Tiga Tahun Saya Menyimpan Kisah Ini, Anda Sungguh Dzalim!

  • Whatsapp
Ahmad Muddatsir Setiawan belajar berdiri setelah mengalami kelumpuhan.
Ahmad Muddatsir Setiawan belajar berdiri setelah mengalami kelumpuhan.

Oleh
Denny Setiawan

Cerita ini saya simpan sejak sekitar 3 tahun silam, tepatnya di tahun 2016. Sebuah cerita memilukan dan sangat menyayat hati.

Ketika itu saya bekerja di sebuah perusahaan yang terbilang bonafid dengan posisi yang lumayan bagus. Di satu waktu, anak bungsuku yang berusia 5 tahun terlihat berjalan dengan sedikit pincang. Saya mengira dia hanya terjatuh biasa, kemudian keseleo. Kemudian saya dan istri berinisiatif membawanya ke tukang pijat, dengan harapan kakinya yang pincang bisa sembuh.

Namun tidak seperti harapan kami, setelah dipijat, ternyata kakinya yang pincang itu malah semakin parah, bahkan tidak bisa didirikan sama sekali. Kekhawatiran kami pun semakin bertambah.

Kemudian saya dan istri segera membawanya ke dokter spesialis anak untuk diperiksa lebih intensif. Mula-mula dokter hanya mendiagnosa, bahwa anak bungsu kami menderita TBC paru. Atas saran dokter, kami pun melakukan terapi pengobatan yang dianjurkan selama 8 bulan.

Namun terapi yang kami lakukan tak sedikit pun menunjukkan perubahan. Kondisi anak bungsu kami semakin parah. Kalau semula hanya satu kaki yang tak bisa didirikan, berikut malah kedua kakinya yang tak bisa didirikan. Dia mengalami kelumpuhan pada dua kaki.

Kegelisahan kami pun samakin memuncak. Kami kembali membawanya ke dokter spesialis anak, lalu dianjurkan mendiagnosa lebih detil ke seorang dokter ahli syaraf.

Sangat ironis dan menyedihkan. Anak kami bukan hanya tidak mampu berdiri, tetapi kedua kakinya sama sekali tak dapat disentuh. Bila disentuh, dia mengerang kesakitan sejadi-jadinya, dengan rintihan yang meluruhkan hati. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli keranjang bayi yang didorong untuk membawanya agar kedua kakinya lebih aman dan tidak terbentur apapun.

Pada waktu yang dijadwalkan oleh dokter spesialis anak, kami pun membawa putra bungsu kami ke dokter ahli syaraf. Setelah melalui proses pemeriksaan, diagnosa hingga rontgen, kabar yang kami dengar dari dokter spesialis syaraf bak petir. Anak kami disebut telah menderita TB tulang pada bagian tulang belakang. Kemudian dianjurkan untuk dioperasi besar, memotong tulang belakangnya untuk mengangkat virus TB tulang yang bersarang di dalam tulang belakang.

Mendengar kabar itu, saya dan istri hanya bisa terdiam. Tak terasa kami hanya bisa berpelukan seraya mencucurkan air mata yang tak mau berhenti, membayangkan anak kami yang mungkin akan menjalani operasi, yang mungkin bisa merenggut nyawanya.

Hari demi hari, minggu demi minggu, kondisi anak kami semakin parah. Kelumpuhan tak hanya menyerang kedua kakinya, tetapi sudah merambah kepada kedua lengan hingga sekujur tubuhnya. Dia sudah tak mampu bergerak bebas, bila tergerak, maka dia akan merintih kesakitan. Sehingga dia hanya bisa tergolek di atas kasur, makan, minum hingga urusan kencing dan buang hajat hanya dapat dilakukan di atas kasur.

Kami pun segera membawanya ke RSUD Ulin Banjarmasin untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Berbagai pengobatan sudah dilakukan pihak rumah sakit, bahkan sampai harus menyedot cairan pada bagian tulang punggung. Namun waktu itu ujian bagi anak kami belum selesai. Setelah dirawat selama 12 hari, kondisi anak kami belum juga mengalami perubahan hingga harus kami bawa pulang.

Keseharian kami senantiasa dirundung kesedihan. Hampir setiap waktu, istriku menangis dalam kecemasan. Tubuh anak kami terus menyusut, kedua kakinya kian mengecil. Di saat kesedihan yang mendalam, kabar duka lainnya kembali menghampiri keluarga kami.

Kendati harus merawat dan menjaga anak selama dirawat di rumah sakit, saya harus tetap bolak-balik Banjarbaru-Banjarmasin agar tetap masuk kerja. Di waktu yang demikian, tiba-tiba manajamen di perusahaan, tempat saya bekerja telah melayangkan sepucuk surat yang isinya memberhentikan saya sebagai karyawan. Tanpa sedikit pun mempertimbangkan, menyampaikan sebuah kebijakan, bahkan tanpa sepeser pun melakukan perhitungan terlebih dulu tentang hak yang harus saya peroleh secara transparan. Semua diputuskan begitu saja, tanpa meminta saya untuk datang ke kantor, meminta penjelasan tentang terbitnya surat pemberhentian tersebut.

Lebih ironis lagi. Jangankan untuk memberikan secuil perhatian terhadap kondisi anak karyawannya yang tergolek di rumah sakit, tak satu pun unsur manajemennya yang membesuk sebagai tanda menaruh kepedulian.

Namun saya berfikir, ah…sudahlah. Allah tak pernah tidur, saya yakin seyakinnya, suatu ketika Allah akan menunjukkan “perhitungan” itu semua dengan cara yang tidak diduga-duga.

Allah Maha Kuasa. Oleh saran seorang tetangga, kami dianjurkan membawa anak kami kepada seorang dokter anak ahli syaraf. Setelah menjalani perawatan secara rutin, tanpa melalui operasi, anak kami bisa sembuh total. Bahkan kini sudah bisa berlari kencang.

Alhamdulillah…anak bungsu kami sudah sehat wal afiat, pertumbuhannya semakin ceria, keluarga kami pun mampu melewati itu semua dengan bahagia.

Tinggal giliran mereka-mereka yang harus mempertanggungjawabkan “KEDZALIMANNYA” kelak kepada Yang Maha Adil.(*)

01 Januari 2020

Pos terkait