Esai

Surat Teruntuk Kawanku, Agama dan Seni Drama

Agama tidak mengajarkan kita untuk sebuah drama yang isinya dusta, terlebih tanpa pesan moral atau nasihat yang dapat diambil di dalamnya. Agama kita juga tidak mengajarkan kita untuk menghilangkan rasa malu dengan menjadi orang gila. Agama justru memerintahkan kita menjadi manusia bermanfaat, membantu sesama, bukan belajar sandiwara.
__

TandaPetik.Com – Begini kawan, teater, atau drama, atau pemeranan, atau film, atau ftv, atau sinetron, atau drakor, atau apa pun itu yang bentuknya serupa, berfungsi sebagai pengisi ruang kreatif, imajinatif, ekspresif, sekaligus ruang komunikasi antar pemain dan penikmatnya. Seni pertunjukan merupakan proses simbolik bahasa lisan atau tubuh. Penonton tidak sepenuhnya sadar bahwa drama yang dimainkan merupakan sajian fiktif dan simbolik. Hal inilah yang kemudian oleh Sunan Kalijaga dipraktikkan pada media wayang kulitnya agar orang-orang Jawa di masa lampau tertarik pada agama Islam.

Ada sebuah hadis, aku tak hapal teksnya, kurasa kau lebih mafhum perihal ini ketimbang aku. Pada suatu hari, seorang baduwi bernama Zahir sedang berjualan, ia dikagetkan dengan datangnya seseorang yang mendadak memeluknya dari belakang. Lepaskan aku! Siapa ini? ucapnya. Beberapa detik kemudian dia mendapati orang yang memeluknya adalah Baginda Rasulullah Saw, Zahir langsung mendekap erat beliau. Nabi Muhammad pun kemudian menawarkan Zahir pada orang-orang dengan mengatakan bahwa lelaki yang sedang dipeluknya adalah seorang budak. Demi Allah, kata Zahir, apakah aku semurah itu. Nabi kemudian membalasnya dengan balasan yang sangat menyentuh hati: Kau tidak murah di sisi Allah, wahai Zahir, kau mahal adanya.

Kawan, oleh Ziyyad Ghazzal, dijelaskan bahwa Rasulullah dalam hadis tersebut berlagak menjadi seorang penjual budak—nyatanya beliau bukan pemilik budak, dan Zahir bukanlah budak—yang akan menjual Zahir. Hadis ini pulalah yang kemudian dijadikan dasar bahwa menjadi seseorang, atau memerankan seseorang dalam sebuah sandiwara yang kata kamu dusta tersebut, dibolehkan.

Bahkan, di Nusa Tenggara Barat, ada satu seni pertunjukan tradisional yang bernama Kemidi Rudat, pementasannya dilakukan dalam bentuk tarian, nyanyian, dan dialog yang sering berupa syair dan pantun—kau bisa sebut ini adalah seni pertunjukan. Sangat islami, kawan. Sumber mengatakan bahwa kesenian ini dikenal di sana sejak tahun 1912, dibawa oleh orang-orang yang baru saja pulang dari Tanah Suci Mekkah.

Tentang pesan moral. Begini, kawan, moral dalam setiap drama (dan juga seni secara luas) merupakan sisipan dari sebuah permainan apik nan memukau. Dalam tragedi, kau bisa saja melihat adegan pembunuhan orangtua pada anak, yang nyatanya ingin menyampaikan bahwa kehidupan melarat yang tidak didukung oleh asupan ilmu, bisa mengakibatkan suatu tragedi yang menyedihkan bagi manusia. Dalam komedi, kau bisa saja tertawa terpingkal-pingkal karena ulah lakonnya yang bertingkah konyol dalam menghadapi ujian akhir semester, tetapi ternyata pesannya adalah: jangan suka bolos kuliah!

Seorang pekerja seni, kawan, memang acap kali menyelipkan pesan moralnya secara halus, baik itu secara verbal atau perbuatan. Agar pesannya sampai secara lembut dan menyenangkan—bukan menusuk hati. Itulah juga mengapa seni sering kali diterima secara luas di kalangan masyarakat karena caranya itu. Bayangkan saja jika di masa lalu, Sunan Kalijaga mengatakan secara serampangan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan agama yang mereka peluk kala itu sesaat adanya. Kurasa jika begitu caranya, Islam justru dijauhi karena tidak menarik bagi hati orang-orang.

Oya, tentang orang gila. Begini, aku tidak ingat siapa namanya, hanya saja cerita ini kudengar beberapa tahun lalu saat masih duduk di bangku pesantren, ada seorang ulama yang setiap hari menggantungkan botol-botol di belakang bajunya, ia biarkan terjuntai serta menimbulkan bunyi kresek yang tidak merdu. Ia juga rela mengeluarkan uang hanya untuk membayar beberapa anak agar meneriakinya gila. Setiap hari ia datang ke pasar dengan cara seperti itu. Lelaki itu mengatakan bahwa dengan cara seperti itulah, dia merasa bahwa segala kesempurnaan milik Tuhan, bahwa direndahkan oleh manusia lainnya adalah biasa. Ia ingin melepaskan diri dari pengakuan manusia, dan memilih untuk berpura-pura gila agar tidak dikira ulama. Well, aku tidak ingat pastinya, namun secara garis besar kurasa begitulah adanya kisah yang diceritakan oleh guruku tersebut.

Pun juga seorang seniman, kawan, beberapa dari mereka memilih untuk melakukan hal semacam itu, sebab pengakuan yang dicari adalah pengakuan Tuhan, maka tak mengapa ia dicap gila asal pesan yang ia ingin sampaikan dapat disambut baik oleh orang-orang.

Dan terakhir, tentang belajar sandiwara. Kau pun sebetulnya tahu akan jawaban itu. Kau telah menuliskannya sendiri dengan kalimat “Menjadi manusia yang bermanfaat”. Ilmu bukan perihal dunia atau akhirat saja bukan? Kurasa agama menyuruh kita untuk belajar. Mau sandiwara, olahraga, pertolongan pertama, matematika, sastra, atau ilmu apa pun, selama bermanfaat bagi manusia: maka pelajarilah!

Eh, tunggu, emang ada ilmu yang tidak bermanfaat? Seseorang bisa saja belajar menjadi maling (yang jelas secara kasat mata tidak bermanfaat) agar tahu pergerakan maling dan mampu mencegah rumahnya kemalingan. Maka bermanfaatlah ilmu maling bagi dirinya, bukan begitu, kawan?

Dan akhirnya, kawan, seperti kata Jalaludin Rumi, seni bisa jadi sebagai sarana pengikat rasa kekeluargaan guna meminimalisir perbedaan: jadi kuharap dengan adanya bahasan kita tentang seni ini, kau dan aku bisa menerima perbedaan dengan jalan damai—bahwa persaingan yang bagus adalah dengan cara memperbaiki diri kita sendiri, dan bukan merendahkan orang lain.

Salam hormat, kawanmu.

PS: surat ini ditulis dalam suasana romantis.

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

Rafii Syihab

Mahasiswa biasa yang punya cita-cita jadi manusia.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin