Esai

Mengapa Harus Ada Recehan di Laci Mobil Kita

TandaPetik.Com – Jadi, mengapa harus ada recehan di laci mobil kita?

Saya sering dinasihati ayah saya soal berlalu-lintas menggunakan roda 4. “Nak, lacimu jangan sampai kosong dengan recehan, banyak orang-orang yang mengharapkan rejekinya dari kita yang lewat!” demikian singkatnya. Sebagai kalimat simbolis, saya cuma manggut saja. Belum ketemu, akan sampai di mana makna dari pesan itu.

Semakin tinggi jam terbang, seorang driver akan makin terbiasa dengan perlakuan rekanan pengemudinya yang lainnya. Contoh motor, berapa banyak pengemudi motor dari kalangan remaja sampai emak-emak yang mengejutkanmu di balik setir kemudi? Berapa banyak pembalap amatir yang menyelip membuat driver membuahkan kalimat-kalimat mutiara saat menyetir? Atau berapa banyak emak-emak lampu sen kiri tapi belok kanan membuatmu buyar apakah harus ikut belok atau lurus saja. Jadi driver jam terbang tinggi itu berat bro! Biar saya saja.

Untuk driver yang sering menempuh jarak panjang semisal keluar kota, tentu sering mendapati ajang pengumpul dana (sumbangan) baik untuk masjid atau pun jalan rusak.

Sedangkan driver yang sering wara-wiri di dalam kota, udah gak asing dengan Pak Ogah, sebutan untuk orang-orang menyetopmu di persimpangan tanpa seragam, atau mengarahkan parkirmu agar tak nabrak, juga mereka yang nekat berdiri mengorbankan nyawa agar mobilmu bisa melalui rintangan belokan dengan lancar.

Mereka menjadi wadah untuk sodakoh, satu jalan disediakan Tuhan untuk driver menyisihkan sebagian hartanya kepada kaum yang membutuhkan. Why not?

Entah dari mana pemikiran ini datang, pengemudi roda empat acap kali menjadi sasaran para “preman”. Semisal tukang parkir illegal, bahkan paman becak, ya kita tak pernah tahu, kan ya!

Satu kejadian pernah menimpa teman saya. Saya duduk depan, bersebelahan dengan dia yang mengemudi. Mobilnya masih baru dalam hitungan bulan. Terbayang kan betapa masih mengkilat bodynya. Jam terbangnya belum tinggi. Ruang lingkupnya masih berwara-wiri seputar perkotaan. Satu pemuda berkaos singlet di depan menahannya untuk mempersilakam mobil lain lewat.

Setelahnya, baru mempersilakan kami masuk ke dalam gang. Lalu lintas Banjarmasin memang kerap kali padat di sore hari. Saya bilang kepadanya “Kenapa kamu gak ngasih duit ke dia?”

Panjang lebar teman saya itu menjawab. Buat apa mengasih orang-orang demikian, kalau dikasih, mereka akan terbiasa, malas mencari kerja, kesannya malah mendukung pengangguran.

Dia tak suka ada orang-orang demikian, kerja tidak legal, tidak ada payung hukum yang melindungi. Menurutnya, tanpa keberadaan “Pak Ogah” atau Juru Parkir tidak resmi dia mampu masuk gang semaunya, keluar parkir dari ritel sendiri, atau merapikan mobil saat berhenti tanpa ada orang-orang yang mengarahkan. Katanya lagi, mobilnya sudah canggih, ada sensor parkir dan kamera mundur, otomatis lebih aman dan gak bakalan nabrak.

Saya pikir, poinnya bukan di situ, kawan. Saya diam. Setelah urusannya kelar, mobil pun keluar menuju portal gang awal dia masuk. Orang yang tadi dia lewati masih berdiri di sana mengaturkan lalu-lintas. Orang itu sepertinya ingat betul mobil bahkan nopol mobil yang kami kendarai. Mungkin teman saya merasa terintimidasi. Dia tutuplah jendela rapat-rapat dan melewati tanpa peduli.

Alangkah kagetnya kami berdua, decit goresan body mobil terasa sampai dalam kabin. Seperti besi ketemu besi digesekkan. Dalam hati saya, “Selamat, bro lu bakal mampir di bengkel repair mobil atau ketok magic deco setelah ini,”

Wajahnya pucat dan berkeringat. Sampai di tengah kota kami pun menepi di tempat nyaman. Dan bukan mimpi, baret panjang menari indah bergelombang dari body pintu depan sampai buritan. Mau apa lagi?

Terlepas siapa yang salah siapa yang benar, jika saja si dia, teman saya itu, menyediakan recehan di laci mobil dari awal untuk memberikan Pak Ogah dan sejenisnya, mungkin goresan itu tak akan ada. Gara-gara malas memberi dua ribu rupiah saja, teman saya malah harus keluar lebih dari dua ratus ribu rupiah untuk menghilangkan baretnya.

Guys, kita tak pernah tahu niat tulus seseorang. Tapi setiap orang pasti berharap mendapatkan bantuan. Payung hukum dan undang-undang gak berlaku pada tradisi-tradisi demikian. Terlebih pasar dan gang gang kecil. Jadi, apa salahnya jika kita niatkan beberapa rupiah sebagai sedekah untuk mereka.

Ayah Saya mengajari harus ada Recehan di Laci Mobil Kita

Saya ceritakan hal itu kepada ayah, dan dia berpesan, “Jangan sampai kau menyetir semaunya, berilah mereka sekadarnya. Mereka tak cari uang untuk kaya. Tapi sekadar untuk menyambung hidup, untuk makan sekali atau minum di warung.” saya pikir, itulah mengapa mesti ada recehan di laci mobil kita. Kita tak pernah tahu, dengan cara itu bisa menyambung hidup seseorang yang sedang kesusahan untuk sekadar makan siang.

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

Ananda Perdana Anwar

Lahir di Pelaihari, tinggal di Banjarbaru, suka jadi driver online, tapi lebih senang nulis curhatan penumpang. Nyambi jadi wartawan, dan alhamdulillah masih beriman.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin