Esai

Harga Pengalaman dari Pentol Bakar

TandaPetik.Com – Mencari pengalaman dari berdagang pentol bakar. Kata orang, pengalaman itu berharga. Kalau ditanyakan berapa harga sebuah pengalaman, siapa yang bisa jawab? sama halnya dengan pertanyaan, berapa biaya atau modal untuk bisa mendapatkan pengalaman? Untuk pertanyaan kedua, masih bisa dicarikan jawabannya, relatif mudah ketimbang menjawab pertanyaan pertama.

Suatu sore, untuk mengusir ketegangan usai beraktifitas, saya singgah di sebuah kedai angkringan di jalan Panglima Batur, Kota Banjarbaru. Karena niatnya hanya untuk bersantai, apapun menunya, yang penting bisa santai. Bersama tiga orang teman, kami mulai memesan makanan dan minuman yang belakangan kemudian saya ketahui para penjualnya adalah para mahasiswa (i). Usia mereka cukup ranum, masih segar-segarnya.

Singkat cerita, mereka sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL). Berhubung saya tipikalnya cerewet, mulut dan pikiran saya pun saling silang sengkarut. Contoh kecerewetan saya sebagai berikut:

Mahasiswa dan Keilmuan Pentol Bakar

Mahasiswa kok PKL dagang level bawah? Maksud saya begini. Kalau PKL jual pentol bakar, kopi sachet dan nasi uduk itu hal biasa, bisa dilakukan anak-anak magang level SMK. Bahkan, tidak sekolah pun, asal mengerti matematika dasar bisa kok dagang seperti mereka. Tidak harus kuliah! Banyak pedagang di luar sana yang basic pendidikannya tidak lulus SD, atau hanya sampai tamat SMP sudah berjibaku lebih dulu dengan dunia dagang pentol bakar atau pentol goreng.

Tulisan ini bukan untuk merendahkan sebuah profesi, pekerjaan atau aktifitas dunia usaha. Tapi lebih pada jenjang keilmuan. Dalam hal ini, mahasiswa yang melakoni praktek kerja lapangan dengan berjualan pentol bakar.

Masih ada bermacam pertanyaan menggelumbung di kepala saya. Kalau seandainya tujuan mereka hanya untuk mempraktekkan ilmu akuntansi, mencatat transaksi keuangan secara sistematis dan komprehensif, dimana poin pentingnya? Bukankah mereka bisa magang di sebuah perusahaan? Di hotel misalnya, rumah makan, dan lain-lain.

Jika memang yang diperlukan adalah pembelajaran mulai dari level bawah, mereka bisa saja melibatkan diri bersama-sama dengan para pedagang pentol bakar. Para mahasiswa memosisikan diri sebagai pencatat keuangan, bahkan mengajarkan bagaimana sepatutnya transaksi dibukukan untuk mengetahui untung dan rugi. Jika perlu, tunjukan kehebatan seorang mahasiswa dengan memberikan analisa sampai sejauh mana usaha pentol bakar akan bertahan, atau mengajarkan strategi marketing yang jos gandos. Saya rasa, secara keilmuan, cara ini akan memberikan manfaat lebih. Menyalurkan pengetahuan untuk diajarkan kepada orang lain, dan tentu saja untuk mendapatkan pengalaman secara pribadi.

Kompetensi Pentol Bakar

Pemahaman dan pendapat saya mungkin saja salah. Tapi dengan menerjunkan para mahasiswa untuk praktek jual pentol bakar bukan hal yang kompeten untuk para mahasiswa yang secara keilmuan seharusnya di atas rata-rata. Kalau fokusnya di ranah marketing, tak ada bedanya dengan para pedagang pentol bakar di luar sana. Tidak ada yang baru, tidak ada yang spesial with your knowledge. Cuma sebatas buka lapak, bagi yang mau, tak harus kuliah pun bisa.

Secara sederhana, saya memahami ilmu marketing adalah sebuah keilmuan khusus untuk menyiapkan strategi memasarkan sebuah produk agar diterima dan sampai ke tangan konsumen. Ilustrasi sederhananya begini. Anggap saya berjualan pentol bakar. Maka saya akan menyiapkan berbagai strategi agar orang-orang berdatangan ke lapak untuk membeli pentol bakar. Bukan pada proses transaksinya. Tapi bagaimana mengajak/mendatangkan orang untuk membeli.Di situlah kelimuannya.

Jika memang memiliki atau mengajarkan ilmu marketing yang hebat, cobalah tidak memilih produk yang sedang booming, sudah laku di pasaran. Produk pentol bakar sudah lama menjamur di Kota Banjarbaru. Kalau mengekor produk serupa, sialnya tanpa sentuhan kreatif, dimana ilmu marketingnya? Jangan-jangan Anda tidak diajarkan teknik marketing kekinian untuk menghadapi perubahan zaman yang sangat dinamis.

Pentol Bakar dan Pengalaman

Sengaja saya menulis ini sekadar untuk melepas rasa penat saja. Jangan terhasut dengan tulisan ini, siapa tahu maksud dan tujuan PKL di atas berbeda. Kalau ingin melihat dari sisi lain, walau terkesan biasa-biasa saja, di sini tetap ada pembelajaran positif yang bisa didapatkan para mahasiswa.

Kalau biasanya mereka asyik nongkrong, bermalas-malasan, sibuk main game online atau pacaran, justru dengan adanya PKL semacam di atas, akhirnya mereka fokus belajar sambil mencari pengalaman berdagang. Di situ mereka bisa belajar ilmu memasak yang enak. Para mahasiswa itu bisa belajar mengambil hikmah, merasakan suka-duka yang dialami para pedagang pentol bakar. Mereka bisa belajar menghadapi pembeli yang bawel seperti saya, dan lain-lain. Terkadang untuk mendapatkan semua itu, ada lelah yang akut, bahkan disiksa oleh rasa bosan dan kesal. Mungkin, juga air mata. Apa pun pembelajaran yang didapat, begitulah harga yang harus dibayar untuk sebuah pengalaman.

Bagaimana Rasa Pentol Bakar Mereka?

O, ya. Setelah menghabiskan makanan dan minuman yang kami pesan. Rasanya enak kok. Apalagi nasi uduk bakarnya, berasa banget di lidah. Pentol bakarnya juga, bumbunya pas. Apalagi ditambah senyuman manis para mahasiswi yang melayani, amboi, sedap nian rasanya. By the way, bukankah memberikan senyuman yang terbaik juga adalah ilmu marketing yang sekarang ini mulai banyak dilupakan oleh para pedagang?

Saran saya, jika memungkinkan, sebaiknya hasil dari PKL berdagang di atas bisa diteruskan secara profesional. Mengingat, mereka cenderung sudah memiliki pelanggan dan hasil masakan yang mereka jual pun memenuhi standar lidah dan perut. Anggap saja ini sebagai upaya menciptakan lapangan kerja atau lapangan usaha baru bagi para mahasiswa atau pihak lain yang berminat.

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

harie insani putra

Penulis kambuhan. Kadang menulis dengan jurus mabuk.

Artikel Berkaitan

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin