelah ini menunggu dengan cara apa lagi.

Sekonyong-konyong datang 3 orang pemuda berpakaian gamis abu-abu dan berkopiah haji. Di dadanya terdapat emblem Ponpes Nurul Hidayah. Udah tau sih, ni santri sekolahan. Iseng saya mulai bertanya memulai topik obrolan. Daripada menjawab pertanyaan acil yang borenya minta ampun, Ya Tuhan.

“Tingkatan apa? Awwaliyah?”
“Wustho, Bang!”
“Oh. Setara Tsanawiah kan ya! Nahwunya apa. Jurumiah kepake? Kawakib diajarkan?”
“Iya, Bang.”

Si santri seperti terantuk-antuk kakinya memalingkan badan mengarah ke saya sembari menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi menimpa mereka. Kepalanya menunduk-nunduk penuh ketakziman. Saya merasa di atas rata-rata.

“Fiqhnya apa? Iyanahtuttholibin? Iqna?”
“Fathul Mu’in, Bang.”
“Tarikh yang dipakai Nurul Yaqin apa Muhammad Rasulullah?”
“Nurul Yaqin, Bang.”
“Tasawwufnya Risalah Qusairiah, ya?”
“Gak tau, bang. Maksudnya akidah akhlak kali Bang. Kami pakai Ta’lim Muta’lim!”
“Iya, kan tasawuf juga. Oh bagus itu.”

Saya sengaja menyebutkam kurikulum kelas Ulya biar mereka tau aja. Berasa hebat yang padahal kalau ada ujian lisan bikin nangis darah di hadapan ustadz. Hasil sekian tahun nyantri cuma hapal nama fan pelajaran tapi gak ingat siapa penulis dan penyusun kitab. Boro-boro soal isi. Kebanyakan masuk di jam “bakda istrirohat” membuat saya sering dicari dan diingat beberapa ustadz. Cukup bandel. Tolong pada bagian ini jangan sampai ke orangtua saya. Hehe.

Singkatnya begini, sistem ajar-belajar di sekolah mereka memasukkan beberapa fak umum untuk penyetaraan akreditasi. Wustho dengan SMP sederajat demikian pula dengan Ulya yang setara SMA sederajat. Waktunya setelah siang pasca Dzuhur, otomatis mereka ini membawa pakaian seragam ganti.

Bedanya dulu, ketika saya masuk perguruan tinggi meski menyerahkan ijazah penyetaraan yang mengharuskan santrinya ikut Paket B dan Paket C. Sekarang sudah tidak lagi, sih. Sudah diurus oleh ketua yayasan.

Alhasil mereka makan nasi goreng yang sudah dipesan ke acil. Dadah, saya dikucilkan. “Ya silakan makan,” jawab saya ketika mereka menawarkan dengan sopan.

Usai makan mereka pun pergi. Tertinggal kami. Maksudnya si Acil dan saya sendiri. Perlahan dengan lemah lembut si Acil bertanya.

“Ikam lulusan di Martapura, kah, Nang!”
“Inggih!”

Suasana Hening. Sembari fokus menggoreng pisang dengan seluruh punggungnya membelakangi saya, acil berkata…

Kita ni lah, jadi napa aja kainanya, napa aja gawiannya, nang penting bisa mengaji, ada pendidikan dasar agama. Kita ni, nang lah, biar sekolah tinggi mun kada beadat kada dipakai urang jua, ya kalo, nang! Nang iyanya diri ti pang nang kita bawa kemana-mana ni. Mun kita baik lawan urang, urang baik jua lawan sorang. Biar sugih biar bepangkat, mun urang lain kada ketuju, kada ketuju tu pang. Meitihi gin koler,”

Seperti petir menyambar kalbu, saya menurunkan sebelah kaki dan kacamata di atas kepala. Tiba-tiba reflek, saya manggut, layaknya ada sosok guru saya di pesantren sedang berada di hadapan. Saya merasa salah tingkah karena dari awal bersakwa-sangka yang jelek kepada acil, seolahnya Tuhan menegur perlakuan saya kepada 3 santri tadi melalui kalam suara acil warung yang asik menggoreng dan punggungnya bagus sekali.

Lembut tapi tepat sasaran. Selow tapi mengejutkan.

Saya tak bersuara. Acil belum membalikan badannya. Sekonyong-konyong kepala koordinator wisatawan yang tadi semobil datang memanggil.

“Nda, ambil spanduk di mobil, buat foto bersama di parak jembatan!”
“Siap, Om. Sebentar ulun habiskan kopi dulu!”
“Yang cepet ini udah terlalu siang.”
“Oke siap!

Tergopoh-gopoh setengah berlari saya menuju mobil. Sepanjang berjalan sambil mikir, saya baru ngeh. Seketika sadar, saya hanyalah seorang supir.

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

Ananda Perdana Anwar

Lahir di Pelaihari, tinggal di Banjarbaru, suka jadi driver online, tapi lebih senang nulis curhatan penumpang. Nyambi jadi wartawan, dan alhamdulillah masih beriman.

Artikel Berkaitan

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin