Ulasan

Jangan Diributkan Lagi, Ratna Sarumpaet Sudah Meminta Maaf Atas Kebohongannya

TandaPetik.Com – Terjawab sudah! Keragu-raguan beberapa pihak atas beredarnya informasi Ratna Sarumpaet dianiaya hingga penuh lebam hanyalah serupa kisah fiksi. Lebam di wajah Ratna Sarumpaet bukan karena penganiayaan, tapi dampak dari sedot lemak di pipi kanan-kiri yang dilakukan oleh ahli bedah plastik, Sidik Mihardja.

Keterangan tersebut disampaikan langsung Ratna Sarumpaet dalam jumpa pers di kediamannnya di kawasan Kampung Melayu Kecil V, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (3/10/2018).

Seperti dilansir Kompas.com, berikut pernyataan Ratna Sarumpaet:

“Bahwa betul saya ada di dokter Sidik pada hari itu, dan ketika saya dijadwalkan pulang, lebam-lebam di muka saya masih ada, seperti ada kebodohan yang saya enggak pernah bayangkan bisa saya lakukan dalam hidup saya. Saya pulang seperti membutuhkan alasan pada anak saya di rumah, kenapa muka saya lebam-lebam dan memang saya ditanya kenapa, dan saya jawab dipukul orang.

Jawaban pendek itu dalam satu minggu ke depannya akan terus dikorek, namanya juga anak lihat muka ibunya lebam-lebam kenapa, dan saya enggak tahu kenapa dan saya enggak pernah membayangkan terjebak dalam kebodohan seperti ini, saya terus mengembangkan ide pemukulan itu dengan beberapa cerita seperti yang diceritakan. Ada kebenarannya dengan apa yang saya katakan kepada anak-anak saya. Jadi selama seminggu lebih cerita itu hanya berputar-putar di keluarga saya dan hanya untuk kepentingan saya berhadapan dengan anak anak saya, tidak ada hubungannya dengan politik, tidak ada hubungannya untuk luar.

Tapi setelah sakit di kepala saya mereda dan saya mulai berhubungan dengan pihak luar, saya enggak tahu bagaimana saya memaafkan ini kelak, kepada diri saya, tapi saya kembali dengan kesalahan itu bahwa saya dipukuli. Jangan dikira saya mencari pembenaran, enggak, ini salah. Apa yang saya lakukan sesuatu yang salah. Ketika sampai ketemu Fadli Zon datang ke sini, cerita itu yang sampai ke dia. Iqbal saya panggil ke sini, cerita itu juga yang berkembang dalam percakapan.

Dan hari Selasa, tahu-tahu foto saya sudah beredar di seluruh media sosial, saya enggak sanggup baca itu, ada beberapa peristiwa yang membawa saya ke Pak Djoksan (Djoko Santoso), membawa saya ke Pak Prabowo, bahkan di depan Pak Prabowo, orang yang saya perjuangkan, orang yang saya cita-citakan memimpin bangsa ini ke depan, mengorek apa yang terjadi pada saya, saya juga masih melakukan kebojongan itu, sampai kita keluar dari lapangan polo kemarin, saya tetap diam, saya biarkan semua bergulir dengan cerita itu.

(Di) lapangan polo, saya merasa betul ini salah. Waktu saya berpisah dengan Pak Prabowo, Amien Rais, saya tahu dalam hati ini saya salah, tetapi saya enggak mencegat mereka, itu yang terjadi.

Jadi tidak ada penganiayaan, itu hanya cerita khayal entah diberikan oleh setan mana ke saya, dan berkembang seperti itu. Saya tidak sanggup melihat bagaimana Pak Prabowo membela saya dalam sebuah jumpa pers, saya enggak sanggup melihat sahabat-sahabat saya membela saya dalam pertemuan yang digelar di Cikini. Saya shalat malam tadi malam berulang kali dan tadi pagi saya mengatakan kepada diri saya, setop. Saya panggil anak-anak saya, saya minta maaf kepada anak-anak saya, saya meminta maaf kepada orang-orang yang membantu saya di rumah ini yang selama sekian hari ini saya selalu bohongi.

Bohong itu perbuatan yang salah dan saya tidak punya jawaban bagaimana mengatasi kebohongan kecuali mengakui dan memperbaikinya. Mudah-mudahan dengan itu, semua pihak yang terdampak dengan perbuatan saya ini mau menerima bahwa saya hanya manusia biasa, perempuan yang dikagumi banyak orang itu juga bisa tergelincir, untuk itu melalui forum ini juga saya dengan sangat memohon maaf kepada Pak Prabowo terutama, kepada Pak Prabowo Subianto yang kemarin dengan tulus membela saya, membela kebohongan yang saya buat….”

Nah, terkait kejujuran yang diungkapkan Ratna Sarumpaet tersebut, saya pribadi menyarankan untuk segera menyudahi perseteruan yang sudah terlanjur diseret menjadi komoditas politik. Sebuah kondisi memanfaatkan cerita bohong Ratna Sarumpaet untuk menjatuhkan pihak-pihak lawan politik.

Terlanjur Basah. Bohong dan Jujur, Tetap Menjadi Komoditas Politik

Meski sudah membuat pengakuan, karena sejak awal beberapa pihak telah menjadikan (ternyata) cerita bohong menjadi komoditas politik untuk menyerang lawan-lawan mereka, maka pengakuan jujur Ratna Sarumpaet pun bisa diprediksi akan menjadi komoditas politik balasan oleh mereka yang terlanjur telah diserang. Dengan kata lain, berbohong, dijadikan komoditas politik. Jujur, tetap menjadi komoditas politik oleh pihak lain.

Kalau sudah demikian yang terjadi, maka panasnya suhu politik di Indonesia akan mampu menembus kulit dan terasa hingga ke tulang sum-sum’.

Menyikapi hal tersebut, selaku penulis saya hanya akan mengatakan, “Biar saja para elit politik saling serang, kita sebagai rakyat jelata jangan mau dijadikan korban. Bagaimanapun, itu bukan pertarungan kita, bukan pertarungan kalian, mungkin. Lebih baik bersedekah untuk membantu saudara kita di Palu-Donggala.”

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

harie insani putra

Penulis kambuhan. Kadang menulis dengan jurus mabuk.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin