Tips dan Trik

Tips 7 Adab Menasihati Tanpa Melukai

Nasihat tak melulu soal hidayah untuk melembutkan hati orang yang terkasih, Orang tua, suami/istri, kerabat dekat, teman, tetangga, dan bahkan orang-orang di luar Islam.

TandaPetik.Com – Adab memberikan nasihat kepada orang lain. Sebenarnya banyak sekali cara yang bisa kita lakukan untuk menyampaikan hal yang baik atau buruk kepada orang lain dan tidak melulu dengan perkataan atau perbuatan. Bahkan tak hanya cukup disitu, media perantara kadang juga diperlukan agar yang bersangkutan tidak merasa terintimidasi secara langsung maupun terlecehkan.

Nasihat tak melulu soal hidayah untuk melembutkan hati orang yang terkasih, Orang tua, suami/istri, kerabat dekat, teman, tetangga, dan bahkan orang-orang di luar Islam. Ada orang-orang yang tak perlu banyak cakap hanya dengan melihat ia manut saja, namun tak sedikit pula meski berjejal-jejal kata mutiara tak mempan baginya.

Yang terpenting adalah adab dalam member nasihat. Tersebab saat seseorang memberikan nasehat, ia juga memerhatikan adab atau etika sebagai penentuan diterima atau tidaknya nasihat. Beberapa adab yang dimaksudkan yakni:

  1. Mengharapkan Ridha Tuhan

Seorang yang menasihati hendaknya meniatkan semata-semata untuk mendapatkan ridha Allah Ta’ala. Karena hanya dengan maksud inilah dia berhak atas pahala dan ganjaran dari Allah Ta’ala di samping berhak untuk diterima nasehatnya. Rasulullaah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya, “Sesungguhnya setiap amal itu bergantung kepada niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya (dinilai) kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka (hakikat) hijrahnya itu hanyalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Jangan Berniat Mempermalukan

Berusahalah untuk tidak mempermalukan orang yang hendak dinasehati. Faktanya hal demikian seperti menjadi kebiasaan. Memberikan nasihat dengan nada kasar terlebih ketika ada orang lain yang tidak terkait darah di sekitarnya. Adab demikian bisa jadu berbuah buruk atau memperparah keadaan. Nasihat tidak akan bermanfaat seperti yang diharapkan.

  1. Menasihati Secara Rahasia

Ada nasihat yang disampaikan dengan terang-terangan seperti saat menyampaikan ceramah. Tapi adapula nasihat yang disampaikan justru secara rahasia kepada seseorang yang membutuhkan penyempurnaan atas kesalahan. Umumnya seseorang hanya bisa menerimanya saat dia sendirian dan suasana hatinya baik. Itulah saat yang tepat, tidak di depan publik. Sebagus apapun nasihat seseorang namun jika disampaikan di tempat yang tidak tepat dan dalam suasana hati yang sedang marah maka nasihat tersebut hanya bagaikan asap yang mengepul dan seketika menghilang tanpa bekas.

Al Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Apabila para salaf hendak memberikan nasihat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasia… Barangsiapa yang menasihati saudaranya berduaan saja maka itulah nasihat. Dan barangsiapa yang menasihatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.” (Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, halaman 77)

Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh Zhahiri menuturkan, “Jika kamu hendak memberi nasihat sampaikanlah secara rahasia bukan terang-terangan dan dengan sindiran bukan terang-terangan. Terkecuali jika bahasa sindiran tidak dipahami oleh orang yang kamu nasihati, maka berterus teranglah!” (Al Akhlaq wa As Siyar, halaman 44)

  1. Nasihati Dengan Lembut, Sopan, dan Penuh Kasih

Memberi Nasihat hendaklah bersikap lembut, sensitif, dan beradab. Menerima nasihat diperumpamakan seperti membuka pintu. Pintu tak akan terbuka kecuali dibuka dengan kunci yang tepat. Seseorang yang hendak dinasihati adalah pemilik hati yang sedang terkunci dari suatu perkara, jika perkara itu yang diperintahkan Allah maka dia tidak melaksanakannya atau jika perkara itu termasuk larangan Allah maka ia melanggarnya.

Maka dari itu harus ditemukan kunci membuka hati yang tertutup. Tidak ada kunci yang lebih baik dan lebih tepat kecuali nasiihat yang disampaikan dengan lemah lembut, diutarakan dengan beradab, dan dengan ucapan yang penuh dengan kasih sayang. Bagaimana tidak, sedangkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

Artinya, “Setiap sikap kelembutan yang ada pada sesuatu, pasti akan menghiasinya. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya. (HR. Muslim)

Sebagai contoh, Fir’aun adalah sosok yang paling kejam dan keras di masa Nabi Musa. Namun Allah tetap memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun agar menasehatinya dengan lemah lembut. Allah Ta’ala berfirman,

فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا

Artinya, “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut.” (QS. Ath Thaha: 44)

Lihatlah jika nasehat dilontarkan dengan keras dan kasar maka akan banyak pintu yang tertutup karenanya. Banyak orang yang diberi nasihat justru tertutup dari pintu hidayah. Banyak kerabat dan karib yang hatinya menjauh. Banyak pahala yang terbuang begitu saja. Dan tentu banyak bantuan yang diberikan kepada setan untuk merusak persaudaraan.

  1. Tidak Memaksakan Kehendak

Salah satu kewajiban seorang mukmin adalah menasehati saudaranya tatkala melakukan keburukan atau meninggalkan kewajiban. Namun tidak memaksakan untuk mengikuti nasihatnya. Tersebab hal tersebut bukanlah dari bagiannya. Seorang pemberi nasihat nasehat hanyalah penunjuk jalan, bukanlah seseorang yang memerintahkan orang lain untuk mengerjakan.

Ibnu Hazm Azh Zhahiri mengatakan: “Janganlah kamu memberi nasihat dengan mensyaratkan nasihatmu harus diterima. Jika kamu melanggar batas ini, maka kamu adalah seorang yang zhalim…” (Al Akhlaq wa As Siyar, halaman 44)

  1. Mencari Waktu yang Tepat

Tidak setiap saat orang dinasihati itu bisa menerima petuah. Adakalanya jiwanya sedang gundah, marah, sedih, atau hal lain yang membuatnya menolak nasihat. Ibnu Mas’ud pernah bertutur: “Sesungguhnya adakalanya hati bersemangat dan mudah menerima, dan adakalanya hati lesu dan mudah menolak. Maka ajaklah hati saat dia bersemangat dan mudah menerima dan tinggalkanlah saat dia malas dan mudah menolak.” (Al Adab Asy Syar’iyyah, Ibnu Muflih)

Pun seandainya seseorang yang kita sayang tidak mampu menasihati dengan baik maka dianjurkan untuk diam dan hal itu lebih baik karena akan lebih menjaga dari perkataan-perkataan yang akan memperburuk keadaan dan dia bisa meminta tolong temannya yang ia segani agar bisa memberikannya masukan.

Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah berkata yang baik atau diam…”(HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam Syarhu Al Arba’in An Nawawi memberikan beberapa faedah dari cuplikan hadits di atas yaitu wajibnya diam kecuali dalam kebaikan dan anjuran untuk menjaga lisan.

  1. Hindarkan Dari Perasaan Paling Benar

Kita sebagai yang menasihati pun tentu jauh dari kesempurnaan. Terlebih merasa paling benar dalam menyampaikan. Terlampau jauh jatuhnya malah sombong. Kewajiban kita sebagai penyampai hanya sekadar mengajak atau menasihati, bukan berarti memvonis dia salah dan kita paling benar. Maka, adab lebih diutamakan dalam kaidah ini ketimbang materi. Salah satu kata mutiara menyebutkan: Adab itu di atas ilmu.

Jangan pernah putus asa untuk memohon pertolongan Allah karena pada hakekatnya Allah-lah Yang Maha Membolak-balikkan hati seseorang. Meski sekeras apapun hati seseorang namun tidak ada yang mustahil jika Allah berkehendak untuk melembutkan hatinya dan menunjukkan kepada jalan-Nya. Wallaahu Musta’an.

“Jika engkau inginkan kebaikan pada saudaramu. Maka ajaklah ia tuk bergandengan dan beriringan menuju jalan-Nya. Bertuturlah dengan baik Berilah senyuman tatkala ia tak peduli Tunggulah… Bersabarlah… hingga pintu itu terbuka. Jangan kau paksa.. dan jangan pula kau marahi. Sebab nasihat bisa berubah menjadi pisau yang tajam yang hanya membuat goresan di hati dan akan membuat lari. Jangan kau paksa, dan jangan pula kau marahi sebab hidayah ada di tangan Sang Rabb Yang Maha Membolak-balikkan hati”

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

Ananda Perdana Anwar

Lahir di Pelaihari, tinggal di Banjarbaru, suka jadi driver online, tapi lebih senang nulis curhatan penumpang. Nyambi jadi wartawan, dan alhamdulillah masih beriman.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin