Naik Gunung, Soe Hok-gie, dan Siapa Pencinta Alam Sejati

Naik Gunung, Soe Hok-gie, dan Siapa Pencinta Alam Sejati

\1\

Saya bukan anak Mapala, apalagi sastra. Tapi sejak masa sekolah menengah saya selalu tertarik pada seseorang bernama Soe Hok-gie. Darinyalah semangat saya untuk menulis timbul, darinya pulalah saya mencintai gunung sebagaimana Gie mencintainya. Tetapi saya tak pernah pergi ke Pangrango, tidak pula ke gunung-gunung dengan nama besar lainnya, entah itu di luar pulau atau di Kalimantan ini sendiri. Saya cuma pergi ke bukit-bukit di sekitar kota kediaman saya di Martapura; Manjai, Patra Bulu, Mandiangin, atau Matang Keladan. Hal tersebut saya lakukan demi memenuhi hasrat naik gunung yang tak pernah tersampaikan, sekaligus mengobati mata yang selalu dihadapkan pada semrawut pemandangan kota—saya pikir Martapura sekarang memang agak semrawut.

Tetapi ketika suatu saat saya ditanya: apakah kamu pencinta alam? Saya sungguh tak dapat menjawabnya.

 

\2\

Saya selalu melihat kehidupan sebagai sesuatu hal yang amat menarik. Walaupun sangat melelahkan dan kadang-kadang mengerikan. Tetapi di samping itu amat banyak hal unik. Dia menjadi tantangan. Kalau saya melihat gunung yang tinggi dan indah saya selalu merasa bahwa “sang gunung” berkata—“Datanglah”. Dan saya ingin mendakinya.

Kutipan itu saya ambil dari seri buku Tempo yang memuat perihal Soe. Terdapat pada permulaan bab “Cinta, Gunung, dan Film”. Itu merupakan surat sang demonstran bagi seorang perempuan bernama Nurmala Kartini Panjaitan pada 25 Juli 1968.

Soe Hok-gie, seperti yang telah banyak orang kenal, merupakan mahasiswa Universitas Indonesia yang aktif bersuara terhadap ketimpangan negeri ini pada masanya. Ia menulis sejak Sekolah Menengah Pertama, pada saat itulah sifat ‘melawannya’ timbul, itu terdapat pada buku catatan hariannya yang kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul Catatan Seorang Demonstran pada tahun 1983. Pada catatan harian yang ditulis pada 8 Februari 1958 ia mengkritik seorang guru yang mengatakan bahwa Chairil Anwar adalah pengarang prosa ‘Pulanglah Dia si Anak Hilang’, Soe membantah dan mengatakan bahwa karangan itu merupakan karya seorang Perancis bernama Andre Gide.

Seiring dengan kemampuan menulisnya yang makin terasah, ia mengkritik teman, pastor, tokoh politik dan bahkan Presiden Soekarno. Di masa Sekolah Menengah Atas Soe begitu rajin menulis untuk majalah sekolah dan menyerahkannya pada Frans Tshai—ia adalah pengurus Majalah Pemantjar pada tahun 1961. Ia tak paham sesungguhnya apa yang ditulis Soe, bahasa yang dipakai ketinggian, akunya. Tetapi berkat kegetolan Soe dalam menulis, yang setiap bulan pasti mengirimkan tulisan baru, dan karena tak banyak murid sekolah yang mengirimkan tulisan, maka selalu ada ruang untuk tulisan-tulisan Hok-gie di majalah yang ia kelola.

Selain rajin menulis (dan berdemo) Soe Hok-gie juga gemar naik gunung. Ia adalah anak MAPALA UI dengan nomor keanggotaan 007. Dalam Zaman Peralihan (2005), sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan-tulisan Soe Hok-gie tentang kondisi Indonesia di era peralihan kekuasaan Soekarno ke Soeharto, terdapat artikel berjudul Menaklukkan Gunung Slamet, di sana Soe mengatakan ; “Kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Dan begitulah Hok-gie mencintai gunung. Ada banyak gunung yang pernah ia datangi, tetapi kita tahu ia paling sering mendatangi Lembah Mandalawangi di Pangrango—tempat yang sering ia abadikan dalam banyak catatan dan sajak.

 

\3\

Pada suatu kesempatan di siang terakhir 2018 lalu, saya bersama beberapa kawan satu kampus mengikuti penanaman pohon di Bukit Patra Bulu, Desa Awang Bangkal, Karang Intan. Acara itu digagas oleh kawan-kawan pencinta alam dari kampus kami sebagai acara tahunbaruan dengan cara yang lebih dari sekadar hura-hura membakar petasan. Di situlah saya berbincang dengan seorang teman yang kebetulan menjabat sebagai ketua umum dari Mapala penggagas acara tersebut. Kepada dia saya bertanya tentang banyaknya gunung-gunung yang kini menjadi tempat wisata keluarga; dihiasi bermacam ornamen sebagai pendukung kala berfoto ria, dengan jalan yang teramat mudah dan bahkan beberapa beraspal sampai ke puncak. Hal tersebut, kata saya lagi, mengakibatkan banyak orang mendadak mengaku sebagai pencinta alam. Padahal mereka tak melakukan apa yang orang-orang pencinta alam sebenarnya lakukan—yang naik gunung betulan, menjelajah hutan, bertahan hidup di alam yang sebenar-benar alam—apakah mereka layak disebut sebagai pencinta alam?

Dia, kawan saya itu, dengan sikapnya yang selalu penuh wibawa lantas menjawab; bahwa sah-sah saja ‘merenovasi’ gunung menjadi sesuatu yang lebih menarik untuk banyak orang. Namun hal tersebut tentu menjadi semacam buah simalakama, di satu sisi kita perlu memperkenalkan alam (dan pentingnya ia) kepada generasi muda, di sisi lain dengan banyaknya gunung yang berubah menjadi tempat wisata itu, semakin banyak pula sampah yang berserakan di sana, pohon ditebangi, serta kebakaran hutan karena ulah para pengunjung tak bertanggung-jawab yang sangat mungkin terjadi. Lalu, lanjutnya, mengenai siapa yang berhak mengaku dan berhak mendapat gelar pencinta alam tentu saja bukan hanya orang-orang Mapala. Orang-orang semacam itu pun, yang ‘cuma’ datang ke gunung-gunung tempat wisata, atau bahkan cuma datang ke sungai belakang rumahnya, juga termasuk pencinta alam jika mereka tak merusaknya, salah satunya dengan tidak membuang sampah sembarangan, lebih lagi jika mereka dapat membuatnya lebih hijau dan asri. Biarpun Mapala, kalau dia mengotori alam, berarti ia tidak pantas disebut sebagai pencinta alam. Jawabannya selesai. Ia tersenyum. Saya mangut-mangut.

 

\4\

Saat menulis ini, saya, bersama empat orang kawan, sedang berada di Bukit Manjai, desa Awang Bangkal, Karang Intan, Kab. Banjar. Menurut aplikasi yang saya pakai, saya sedang berada di ketinggian 343 Mdpl. Ini adalah kali pertama saya ke tempat ini. Jalannya menanjak. Di sepanjang jalan malaikat maut seakan bertengger di bahu saya. Bahkan seorang kawan dibuat muntah dan hampir pingsan karena tanjakan yang sungguh aduhai itu. Ketika sampai puncak. Pukul 1 dini hari. Saya memandang gugus bintang dan kilau lampu perumahan jauh di bawah sana. Napas saya terengah, hampir habis saya kira. Saya cuma berharap bahwa saya tidak mati muda di atas gunung sebagaimana yang terjadi pada Soe Hok-gie. Lalu, di antara desau angin yang membuat dahan pohon saling gesek, di antara bunyi kesunyian tersebut, pertanyaan itu muncul lagi: apakah saya pencinta alam?

Entahlah. Pada akhirnya saya tidak lagi peduli pada gelar semacam itu. Saya hanya berharap besok ketika pulang kami tak menyisakan sedikitpun sampah di atas sini. Semoga.