Esai

Tarif Kencing Naik, WC nya Begitu-gitu Aja

 


TandaPetik.Com -Sebelum punya rumah sendiri, saya sudah kencing di WC umum wilayah Mingguraya dari tahun 2009. Dan ini tahun 2018, bayangkan, sudah berapa puluh juta rupiah yang saya dan teman-teman di sekitaran Mingguraya setorkan ke Pemerintah Kota melalui melalui Badan Aset Daerah. Eh iya, ya!? Saya jadi lupa siapa yang kelola uang hasil retribusi WC. Sebutlah demikian jika benar adanya. Itu belum termasuk para pendatang yang sudah kebelet pipis dari jauh-jauh menikung belok kiri cuma untuk sekadar buang najis.

Janganlah kita pusingkan perihal Siapa yang Suka Kencing Tidak disiram di WC Umum seperti kata Abdullah HZ. Ini persoalan yang lebih penting, tarif kencing di WC umum Mingguraya sekarang sudah naik dua kali lipat pada pertengahan bulan kemarin. Lama saya diamkan tapi status saya hanya jadi bahan tertawaan masyarakat netizen fesbukiah saja. Mending uang sejumlah itu disedekahkan dan jadi pahala. Tapi untuk urusan buang najis saja kita mesti mengeluarkan jumlah demikian, saya merasa keberatan. Ya gak papa, emang kenapa. Kok Sewot?

Mari kita hitung pendapatan

jika dalam sehari saja WC mampu menarik pelanggan 100 kepala saja. Maka 2.000 x 100 = 200.000. Dalam sebulan si WC mampu menghasilkan 6.000.000. Dalam setahun pendapatan kotor sekitar 72.000.000. Mudah saja untuk WC mendapatkan sehari 100 kepala apalagi perhitungannya dari pukul 00.00. Belum lagi yang rutin mandi sekali mandi setor 3.000 rupiah. Tolong informasikan saya siapa yang mengetahui gaji bulanan penjaga WC nya? Apakah UMR? Atau honor? 2 juta sebulan atau 750 ribu kayak waiters waralaba?

Banyak hal yang membuat orang-orang mau gak mau harus kencing karena suguhan minuman yang berlimpah di pujasera Mingguraya. Sekali lagi saya tekankan, angka itu belum termasuk yang jajan jagung bakar dan pentol bakar di seputaran Lapangan Murjani lho.

Seandainya saja WC bertarif ini dipertahankan begono-begono saja, begono yang saya maksudkan dekil, keramik lusuh penuh bakteri, stiker peringatan “Sabunnya Ditikin Jangan Dikacak”, dua bilik cowok dan dua bilik cewek, tandon sekian tahun itu-itu saja, lantainya becek, bau pesing tak terkira, dan pintu kreotan beserta engsel tali plastik, maka akan sangat merugikan masyarakat. Dan memalukan. Ya, yang kencing, kan nggak orang Banjarbaru saja. Dee Lestari bisa aja kebelet pipis pas diancam Bang Ben habis baca puisi, maka, WC mana yang harus dituju selain WC umum samping Mingguraya? Gak mungkin dong disuruh pipis ke Balai Kota yang WC nya sudah seperti hotel berbintang. Hal ini bisa-bisa menjadi bahan Inspeksi Mendadak Mata Najwa.

Oke, gak cukup sampai di situ. WC Balai Kota yang letaknya persis di antara turun naik tangga itu sudah lebih baik. Bahannya kayu mahal, pintu dengan hodrolik, kaca, lampu, ac, dan wangi. Yang menikmatinya para pegawai ruang lingkup sekretariat Balai Kota, dan para tamu habis kunker dan seminar. Berbayar? Everyone come, its free. Tanpa dipungut biaya.

Nah, bagaimana kalau tampilan demikian juga kita letakkan di WC Mingguraya wahai bapak bijaksana dan baik hatinya.

Saking grgetnya, saya ingin konfirmasi ke Pak Kepala Dinas yang menangani soal aset itu. Bayangkan saja, saya mengetuk ruangan, bilang pengin ketemu ke staf, ngisi buku tamu, keperluan wawancara, dipersilakan masuk dan saya saling sapa, lantas ditanya.

“Ada berita apa? Wawancara apa?”
“Begini, Pak. Saya mau konfirmasi soal kenaikan tarif?”
“Tarif dasar listrik. Wah, kamu harus konfirmasi ke PLN, bukan ke sini!”
“Tarif dasar kencing di WC umum Murjani/Mingguraya sekitarnya, Pak! ”

Saya bisa jamin meledaklah tawa pak Kepala Dinas, ya siapa pun yang menjabat, ya. Kadang urusan WC cuma masalah leyeh-leyeh dan remeh temeh pemerintah. Padahal WC, sudah menjadi jualan dan barang dagangan yang menguntungkan, yakin deh. Pun seandainya itu dilakukan, ujungnya-ujungnya akan menjadi bahan bercandaan dalam ruangan. Pulangnya dikasih amplop yang nilai isinya cukup untuk beberapa kali kencing lagi di WC Murjani. Sembari dibisikkin, “Gak usah dinaikin beritanya ya, nanti kita anggarkan. Asal sabar!”

Saya menulis ini sambil tersenyum, sayangnya wawancara itu hanya andai-andai saja. Terlalu konyol untuk jadi berita. Tapi bukan berarti kita tidak punya harapan yang menguntungkan orang banyak. Bayangkan lagi, urusan ini diangkat di sidang paripurna, dan anggaran renovasi sudah ditetapkan. Kan, yang enak juga masyarakat para penggunanya. Semoga saja kabar baik akan datang di kemudian hari sembari kita tetap kencing sesuai syariat. Saya sudah terlalu banyak minum kopi, dan setelah tulisan ini tayang, saya harus kencing lagi.

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

Ananda Perdana Anwar

Lahir di Pelaihari, tinggal di Banjarbaru, suka jadi driver online, tapi lebih senang nulis curhatan penumpang. Nyambi jadi wartawan, dan alhamdulillah masih beriman.

Artikel Berkaitan

3 Comments

  1. Pertama; Adukan kepada Tuhan, kemana lagi bisa mengadu selain kepadaNya? Toh permintaan mulai dari minta hujan, minta rezeki, minta jodoh, minta

    jabatan, bahkan sekedar minta lulus ujian sekolah dan minta lulus ujian negara pun tertuju kepadaNya.

    Jangan lupa untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar, tak perlu pakai bahasa Arab, bahasa Ibrani apalagi bahasa Latin, cukuplah dengan bahasa resmi NKRI yaitu bahasa Indonesia, kerana meskipun Tuhan itu Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui, tidak sopan kalau menggunakan bahasa yang sembrono. apalagi menggunakan bahasa informal, etapi kita bukan bicara birokrasi, not yet sih

    Kedua; Adukan kepada Yang Terhormat Bapak Presiden Joko Widodo. Toh beliau punya jalur online. Abaikan mereka mereka yang nyinyir, apalagi berkata: “urusan gitu aja mengadu kepada Presiden”. Kita masyarakat Indonesia yang sudah memiliki KTP elektronik dan atau sudah merekam data untuk pembuatan benda kecil sialan tersebut meskipun barangnya belum sampai ke dompet, tentunya punya hak buat mengadu.

    Ketiga; Adukan kepada Bapak Walikota Banjarbaru, saya yakin sang penulis memiliki akses untuk itu, baik via telepon, sms, e-mail, facebook dan lain sebagainya. Karena pemimpin yang baik tentu takkan mengecewakan masyarakat yang dipimpinnya. Beliau juga terlalu baik hati untuk kemudian sampai hati mengecewakan masyarakat dengan tidak bertindak.

    Demikian bacot tak jelas saya kali ini, sebenarnya masih ingin menulis lebih panjang tetapi tiba tiba tidak mood gara gara satu dan lain hal yang tidak dapat dan pantas disebutkan di sini. ATas kesempatan yang diberikan saya ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya, demikian agar dapat dimaklumi sebagaimana mestinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin