Kenapa Kampanye Politik dianggap Pembodohan Kepada Masyarakat?

Kenapa Kampanye Politik dianggap Pembodohan Kepada Masyarakat?

TandaPetik.Com – Di antara sebelas tahapan pemilu, tahapan kampanye lah yang kiranya paling penting, sebab tanpa kampanye, semuanya akan jadi sia-sia. Tak kenal maka tak sayang, kata orang, dan kampanye adalah tahapan perkenalan para calon legislatif. Dengan harapan jika dikenal, mereka akan memilih calon tersebut. Kata siapa?

Bukan rahasia umum saya kira bahwa tahapan kampanye dewasa ini dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Mereka menganggap pemilu hanyalah sebuah rutinitas yang tiada guna, tempat menebar segala dusta yang sah. Janji-janji palsu, harapan yang menggebu, keinginan untuk maju, lempar sana lempar sini. Ya ampun, segitunya. Woi…pemilu itu penting. Kalau pemilu ditiadakan, kasihan para tim sukses tidak punya pekerjaan.

Baiklah. Jadi pemilu itu tidak penting, karena metode kampanye seringkali dianggap hanya menebar dusta, begitukan premisnya? Supaya terkesan akademis, bukti dan fakta disodorkan bahwa partisipasi masyarakat dalam memilih, bahkan dalam konteks pilkada, di beberapa daerah, suara golput justru lebih besar dari suara kemenangan calon terpilih.

Alasan tersebut, sekali lagi saya tekankan, saya sepaham jika kita telah kecewa dengan segala janji palsu. Tidak semua yang dijanjikan dipenuhi ketika si calon sudah menjabat. Lantas kenapa sampean tidak mikir? Saya loh, goblok-goblok begini mau pura-pura mikir.

Sebenarnya, ingkar janji dalam politik bukan hanya terjadi di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Susan C. Stokes (2001), seorang guru besar Ilmu Politik Universitas Chicago terhadap 44 kasus pemilihan presiden di 15 Negara Amerika Latin selama kurun waktu 1982-1995 menunjukkan adanya kecenderungan pengingkaran yang cukup tinggi atas janji-janji kampanye.

Namun demikian, banyaknya janji-janji palsu dalam kampanye bukan berarti kampanye dalam politik tidak penting. Politik tanpa janji adalah politik yang buruk (Paul B. Kleden: 2013)

Nah, soal janji dalam berkampanye itu sudah ada yang meneliti. Jadi, kalau ada yang menebar janji manis, itu wajar. Makanya sampean wajib mikir, dikaji kembali, direnungkan, masuk akal tidak. Kalau akal sampean gak kuat, coba dikasih jamu atau diupgrade. Alternatif lain, baca artikel ini sampai tuntas, siapa tahu kadar pemikiran sampean naik 0.00001 persen. Lumayan kan?

Begini, dalam kampanye, ada sebuah formula yang umum dilakukan. Kalau mengerti hal ini, saya jamin sampean akan mesem-mesem sendiri ketika ada orang berkampanye. Bisa mengetahui mana yang realistis dan mana yang janji manis.

Post truth lah jawabannya. Post truth!

Dalam Kamus Oxford, post truth diartikan sebagai situasi di mana keyakinan dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan fakta. Maksudnya, hal-hal yang bersinggungan dengan keyakinan akan lebih mudah memengaruhi orang ketimbang fakta yang ada. Begitu.

Contoh kecilnya adalah apa yang terjadi belakangan ini, pada pemilihan presiden kita, kenapa hal-hal yang bersinggungan dengan agama lebih menarik minat masyarakat dibanding dengan data-data asli.

Si calon A beragama ini, si calon B tidak bisa baca Alqur’an. Atau, si calon A punya anak begini dan yang B punya anak begitu. Itulah post truth, masyarakat lebih peduli pada hal-hal yang menjurus kepada keyakinan dan kepentingan pribadi mereka.

Tugas dan fungsi kampanye memang harus seperti itu agar tidak mandul. Mereka perlu suara yang buanyak. Mereka butuh dukungan. Buat apa kampanye kalau tidak bisa memengaruhi pikiran orang lain? Buat apa punya tim sukses kalau ujung-ujungnya cuma nyuruh pasang baliho. Buat apa? Buat apa? Apa boleh buat, demi kemenangan, harus berjanji!

Bagi kelompok politikus, strategi post truth tergolong jenis kampanye cerdas! Persoalannya sekarang, kita-kita ini cerdas tidak?

Halah, giliran saya serius, sampean kok malah tidur. Bubar..! Bubar…!