fbpx
CintaEsai

Mengapa Kenangan Selalu Turun Saat Musim Hujan

“Pelangi yang muncul setelah hujan adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja.”

—Windry Ramadhina, Walking After You

 

Ini musim hujan. Langit kerap kali berubah secara mendadak—dari cerah menjadi abu-abu. Di beberapa tempat banjir datang lama sekali, menggenang rumah, ternak dan kehidupan. Di hidupmu juga seperti itu, pada saat musim hujan datang, hatimu seringkali berubah dari biru menjadi kelabu—hatimu basah oleh kenangan, dalam beberapa keadaan ketika hujan turun mendayu-dayu—seolah merayumu untuk terus mengingat masa lalu—air matamu merembes jatuh dan mengalir melewati pipi yang pernah ia pegang dahulu. Hujan dan kenangan, adalah dua hal yang berbeda namun seringkali menjadi perpaduan yang memuakkan. Bayangan masa lalu, saat-saat bahagia dan tertawa, saat hujan-hujanan di atas motor berdua. Huh, menyakitkan untuk diingat.

Eh, tapi, pernah gak kamu bertanya mengapa hujan dan kenangan bisa menyatu seperti itu, mengapa mereka bisa datang pada saat yang bersamaan—mengapa harus ingatan tentang masa lalu.

Kata orang, menjawab pertanyaan tersebut—yang barangkali kamu tanyakan—ada beberapa hal yang membuat mengapa kenangan juga ikut turun dalam derasnya hujan:

Pertama, hujan memengaruhi mood kamu. Suasana tenang, dengan deru hujan yang membius, dingin, kamu sedang tidak mengerjakan sesuatu. Kamu tidak bisa pergi kemana-mana. Mager. Mood-mu ikut terbawa menjadi sendu, menjadi melankolis.

Kedua, perasaan kamu ikut hanyut dalam lantunan irama hujan yang membius: setelah mood-mu ikut terbawa menjadi sendu, perasaanmu pun mulai tak keruan—bukan emosi marah yang meledak-ledak, melainkan emosi yang kalem tapi suram. Terlebih kalau suasana sangat mendukung, gelap, sepi, maka level serotonin menurun dan memengaruhi mood kamu menjadi sangat mellow.

Ketiga, kenangan mulai muncul: sekarang otakmu mulai melamunkan segala hal, mungkin diiringi lagu sendu—yang bisa saja tentang kenangan—dan segelas teh atau kopi. Hujan memang dari sananya selalu sendu, ia tenang dan memabukkan. Dan begitulah pelan otakmu mulai kembali ke masa lalu, pada mulanya kamu tidak ingin, tapi deru hujan akan terus memaksamu melakukannya. Kamu terbawa, mulai tertawa, sesekali menarik napas. Dan kenangan perlahan terputar kembali dalam kepalamu.

Begitulah hujan memengaruhimu untuk memutar kenangan, ingatanmu tentang doi kembali bangkit, saat berdua melintasi hujan di atas motor, misalnya, dan segala hal tentang dirinya. Kamu mengembuskan napas beberapa kali. Kenangan sudah begitu liar dalam kepalamu. Hujan belum juga berhenti. Ponsel milikmu lantas berderit—kamu berharap, dia terbayang hal yang sama denganmu dan menghubungimu. Tapi bukan, itu bukan dia, itu cuma operator sialan yang cari muka, kamu mengambil ponsel, ingin menghubunginya, tapi urung karena terlalu gengsi—di suatu tempat, orang yang kamu bayangkan juga merasakan perasaan yang sama: gengsi.

Temukan Artikel Menarik Lainnya Melalui Topik di Bawah Ini:
Teknologi | Otomotif | Politik | Olahraga | Kesehatan | Esai | Cinta | Sosok | Tips & Trik | Traveling | Ulasan | Cerpen | Games
Hubungi Admin Tandapetik.com

Artikel Berkaitan