Esai

Hery Sasmita: Doa Yang Terkabulkan!

 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة 186)

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu.” (Al-Baqarah: 186).

TandaPetik.Com – Saya berlindung dari piciknya hasutan syaitan dan saya sertakan menyebut nama Tuhan sekalian alam, di awal dan di penghabisan, pengasih lagi begitu penyayang. Perkenalkan nama saya Ananda. Tapi itu tidak penting. Saya perkenalkan Hery Sasmita (HS), justru anda semua tampak sudah mengenalnya. Dan setelahnya, pelajaran apa yang bisa kita petik manisnya ujian dari kasus yang menimpa (HS)? Loh, anda kok belum tahu dia? Kemana aja, sanak!

Fragmen kalimat tanya? Ikam Kada Tahu Kah Lawan Aku? Atau yang kurang lebih maknanya sama, menjadi kalimat permintaan (doa), permohonan, boleh jadi mengunjam kepada makhluk, boleh pula meroket ke hadirat sang khalik. Ditambah lagi makam para aulia Allah termasuk satu dari sekian banyak tempat mustajab untuk berdoa. Untuk mereka yang percaya. Hukumnya mubah. Do you know me! Menjadi kalimat dahsyat dengan segala sir azza wa jalla di dalamnya, yang (bisa jadi) menjadi asbab dikabulkannya suatu doa. Dan, sekarang, banyak orang sudah tahu dengan dirinya (Hery Sasmita). Doanya pun terkabul!

Hery Sasmita, dalam kasus ini, dikenalkan Tuhan melalui lisan Haji Jainuri yang menegurnya. DisentuhNya sedikit rongga Ego dalam kalbu untuk menampakkan af’alNya, lantas menzohirkan siapa kekasiNya? Siapa sebenarnya Dia? Saya (mungkin sebagian dari kita) hanya mengenal yang bersangkutan dari informasi yang diberitakan sahaja. Gak lebih dari pihak keluarga dan lingkungan sedekat urat leher.

Saya tidak ingin memihak pada bagian mana tulisan ini ditempatkan, saya serahkan kepada anda para pembaca. Akhlak yang bobrok, begitu cepat melesat bagai kilat ketika ditampakkan di media sosial. Baca juga celoteh saya soal pelajaran yang bisa diambil dari kasus penusukan di AZ.

Belasan ribu netizen yang bersumpah serapah di media sosial melampiaskan kebencian yang patut diapresiasi, maambilakan hati. Meski, ada sedikit ketidakpahaman soal UU ITE di sana. Tapi no problem, no report, no banned. Justru kita (atau saya saja, deh) sebagai makhluk yang berpikirnya terlalu cetek.

Saya pernah bilang, tepatnya nyetatus di dinding fb berbunyi, habis Zohri/Fauzan Effect, terbitlah Sasmita Effect! Apa? Efek apa yang terjadi? Efek yang justru bisa menjadi keberkahan dan ketidaktahuan kita akan kejadian yang sebenarnya? Lantas apa yang bisa kita ambil dari kasus ini?

Pelajaran dari Kasus Hery Sasmita

Sebagian maha benar netizen dengan segala komentarnya memang tidak tahu, mungkin HS sedang mengalami problema rumah tangga yang alot, atau persoalan kantor yang ruwet. Siapa yang menyangka, HS  bersangkutan justru sudah ziarah pra peristiwa, bisa tiga hari sebelumnya, bisa seminggu sebelumnya. Hanya saja, di hari H, dia terburu-buru. Namanya juga siapa sangka? ya siapa tahu!

Persoalan keluarga kadang tak cukup selesai dibicarakan lewat telepon semata, dihadirkanlah suatu masalah yang menjadi magnet silaturahmi antar pihak keluarga dan zurriyat yang bersangkutan. Ada musyawarah di sana, tawa canda, berbagi rasa, cerita, dan pikiran.

Yang terpenting, pihak keluarga yang tadinya terpecah-belah (perabotan, keles) karena urusan tanah, harta waris, atau pemeliharaan kubah, bersatu untuk sama-sama mengawal keluarga yang tetimpa musibah, untuk diberikan kemudahan dan menjadi berkah. Berkah itu penting lho. Melebihi pentingnya hitungan angka dan jumlah-menjumlah.

Di sudut rumah, Kai Jainuri banyak mendapatkan rasa belasungkawa. Banyak yang datang dari kalangan terbawah hingga masyarakat teratas dengan banyak sekali hadiah-hadiah. Kai jadi terbantu, terhargai, dan bisa sedikit sumringah karena hadiah-hadiah yang tak disangka-sangka datang dari berbagai arah.

Kedua, pelaksanaan haul setelah beberapa hari kejadian di makam Syekh Abdussamad pun semakin ramai. Banyak dihadiri jamaah bahkan dari yang terjauh perbatasan Sabah. Yang tidak tahu di mana lokasi makamnya jadi tahu, kan nyariin sekalian ziarah ngambil barokah, tuh.

Para habaib, ulama, umara menyatukan suara untuk mengawal kasus ke ranah yang lebih bersahaja. Bahkan kabarnya, mau memakai anak buahnya Yusril Ihza Mahendra untuk jadi pengacara. Jadi, mending diamankan dulu, daripada diamuk masa, kan, ya?

Okelah, ketika tulisan ini ditayangkan, kabar terakhirnya HS sudah ditangkap saat  perjalanan menuju Gampa. Atau lebih persisnya diamankan pihak kepolisian guna pemeriksaan. Siapa tahu bisa sampai ke ranah peradilan yang lebih beretika untuk penyelesaian. Kita tunggu saja dengan sabar. Perilaku sikap menyikapi dalam persoalan yang sedang dihadapkan bisa menjadi tangga loncatan diri untuk mendewasakan pemikiran.

Setelahnya, anda simpulkan sendiri saja lah. Pada bagian mana lagi, efek keberkahan terjadi, boleh berdasarkan pantauan anda melalui media sosial semata atau dari sejumlah portal berita yang, dewasa ini jumlah viewnya justru makin bertambah naik, berkat HS, kan, ya? Kita kada tahu, kalu pina sidin wali!

Kemampuan sebagian kita yang gemar beretorika dalam logika justru menampilkan jurus kebenaran, yang terkadang minim dibarengi dengan pengetahuan. Sampai pada bagian ini, saya mengambil Riyadushalihin Imam Nawawi yang pernah mengqobiltukan ijaztukum Guru Syansuri dalam Mushalla Al Jamaah Pasayangan di Sabtu malam. Sebuah hadist Qudsyi bermakna Aku di sisi prasangka hambaku.

Maka saya asumsikan tulisan hanya pengamalan apa yang pernah saya tuntut di waktu malam. Saya hanya berusaha untuk berprasangka yang baik-baik saja. Agar tidak sendirian, saya tuliskan berserta niatan mengajak kawan-kawan berpikiran dan berprasangka yang senada. Legenda bilang, Satu peluru bisa saja menembus satu kepala. Tapi satu tulisan, mampu menembus sepuluh ribu kepala.

Wallahualam.

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

Ananda Perdana Anwar

Lahir di Pelaihari, tinggal di Banjarbaru, suka jadi driver online, tapi lebih senang nulis curhatan penumpang. Nyambi jadi wartawan, dan alhamdulillah masih beriman.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin