Esai
Trending

Menghapus Trauma di Titik Banjir Kota Banjarbaru

Kota Banjarbaru; Dulu, Kemarin dan Sekarang

TandaPetik.Com – Setiap kali hujan datang, ingatan saya langsung tertuju ke aliran sungai yang berada di Kelurahan Kemuning, Kota Banjarbaru. Sebuah sungai yang menciptakan banyak ingatan juga kenangan di masa lalu.

Sebagai orang yang sejak kecil tinggal di Banjarbaru, saya sering menghabiskan waktu di Sungai Kemuning. Kadang hanya untuk sekadar mandi bersama teman-teman sambil mangacal ikan, mancing, atau menonton orang-orang mengambil pasir dan mencari intan.

Rona kehidupan masa lalu di Banjarbaru memang sesederhana itu. Tak banyak pilihan untuk kami untuk menghabiskan masa kecil di Banjarbaru. Bermain keleker, logo, layang-layang, tebak-tebakan buah manggis, petak umpat adalah rutinitas yang bisa dilakukan sepulang sekolah. Itulah sekilas cuplikan yang masih tergambar jelas dalam ingatan. Sebuah kenangan yang ranum dan menyenangkan.

Jeratan Trauma itu pun di Mulai

Di antara itu semua, suatu ketika Sungai Kemuning seolah menjelma sosok berbeda. Berkali-kali berita banjir mewarnai Kota Banjarbaru. Saya tidak pernah melewatkan hal seperti itu. Masih tersimpan dokumentasi foto dan video ketika Sungai Kemuning menggenangi rumah-rumah warga.

Setiap hujan datang, saya sering berjaga-jaga di jembatan Sungai Kemuning. Berdiri di atas jembatan tersebut, saya seakan-akan sedang menatap masa lalu, saat itu dan masa depan. Akh..!

Sempat saya berpikir, dengan tubuh terendam air memegang kamera, saya bertanya dalam hati, “Bagaimana mungkin Sungai Kemuning yang begitu indah di masa lalu justru mempersembahkan bencana bagi warganya?”

Banyak orang berpikir semua akibat ulah manusia, bukan? Begitulah kondisinya. Kesadaran warga agar tidak membuang sampah ke sungai menjadi nol besar. Bangunan rumah kian tumbuh memadati pinggiran sungai. Selokan dan drainase seperti menuju jalan buntu.

Dan, saat itu, Pemerintah Kota Banjarbaru seakan tidak punya jurus andalan untuk menyelesaikan permasalahan banjir di kotanya sendiri.

Kali Ini, Seperti Dulu, Bersama Hujan Kembali ke Sungai Kemuning

Hari ini tadi, Kamis (28-6-2018), saya hanya menghabiskan waktu meringkuk di rumah akibat malas bepergian. Sejak pagi gerimis tipis-tipis menyapu atap rumah. Tak lama kemudian, hingga sore hari hujan turun cukup lebat.

Ingatan tentang Sungai Kemuning datang kembali. Trauma itu masih ada. Kenangan itu pun masih tersisa. Meski hujan deras, setelah mengenakan jaket saya serahkan tubuh kepada hujan. Saya ingin berdiri lagi di atas jembatan Kemuning. Seperti dulu, waktu itu.

Meski menggigil dingin, saya telusuri dua titik rawan banjir di Sungai Kemuning. Di bawah sana, air mengalir sempurna dan masih jauh untuk menjangkau bibir siring. Perlahan demi perlahan, tetes air hujan seperti ingin menghapus trauma di kepala saya. Tetes air hujan itu seakan-akan berbisik sesuatu.

“Pulanglah, semuanya baik-baik saja. Biarkan aku menghapus luka di segala ingatanmu tentang Sungai Kemuning.”

Akh..! Banjarbaru hari ini sudah jauh lebih baik dari kemarin. Ingatan buruk tentang banjir sepertinya tak akan lagi menghantui. Semoga. Sementara kenangan indah ketika masa kanak-kanak, kubiarkan tentram sebagai kenangan untuk diceritakan kepada yang mengingingkan.

Toh, Banjarbaru hari ini telah menawarkan keindahan lain. Sebuah keindahan tentang Sungai Kemuning yang bertransformasi di tengah-tengah kehidupan kota.

Melalui gambar paling atas, bisa dilihat Pemerintah Kota Banjarbaru merawat sungai di kotanya.Sebuah upaya menyembuhkan bagi mereka yang terluka dampak banjir Sungai Kemuning. Tak hanya sungai yang dibenahi, tapi juga kampung di sepanjang bantaran Sungai Kemuning. Melihatnya, semacam ada romantisitas antara Sungai Kemuning dan Kampung Pelangi yang syahdu.

Sementara itu, di sisi lain dalam perjalanan pulang ke rumah, masih kulihat para pekerja bangunan tampak membenahi drainase di sepanjang jalan.

Pekerjaan yang sejak 2017 lalu juga dikerjakan di beberapa titik lainnya. Semoga 2018 ini, semua drainase di Kota Banjarbaru lebih terawat, rapi dan mumpuni ketika hujan datang.

Terimakasih, kepada siapa pun, yang telah berbaik hati merawat Sungai Kemuning dan Kota Banjarbaru.

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

harie insani putra

Penulis kambuhan. Kadang menulis dengan jurus mabuk.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin