fbpx
Cerita Pendek

Cerpen : Matinya Janji Manis

Usai sudah, Janji Manis, gadis cantik yang dipuja-puja itu, kini telah tiada. Dia mengembuskan napas terakhirnya pagi ini di rumah Pak Kepala Desa Harapan Maju, dengan tubuh yang mendadak menjadi kuning langsat, sedikit peluh nampak pada ujung hidung dan dahinya, wajahnya teduh dan menenangkan. Gadis berambut hitam jelaga itu mati dengan satu senyum yang begitu memesona, manis dan memabukkan, tubuhnya harum melati, semerbak berembus ke berbagai arah dalam radius yang amatlah jauh.
Kalau boleh protes, maka tentulah mereka, para warga Desa Harapan Maju itu, akan mengadakan protes kepada Tuhan bersama-sama dengan berbagai macam persembahan apa pun yang Dia inginkan. Mengapa Dia mematikan gadis itu? Mengapa harus secepat ini? Adakah Dia tak sayang kepada warga desa itu sehingga dengan begitu tega mematikan pelita di antara mereka?
Tapi, kata seorang lelaki yang telah berumur, umur tak ada yang tahu selain Tuhan. Dan tak ada pula yang bisa menghidupkan seseorang yang telah mati melainkan Tuhan.
“Tapi di antara kita jelas tak ada Tuhan, Pak!” kata Waluyo, dia merupakan lelaki jangkung berumur empat puluh enam tahun, punya lima anak dan satu istri—yang kini tengah mengandung anak keenamnya. Hidupnya, sebagaimana kebanyakan warga Desa Harapan Maju yang lain, hanya bergantung pada hasil tani belaka—dan miskin pula. Namun di atas itu, Janji Manis merupakan satu orang yang sangat berjasa buatnya dalam menjalani hidup yang demikian susah tersebut. Gadis itu menurutnya merupakan matahari saat siang, dan bulan saat malam datang. Ia begitu tertolong berkat gadis itu. Meski pun kenyataannya, gadis itu tak pernah menolong secara langsung kepadanya—juga kepada orang selainnya, dan bahkan menghabiskan hari-harinya hanya dalam kamar dan rumah belaka. Tapi sungguh, dia amat tertolong karena gadis itu, sebagaimana juga warga Desa Harapan Maju lainnya yang merasa amat sangat beruntung karena kedatangan seorang gadis cantik bermata salju tersebut.
Desa Harapan Maju terletak jauh di pojok negeri ini, terisolasi dari banyak orang dan jauh dari peradaban. Seorang dari mereka pernah berkata, bahwa jika di desa lain dunia telah sampai pada abad ke XXI, maka di desa itu barulah sampai pada pertengahan abad XX. Perumpamaan ini memanglah sangat keterlaluan, Desa Harapan Maju tentunya tak separah itu keadaannya. Hanya saja, desa ini juga tak maju—seperti namanya, maju hanyalah harapan yang tak kunjung selesai.
“Seharusnya kita ubah saja nama kampung ini menjadi Desa Maju, supaya maju tak hanya jadi harapan bagi kita!” kelakar satu pemuda yang punya tubuh krempeng dan mata nampak selalu lelah itu.
Semua obrolan yang tak ada syukurnya sama sekali itu tentu saja terjadi sebelum datangnya seorang gadis belia bermata indah, Janji Manis. Ya, Janji Manis. Namanya menjadi tenar bahkan tak lama setelah kehadirannya di desa itu. Ia datang dari desa lain yang jauh di sana, meninggalkan semua kesenangan yang dulu dia miliki untuk satu tujuan: membahagiakan warga Desa Harapan Maju.
Adalah Pak Kepala Desa yang kali pertama mendatangkannya. Itu terjadi lima tahun lalu, ketika Desa Harapan Maju telah benar-benar sekarat sebab tikus kurang ajar yang tak tahu adab datang menyerbu seluruh padi warga. Seluruhnya! Tikus-tikus itu datang bergerombol, menggerogoti batang-batang padi muda dan membikin Desa Harapan Maju gagal panen. Perekoniman sekarat. Banyak warga yang akhirnya mesti makan ubi-ubian, tanaman liar, atau bahkan jelatang yang gatalnya tak tertolong itu. Warung-warung mesti tutup, sebab tak ada pembeli yang mampu membeli dagangan mereka. Itulah saat-saat yang amat sangat memprihatinkan bagi desa itu. Banyak orang mulai sakit dan gila, bahkan tak sedikit yang mati kelaparan.
Hingga sampailah dalam satu musyawarah alot yang memuakkan, para warga berdebat tentang masalah ini. Ada yang mengatakan mereka telah kualat pada tikus, sebab sering kali petani membunuh tikus tanpa henti dan membakar mereka hidup-hidup. Satu yang lain menjawab bahwa tikus tak bikin kualat, tikus ya tikus, ia binatang, sama saja seperti babi, atau anjing.
“Yang bikin kualat itu Tuhan,” kata seorang dengan sorban yang melingkar besar di atas kepalanya, “coba diingat lagi, kapan kita salat berjamaah? Kapan masjid kita penuh saat Jumat tiba? Coba pikirkan!”
“Tapi Tuhan tidak makan padi, Pak!” kata seorang ibu, dia punya rambut yang seutuhnya menjadi putih, giginya kuning kemerahan karena kebiasaan mengunyah pinang yang tiada berkesudahan itu. “Jadi, mana mungkin Tuhan mengambil padi kita kalau Dia saja tidak makan padi?”
“Ya, memang, Tuhan tidak makan padi, Bu,” jawab orang itu, “tapi kita ini milik Dia, padi yang kita tanam itu juga milik Dia. Mungkin kita selama ini telah begitu abai dengan ajarannya, itulah mengapa dia mau menegur kita dengan membikin desa ini gagal panen.”
“Mengapa mesti lewat tikus Dia menegur kita? Bukannya Tuhan punya malaikat?”
“Bisa saja tikus itu adalah jelmaan dari malaikat,” jawab asal seorang peserta musyawarah.
“Masa iya tikus kurang ajar begitu jelmaan malaikat?” tanya ibu itu lagi.
“Siapa tahu?”
“Berarti dari sekarang kita harus memuliakan para tikus?”
“Ya! Kita harus memuliakan para tikus!”
“Kita juga harus berdoa pada Tuhan agar musibah ini dihilangkan!” Suara lelaki dengan sorban besar itu memecah keributan tak ada arti tersebut.
“Ya, kita harus sering-sering pergi ke surau dan masjid dari sekarang! Wajib!” titah Pak Kepala Desa menutup musyawarah itu.
Dimulai saat itulah akhirnya warga Desa Harapan Maju membikin rumah-rumah Tuhan ramai lagi, berdoa tiada henti pada malam dan siang. Sampai pada satu hari tak lama setelah taubat masal yang dilakukan warga desa itu, datanglah Pak Kepala Desa dengan satu orang anak berumur sepuluh tahun. Anak perempuan yang amboi cantiknya tak bisa dikalahkan bahkan jika seluruh kecantikan para wanita di desa itu disatukan. Matanya bulat dan jernih sejernih sungai tempo dulu, rambutnya hitam pekat, ikal bergelombang mengikat hati. Hidungnya mancung nampak seperti jelmaan orang-orang arab. Pipinya putih kemerahan, bergelembung penuh keajaiban. Warna kulitnya putih bersih. Dan cobalah untuk menyentuh kulitnya yang lembut itu, aduhai, lalat pun tak akan dapat hinggap di sana. Sungguh tak ada cela satu pun yang didapat dari anak perempuan itu.
Orang-orang kemudian mulai berdatangan ke rumah Pak Kepala Desa, bukan untuk sowan pada dirinya, melainkan untuk melihat penampakan bidadari itu. Sungguh benar, tiap kali mereka melihat anak perempuan itu, niscaya bertambah-tambahlah semangat mereka untuk menjalani kehidupan.
Pelan setelah kedatangan anak perempuan itu, Desa Harapan Maju mulai mendapatkan harapannya kembali untuk maju. Semangat untuk terus bekerja seakan terpompa setiap harinya oleh karena keberadaan anak perempuan tersebut. Di lain sisi, tempat-tempat ibadah pelan juga mulai ditinggalkan. Keberadaan Tuhan mulai tergantikan oleh satu orang anak perempuan yang amat sangat cantik itu: Janji Manis.
“Anak ini adalah anak turunan ningrat,” kata Pak Kepala Desa dulu pada kali pertama dia mengenalkan Janji Manis di hadapan warganya. Dia lalu menjelaskan bahwa anak itu merupakan keturunan ke empat dari Janji Manis I dari desa nun jauh di sana, orang-orang itu merupakan keluarga yang amatlah kaya. Rumahnya besar bak istana. Kendaraan sudah tak terhitung jumlahnya. Ke mana pun anak-cucu keturunan itu pergi, maka sungguhlah, tempat yang ia pijak itu akan makmur sentosa. Banyak menara-menara tinggi yang menjulang menembus langit di desa mereka, lanjut Pak Kepala Desa. Keluarga Manis ini merupakan tokoh dibalik suksesnya perekoniman desa-desa di negeri ini.
“Apa yang bisa dia lakukan? Apakah dia akan ikut saya membajak sawah?” tanya seorang warga.
“Dia akan duduk saja, di sini,” jawab Pak Kepala Desa dengan satu anggukan yang pasti, senyum mengambang dari wajahnya, senyum yang tulus sekali—seperti senyum orang yang dalam hidupnya seakan tak pernah melakukan dosa sama sekali.
“Duduk saja?”
“Ya!”
Warga saling melempar pandang, mata mereka saling tatap dan membagi kebingungan yang amatlah kurang ajar itu. Satu-dua orang menggaruk-garuk kepala, ada yang saling berbisik dengan teman duduknya:
“Masa iya dengan hanya duduk di sini, anak itu bisa membantu kita?”
“Bisa saja, mungkin Janji Manis keturunan bidadari.”
“Apakah bidadari kerjanya cuma duduk?”
“Aku ndak tahu, mungkin saja begitu.”
Sementara itu, Pak Kepala Desa, dengan begitu tega menggantung jawabannya, menyimpan bagian terbaik untuk akhir yang memuaskan. Ia senyum, senyum yang tak kalah kurang ajar dari kebingungan para warganya.
“Tenang, tenang!” kata lelaki dengan pipi serupa bakpao tersebut. ”Biar saya jelaskan dulu. Janji Manis memang hanya akan duduk di sini, dia tidak akan ikut pergi ke sawah atau ke kebun, dia hanya akan duduk santai di sini. Begitulah cara kerja Janji Manis, sebab dengan kedatangannya ke desa kita saja sudah merupakan berkah yang tiada terhitung! Paham?”
“Jadi, Janji Manis ini maksudnya akan menjadi semacam anak pembawa berkah buat kita, Pak?”
“Iya, betul!”
Itulah saat semua orang mulai tunduk dan hormat pada gadis itu, kendati memang pada kenyataannya tak banyak yang berubah setelah kedatangannya, tapi mereka peduli setan dengan hal itu. Pada setiap pagi mereka akan berangkat lebih dini—saat matahari bahkan belum nampak sama sekali, dan akan pulang saat gelap telah luruh menyentuh bumi. Suatu hari beberapa tahun yang akan datang, desa kita akan berkembang dan sangat maju, kata mereka. Warga amatlah sangat percaya kehadiran Janji Manis akan berdampak baik, sebagaimana semua itu terlihat di desa-desa lain.
Sementara itu, seiring waktu berlalu, Janji Manis tumbuh jadi anak gadis yang cantik jelita. Tubuhnya langsing berisi, matanya bersinar terang nampak seakan-akan bintang tertanam di dalam sana, hidungnya sungguh menggoda, tutur katanya lembut, dan suaranya merdu semerdu Nabi Daud dalam kisah-kisah klasik. Dan, oleh karena kecantikan yang tiada tertandingi itu, makin dicintai orang lah dirinya, dipuji seperti bidadari, dipuja bagai dewi.
Lima tahun berlalu, lima tahun! Dan semuanya sirna pada satu pagi yang brengsek, dengan tiba-tiba kabar kematiannya menyebar ke semua orang—diumumkan penuh tangis dan diterima dengan duka yang tiada tertangguhkan adanya.
“Akhir-akhir ini memang dia sedikit tidak sehat,” jelas Pak Kepala Desa. “Tubuhnya terasa panas dan matanya memerah.”
“Masa cuma karena begitu doang anak itu mati, Pak?” protes salah seorang warga dengan tangis yang membanjir.
Itulah saat akhirnya seorang lelaki tua, dengan sorban yang melingkar besar di kepalanya itu berkata, “Tak yang tahu umur seseorang selain Tuhan!”
“Bapak, kan, orang saleh, Bapak tolonglah hidupkan kembali si Janji Manis agar dia bisa memberi berkah lagi pada kampung kita!” pinta seorang warga bernama Waluyo. Warga yang lain turut mengiyakan.
Lelaki tua itu mengusap wajahnya dan berkata bahwa tak ada yang bisa menghidupkan selain Tuhan. Sementara Waluyo, seperti mana yang kita tahu, dengan emosi yang tiada tertahankan berkata bahwa tak ada seorang pun Tuhan di antara mereka.
“Itu artinya Janji Manis tak bisa untuk dihidupkan kembali!” tutup si lelaki tua.
Tentulah para warga gelisah bukan main karena hal itu, desa mereka belum juga berkembang pesat, kini mereka harus ditinggalkan satu-satunya harapan mereka—dewi keberuntungan mereka: Janji Manis. Kesedihan melanda, langit nampak muram, suasana desa hari itu sungguh amat sangat kelam adanya.
“Dia masih amat belia,” kata seorang kakek dengan air mata yang deras sekali turun melintasi pipi keriputnya.
“Ya, Tuhan tidak adil, seharusnya yang tua yang lebih dulu mati,” jawab seorang pemuda dengan kesedihan serupa.
“Tenang! Tenang!” suara Pak Kepala Desa menggema, terdengar tegar dan berwibawa. Para warga diam dan mengalihkan perhatian padanya.
“Mungkin memang hari ini Janji Manis, gadis yang amat sangat kita cintai ini, telah tiada. Tapi yakinlah, pada satu hari tak lama setelah hari yang menyedihkan ini, dari rahim wanita-wanita cantik keturunan ningrat yang kaya raya, akan lahir kembali Janji Manis-Janji Manis lainnya, harapan-harapan lainnya! Yakinlah! Dalam waktu yang tak lama, gadis itu akan datang ke desa kita, membawa berkah dan keuntungan yang besar untuk kita semua! Yakinlah!”
Sedemikian berwibawanya Pak Kepala Desa itu sehingga membikin semua warga bergeming mendengarnya.
“Ya, Pak Kepala Desa ada benarnya juga,” kata orang tua dengan sorban besar itu lagi. “Kendati Janji Manis telah benar-benar kita cintai, namun kita tahu bahwa tak ada orang mati yang bisa dihidupkan kembali. Jadi kita harus menerima semua ini dengan lapang dada, sambil berdoa dan berharap perkataan Pak Kepala Desa ada benarnya: suatu saat, Janji Manis-Janji Manis yang lain akan datang ke desa kita ini!”
“Aminnn..” sahut warga serentak, riuh gemuruh, tangis dan harapan menjadi satu kesatuan—mengambang di antara langit dan bumi.[]

Martapura|2018

*Cerpen ini pernah diterbitkan di Radar Banjarmasin pada tanggal 05 Agustus 2018

Temukan Artikel Menarik Lainnya Melalui Topik di Bawah Ini:
Teknologi | Otomotif | Politik | Olahraga | Kesehatan | Esai | Cinta | Sosok | Tips & Trik | Traveling | Ulasan | Cerpen | Games
Hubungi Admin Tandapetik.com