Cerita Pendek

Cerpen: Kontes Badut

Tidak ada yang tahu sejak kapan model kampanye semacam itu mulai diterapkan. Yang jelas, ketika tahun-tahun mendekati musim pilkada seperti sekarang, di kota itu akan berhambur badut-badut di sepanjang jalan hingga ke gang-gang sempit.

KETIKA Marsan akan berangkat pagi ini, pengeras suara miliknya tiba-tiba bertingkah. Lagu-lagu dangdut yang keluar dari alat pemutar musik itu hanya serupa dengung nyamuk yang tak jelas bunyinya. Marsan mengumpat. Sementara istrinya yang tak mengerti masalah alat elektronik memilih diam, ia hanya mendengarkan sumpah serapah suaminya pada alat itu sembari menyiapkan pakaian badut beruang untuk suaminya pergi kampanye hari ini.

Benar. Kau tak salah. Di kota tempat Marsan mencalonkan diri jadi pemimpin itu, para kandidat memang terbiasa kampanye dengan setelan badut dan bertingkah sekonyol-konyolnya untuk menarik hati masyarakat. Para legislatif itu akan memakai kostum-kostum badut dengan warna yang sesuai dengan partai mereka, Marsan sendiri memilih beruang karena warna kebesaran partainya memang sepadan dengan warna binatang itu.

Di sana mereka tak membutuhkan strategi politik yang berat seperti isu agama atau golongan, apalagi isu komunis dan liberalis. Di kota itu, pemenang ditentukan oleh siapa yang menurut masyarakat paling kocak dan bisa menghadirkan tawa bagi mereka.

Tidak ada yang tahu sejak kapan model kampanye semacam itu mulai diterapkan. Yang jelas, ketika tahun-tahun mendekati musim pilkada seperti sekarang, di kota itu akan berhambur badut-badut di sepanjang jalan hingga ke gang-gang sempit. Bagi sebagian orang yang baru pertama kali datang ke kota itu, hal semacam itu barangkali terlihat lucu dan aneh. Mengapa badut bisa memenuhi kota yang katanya sudah maju? Apakah sekarang sedang musim badut? Barangkali begitu pertanyaan mereka.

Tapi begitulah adanya, di kota itu, para calon pemimpin memang terbiasa memakai topeng yang lucu-lucu untuk memikat hati calon pemilihnya.

“Keparat!” sumpah Marsan untuk kesekian kalinya sambil mengutak-atik alat pemutar musik.

“Sudah,” sahut istrinya, “tidak perlu pakai musik hari ini, kau cukup bertingkah konyol saja.”

“Mana mungkin begitu,” sahut Marsan acuh.

“Ini sudah terlalu siang, dan masyarakat itu butuh hiburan. Kalau kau terlalu lambat, mereka bisa beralih dukungan.”

“Aku yakin menang dalam pilkada kali ini.”

“Dipemilihan sebelumnya kau juga berkata begitu,” balas istrinya dan suaminya diam untuk sementara waktu.

Sebelum ini, Marsan memang tercatat dua kali pernah mengikuti kontes politik serupa. Semuanya gagal. Menurutnya, kegagalan itu karena lawan politiknya bermain curang. Si pemenang itu, kata Marsan dulu, dia menggunakan trik kampanye ala-ala orang Jakarta. Dia menyuap para pemilih dengan uang dan menggunakan isu agama secara diam-diam untuk menghasut masyarakat. Tentu orang-orang tak ada yang setuju dengan pendapat Marsan, bahkan istrinya sendiri pun tidak percaya.

“Di kota ini, apa gunanya politik uang?” kata seseorang meremehkan pendapat sesat milik Marsan.

“Ya, apa gunanya Marsan? Semua orang di kota ini telah sukses dan hidup kaya!” kata yang lain. Dia kemudian melanjutkan, bahwa sesungguhnya masyarakat tidak menginkan uang sama sekali, jadi mana mungkin menggunakan politik uang macam begitu bisa mempengaruhi pemilih.

“Akui saja kekalahanmu, Marsan!” desak orang-orang itu.

“Dia memakai isu agama!” balas Marsan, tetap keras kepala.

“Jadi kau pikir orang-orang di kota ini masih punya agama?”

Marsan terdiam. Mukanya terlihat masam, dia sendiri sepenuhnya sadar bahwa isu-isu seperti itu memang tak lagi mempan di kota tempat tinggalnya. Semua orang sudah kaya dan kehilangan agama. Satu-satunya yang masyarakat butuhkan adalah kebahagian. Mereka butuh tertawa di tengah kesibukan bekerja yang luar biasa. Itulah mengapa setiap kali pentas politik semacam ini di kota berhamburan para badut. Mereka orasi juga, sejujurnya, namun dengan cara yang berbeda dari biasanya. Mereka berupaya lucu dan membuat masyarakat tertawa agar jatuh hati dengan mereka.

Dan tawa, adalah sesuatu yang langka di kota mereka.

“Tapi kali ini, aku yakin benar, aku bakal menang mutlak!” kata Marsan pada perempuan yang dikawininya dua puluh tahun lalu itu.

Marsan seharusnya sudah berangkat kampanye sejak satu jam lalu. Namun rupanya ia amat sial hari ini, selain pemutar musiknya rusak, pakaian badut miliknya juga masih belum kering sepenuhnya. Sementara itu waktu terus berjalan, para kandidat lain sudah pasti telah berada di tempat kampanye mereka masing-masing. Marsan jengkel bukan main.

“Apa yang membuatmu begitu yakin?” tanya istrinya lagi seraya memberikan kopi pada Marsan.

“Apa kau tidak lihat bagaimana lawan politikku kali ini?” Marsan berhenti sebentar untuk meminum kopi, “semuanya payah!”

Dia kembali mengutak-atik pengeras suara yang baru saja dibelinya seminggu lalu itu. Pengeras suara milik Marsan adalah satu yang paling mewah, lawan-lawan politiknya cuma memakai pengeras suara kecil yang digantungkan di leher. Tapi punya Marsan tidak bisa begitu, ia punya gerobak kecilnya sendiri. Biasanya, ia akan mendorong sendiri gerobak tersebut menuju tempat kampanye. Di kota itu, para kandidat politik memang tak memakai jasa sukarelawan yang bejibun untuk membantu mensukseskan pencalonannya. Sebab di kota itu sendiri, segala sesuatu memang tak bisa lagi disogok dengan uang. Semua orang tak lagi membutuhkan uang. Itulah yang kemudian membuat sukarelawan susah dicari. Tak ada orang yang cari muka. Tak ada orang yang membutuhkan uang pilkada.

Marsan lanjut memaparkan alasannya mengapa ia yakin betul menang dalam pilkada kali ini pada istrinya. Menurutnya, lawan politiknya kali ini banyak yang tidak paham dengan trik politik di kota mereka sendiri. Mereka orang-orang yang dididik dalam kelas, ilmu politik mereka begitu-begitu saja. Sedang politik di kota itu tidak bisa disamakan dengan politik yang begitu ribet.

Lawan-lawan politiknya, karena barangkali ikut-ikutan dengan politik Jakarta akhir-akhir ini, sejak beberapa bulan lalu telah menjejerkan spanduk-spanduk bertuliskan nama dan foto mereka yang terpampang dengan wajah senyum semringah. Wajah-wajah yang amat bahagia. Di sepanjang jalan berbaris bendera partai macam pelangi saja. Sedangkan di kostum badut mereka terpampang identitas agama mereka, ras mereka, ayat-ayat dari kitab suci agama masing-masing mereka tuliskan di bendera dan pakaian badut itu, mereka bertingkah seolah pilkada kali ini adalah pilkada suatu agama atau golongan tertentu.

Marsan tertawa sebentar. Ia memang telah insaf dengan isu-isu agama seperti itu, maka dari itulah dalam kontestasi politik kali ini, ia memilih untuk tidak memakai embel-embel agama sedikit pun.

Lelaki paruh baya itu melanjutkan kisahnnya pada sang istri, bahwa di perbatasan kota sana, terpampang spanduk bertuliskan visi-misi mereka. Saya berjanji akan mensejahterkan kota kita! Salah satunya tertulis begitu.

“Sejahtera?” tanya Marsan lebih kepada menertawakan lawan politiknya. “Orang-orang itu mana butuh sejahtera? Ini bukan Jakarta, Bung. Di sini tidak ada yang namanya gelandangan dan fakir miskin. Semua orang telah sejahtera!”

Mendengar itu, istrinya cuma senyum-senyum saja. Dalam hatinya, istrinya merasa beruntung sebab semangat juang yang dimiliki suaminya belum juga luntur seperti mana lawan-lawan politiknya dulu yang ketika kalah langsung stres.

Benar. Walau pun kontestasi politik di kota itu terbilang aneh. Tapi, sama seperti orang-orang yang kalah dalam pilkada di daerah lain, mereka juga bisa stres kalau tak terpilih. Lihat saja dalam kontes politik lima tahun lalu di kota itu, ada lima belas kandidat calon pemimpin yang yakin betul akan menang. Setelah pemungutan suara selesai dan diketahui siapa pemenangnya, semua orang yang kalah langsung stres dan beberapa yang lain bahkan jadi gila. Tapi tidak dengan Marsan. Ia tetap ngotot dan yakin suatu saat ia akan jadi pemimpin kota itu.

“Ini hanya masalah waktu,” katanya dulu penuh kesabaran.

Dalam musim badut kali ini, kontestasi politik rupanya masih menjadi hal yang amat menarik bagi sebagian orang yang gila pangkat macam Marsan. Sebab, bukannya berkurang, kandidat tahun ini justru lebih banyak dari lima tahun lalu, yang sebelumnya lima belas, tahun sekarang justru bertambah menjadi dua puluh. Gila bukan? Mengapa begitu banyak orang yang ingin berpolitik di kota yang tak ada fakir miskin itu?

“Kita memang sudah kaya,” kata Marsan menjawab pertanyaan itu suatu hari, “tapi itu belum cukup! Kita harus terus menambah pundi-pundi kekayaan kita!”

Begitulah barangkali isi semua otak kedua puluh calon kandidat pemimpin kota itu; kekayaan yang mereka miliki sekarang belum cukup benar untuk mengarungi hidup membosankan di kota tak bahagia itu.

“Jangan terlalu yakin dulu,” istrinya mengingatkan.

“Mengapa tidak?” Marsan keheranan. Ia merasa yakin betul bahwa kali ini adalah gilirannya untuk menang.

Marsan kembali meyakinkan istrinya agar tidak pesimis terhadap kemenangan yang sebentar lagi didapat suaminya. Memang betul mereka itu terpelajar, tetapi aku lebih senior. Sadarilah itu. Mereka semua cuma tahu teori!

Dan aku yakin, lanjut Marsan, mereka semua itu sebetulnya juga takut kalah dariku. Sebab, masa iya, mereka sekarang mulai memakai strategi politik kampungan dengan cara berkoalisi satu sama lain, kemarin kulihat dari partai kuning dan biru tiba-tiba saja bersatu, kandidat mereka kampanye dengan kostum Upin Ipin yang cebol itu. Bukankah itu tanda bahwa lawan-lawanku pun sadar akan kekuatan politikku?

“Lantas, mengapa kau yang sejatinya adalah istriku tak jua menyadari hal itu?”

“Bukan begitu,” jawab istrinya, “aku cuma tak ingin kau jadi gila jika kali ini kalah lagi.”

“Ah, sudahlah! Kita lihat saja nanti hasilnya,” tutup Marsan, kesal.

Alat pengeras suara itu akhirnya bisa beroperasi seperti sediakala setelah hampir dua jam diutak-atik oleh Marsan. Baju kampanye juga telah siap. Ia hirup kopinya sebentar sebelum menutup kepalanya dengan topeng beruang yang pengap.

Ia berjalan seorang diri ke tempat kampanyenya kali ini. Tempatnya sendiri berada di pintu masuk mall terbesar kota itu. Di sepanjang jalan menuju tempat kampanyenya, Marsan banyak mendapati lawan politiknya sudah lebih dulu melakukan kekonyolan di hadapan masyarakat.

Sampai di tempat, Marsan membuka topengnya sebentar dan menarik nafas panjang sekali. Ia nyalakan lagu dangdut yang tak pernah ia sukai. Dan mulailah ia berjoget serta bertingkah konyol demi mencari perhatian calon pemilih.

Sementara itu, tak lama setelah masyarakat berkumpul di sekitar Marsan demi menyaksikan calon pemimpin mereka bertingkah konyol, di dalam topeng peluh lelaki paruh baya itu mulai menetes, bau apek topeng yang ia kenakan begitu kurang ajar menerobos masuk ke hidungnya. Dalam hatinya, Marsan sudah tak sabar menunggu waktu untuk melepaskan topeng itu dan menikmati kursi yang selama ini ia idam-idamkan.[]

Banjarbaru/19/04/18

Karya: Rafii Syihab

*Cerpen ini pernah terbit di Radar Banjarmasin pada 29 April 2018

 

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

Rafii Syihab

Mahasiswa biasa yang punya cita-cita jadi manusia.

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin