Esai

Tentang Cubitan Kepada Wartawan Bodrex

TandaPetik.Com – Berprofesi menjadi wartawan itu tidak gampang. Selalu saja ada masalah yang ditemui saat bertugas di lapangan.Namun begitulah kehidupan ini, saya kira semua profesi pun memiliki masalahnya masing-masing. Dengan kata lain, masalah memang akan selalu hadir di mana saja dan menghampiri kepada setiap manusia, tak peduli profesinya. Di situlah justru tantangannya. Bukankah dengan adanya permasalahan kita akan belajar dan terus belajar untuk menemukan penyelesaiannya? Ibarat ujian, kelulusan ditentukan dari cara menyelesaikan masalah tersebut.

Stigma buruk tentang profesi wartawan seperti yang ditulis salah seorang wartawan KoranBanjar.Net, mengingatkan ketika saya dulu masih bertugas di lapangan. Bagaimana saya harus belajar berani mengungkap sebuah kasus, menghadapi ancaman para preman, belajar membantu perusahaan tempat saya bernaung agar tetap eksis lewat menawarkan iklan, sampai belajar menyakinkan pihak humas pemerintahan kalau saya bukan Wartawan Tanpa Surat Kabar (WTS).

Eksistensi Wartawan dan Media

Profesi wartawan tugasnya adalah meliput berita lantas menuliskannya. Eksistensi wartawan bisa dipantau melalui tulisannya tersebut. Apa nama medianya dan adakah tulisannya di sana? Dari sinilah pangkal permasalahan munculnya berbagai istilah seperti wartawan bodrex, sengaja dinamai seperti itu karena bodrex merujuk nama sebuah obat untuk sakit kepala.

Wartawan bodrex bukan wartawan yang membuat sakit kepala seseorang karena berita yang dituliskan, tapi wartawan bodrex untuk merujuk wartawan yang suka datang bergerombol (keroyokan dari 5 – 15 orang bahkan lebih) menemui para pejabat atau sebuah event-event seremonial pemerintahan. Tujuan mereka hanya satu, minta jatah amplop berisikan uang. Wartawan bodrex ini mengaku wartawan, namun mereka tidak memiliki media yang jelas. Kalau medianya saja tidak jelas, maka tidak perlu lagi dipertanyakan beritanya. Parameter media yang jelas adalah memiliki badan hukum. Terbit/tayang sesuai perijinan. Membayar pajak. Ada penanggung jawab, struktur perusahaan dan awak redaksi.

Selain wartawan bodrex, masih ada istilah lain untuk menamai wartawan seperti di atas. Seperti, Wartawan Muncul Tanpa Berita (muntaber) atau Wartawan Tanpa Surat Kabar (WTS). Istilah tersebut barangkali sengaja dibuat karena kejengkelan beberapa pihak yang sering menjadi ‘korban’.

Martabat Profesi Wartawan

Dunia kerja wartawan memang sering dikait-kaitkan dengan amplop. Sampai-sampai ada sebuah media yang mencantumkan agar tidak memberikan amplop kepada para wartawannya. Apakah amplop ini kemudian menjatuhkan martabat wartawan?

Tergantung dari sudut pandang mana kita berpikir. Apakah amplop diberikan untuk memengaruhi isi berita atau agar tidak diberitakan? Atau sekadar bentuk rasa terimakasih karena telah dipublikasikan?

Idealisme wartawan adalah menyampaikan kebenaran, meskipun kebenaran itu sendiri relatif. Meski demikian, kebenaran yang dianut wartawan adalah hasil dari validasi informasi di lapangan. Walaupun narasumber berbohong saat wawancara, itu adalah kebenaran dari pihak si wartawan. Ia akan menuliskan sesuai apa yang disampaikan narasumber. Perkara kebohongan yang diucapkan narasumber, itu sudah masuk ranah lainnya. Dalam hal ini, pihak-pihak yang berkepentingan.

Bagi saya, menerima amplop untuk tidak memberitakan informasi yang didapat adalah kesalahan. Bagaimanapun, keberadaan wartawan seharusnya mampu memberikan efek positif bagi kehidupan. Wartawan harus mampu sebagai kontrol terhadap proses demokrasi dan keadilan.

Artinya, jika gara-gara amplop berisi Rp.500.000 sebuah berita tidak dituliskan, padahal jika terbit akan memberikan dampak positif bagi kemaslahatan orang banyak, berarti wartawan tersebut egois, memanfaatkan profesinya hanya untuk kepentingan diri sendiri. Apalagi kalau isinya cuma Rp.50.000. – 100.000, rendah sekali harga diri kau? Jangan tanggung-tanggung, mintak 100 Milyar sekalian. Hahaha (bercanda saja).

Berbeda dengan amplop yang diberikan oleh institusi yang memang memerlukan publikasi. Misalnya penyelenggaraan event, prestasi yang diraih dan lain-lain. Saya menganggap, amplop ini sebagai ganti jasa menulis dan pengambilan foto. Harap dicatat, amplop diberikan bukan karena permintaan wartawan.

Akan sangat baik jika amplop ini pun ditujukan untuk pihak perusahaan. Mengingat, perusahaan memerlukan biaya untuk cetak (offline) atau sewa server (online) serta distribusi. Amplop yang juga dikirim ke perusahaan anggap saja sebagai dana promosi ketimbang mencetak brosur atau pamflet sendiri yang distribusinya belum tentu sehandal perusahaan surat kabar. Benar tidak?

Akhir kata, tentang cubitan kepada wartawan bodrex bukan hal tabu karena dari dulu memang sangat meresahkan. Sudah sepantasnya keberadaan mereka dikuak. Semakin banyak wartawan bodrex, maka akan berimbas buruk terhadap profesi wartawan itu sendiri. Semoga saja organisasi-organisasi yang memayungi wartawan bisa mengambil kebijakan dan tindakan untuk menyelesaikan permasalahan ini. Semoga.

Tags

harie insani putra

Penulis kambuhan. Kadang menulis dengan jurus mabuk.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin