Cerita Pendek

Cerpen : Sangiyang Perindu

Juara Harapan 2 Lomba Dispersip Provinsi Kalsel

Karya Rezqie M. A. Atmanegara

Terbuka perputaran alam kehidupan di pangkuan Sangiyang Ning Diwata[1] seiring semakin bungkuknya punggung Ning Antih[2] di bulan, cahayanya berpendar di sela reranting dan dedaunan lebat kariwaya[3] di hunjuran hutan larangan pegunungan Meratus.

Darang Atung mengasah mandau[4] pada batu asahan berhunjur di antara takikan limpang[5] balai, sebilah bulu enggang tersemat di babat kepalanya, Mandau telah mengkilap terasa bergerigi hingga ke ujung mata. Saat itulah ia melihat seorang wanita cantik yang membawa anyaman bakul[6], Darang Atung terkesima ia belum pernah melihat wanita cantik memesona itu sebelumnya, pasti bukan orang sekampung ucapnya di hati, seketika itu dadanya dilayapi turundayang[7] bermekaran, matanya bersinar seminar bintang, “Adakah yang lebih berbunga dibanding hati yang jatuh cinta dan adakah perih yang lebih sakit dibanding menahan rindu?” gumam hatinya Darang Atung, Perempuan cantik itu membalas senyumnya sambil berlalu menepi ke pelataran dekat lasung[8]di bawah balai.

Malam mengelam di riuh suara binatang hutan, air terjun Tumaung mengeram di jeram-jeram curam hutan, kandil damar menerang tiap balai yang ada di kampung hunjuran Meratus. Darang Atung tak jua dapat tidur, ujuknya telah senyap beberapa keluarga yang juga satu hunian di balainya sudah pulas tertidur bersahut dengkuran dari sebelah bilik-bilik kamar. Pikiran Darang Atung mengelana terbayang-bayang wanita yang ditatapnya di halaman balai siang tadi, sambil rebahan tersenyum-senyum sesosok wanita itu terus membayang tiap pejam maupun lamunannya. Gelisah hatinya rasa penasaran membawanya larut melewati malam yang pekat.

Ayam jantan hutan berkokok, fajar sadik menyemburat di langit tanah ulayat[9], dingin hunjuran Meratus menyayat ke sum-sum tulang. Darang Atung tersentak, matanya merah dan peluh melulur tubuhnya, semalaman ia tak dapat memejamkan mata. Tirai pembatas ujuk dengan ambin[10] balai tersilak, seorang perempuan ringkih dengan gurat kehidupan yang lebih dari setengah abad menjalar di sekujur tubuh dengan telinga lumbing[11] bergiwang, duduk telimpuh di sisi Darang Atung yang masih enggan beranjak dari rebahannya.

“Kenapa Darang, apa yang kau pikirkan, tadi malam kulihat kau tak bisa tidur, anakku?” Umang[12] Bawing, ibunya Darang Atung seperti memperhatikan anaknya yang semalaman tak dapat tidur. “Umang, apakah Umang tahu, siapa wanita yang semalam duduk di pelatar sebelah balai kita itu?”

“Semalam?, yang menganyam bakul  itukah, anakku?” Umang Bawing mengingat siapa gerangan yang ditanyakan anaknya.

“Ya Umang, wanita itu sangat cantik Umang, yaku[13] tak pernah melihat wanita secantik itu sebelumnya di kampung kita”. Darang Atung menceritakan pertemuan yang tak disengaja itu kepada ibunya.

“Itu Diyang Imai, sepupu Ulak Uning datang dari Banjarmasin, sudah beberapa hari ini dia di sini, mungkin ada keperluan dengan keluarganya”. Terang Umang Bawing sambil melipat kapur sirih di kinangan dan mengunyahnya ke mulut yang telah kenyang menelan asam garam kehidupan di pedalaman.

“Dia cantik sekali Umang, kelak aku ingin punya istri seperti dia”, Darang Atung berangan-angan.

“Apakah sepupu Ulak Uning itu mau denganmu Darang, sebab kau tahu keluarga Ulak Uning salah satu keluarga berada dan terpandang di kampung kita” Umang Bawing tersenyum memuntahkan ludah merah kinangannya ke pakucuran[14].

“Ah Umang jangan dianggap serius, yaku hanya berangan-angan” sahutnya Darang Atung sambil berkecil hati membandingkan keluarganya yang tergolong orang tak berada dengan kehidupannya sebagai petani dan mencukupi hariannya dihabiskan berburu di hutan sedangkan keluarga Ulak Uning sangat terpandang mempunyai berlimpah kebun karet dan ladang sawah yang digarap oleh orang-orang kampung yang dibagi hasil bila musim katam[15] sekaligus selalu menjadi penyumbang terbesar saat Aruh Ganal[16] diadakan.

“Tapi kau berusahalah mudahan ada petunjuk dari Sangiyang Ning Diwata”. Umang Bawing tersungging senyum di mulut kemerahannya dengan gigi yang sudah jarang, tangan keriput dengan urat-uratnya masih jelas kelihatan di pergelangannya berukir tatahan kabibitak[17] membelai-belai kepala Darang Atung.

***

Bulan demi bulan ditelan waktu, kabut purba dan dingin terus menyelimuti hutan dan perkampungan di hunjuran Meratus. “Darang Atung, apakah keputusanmu itu sudah bulat, anakku?” Umang Bawing tersandar di tawing halat[18] balai sambil mengunyah sirih pinang, beserta beberapa kerabat keluarganya dan penghuni balai telah berkumpul.

“Ya Umang, sudah yaku pikir matang-matang, untuk melamar Diyang Imai” jawaban Darang Atung cukup meyakinkan, dengan sebumbung lemang, giling pinang[19], parapah hayam[20], beberapa lipat talimbaran[21] beserta sinjang kain[22]. Darang Atung, Umang Bawing beserta keluarganya menuju balai sebelah, berniat melamar Diyang Imai sepupu Ulak Uning.

Masing-masing dari pihak dua belah keluarga sudah berkumpul sekaligus para tetua adat kampung.“Apa gerangan maksud kedatangan dangsanak[23] ke mari?” Ulak Uning berbasa-basi sambil menanyakan kepastian maksud keluarga Darang Atung.

“Kedatangan kami ke sini, tak lain untuk melamar Diyang Imai bila berkenan ingin kami jodohkan dengan anak kami Darang Atung”, sahutan dari Ulak Sindai, sebagai tetua sekaligus pemanjang lidah di keluarga Darang Atung.

Mendengar lamaran dari keluarga Darang Atung, sebelum menjawabnya, pihak dari keluarga Ulak Uning menyuruh Diyang Imai masuk ke ujuk diiringi orang tuanya dan beberapa tetua untuk rapat kecil yang sekaligus guna memberi jawaban lamaran Darang Atung. Tak berapa lama Ulak Uning dan tetua lainnya keluar dari ujuk, Diyang Imai terdiam di samping Ulak Uning.

“Setelah kami rumbukkan sekeluarga, maka tidak mengurangi rasa hormat sekaligus permohonan maaf sebesar-besarnya, kami tidak bisa menerima lamaran ini, sebab Diyang Imai masih melanjutkan sekolah juga dirasa belum saatnya untuk Diyang Imai berumah tangga”, jawaban Ulak Uning mencengangkan warga kampung dan tetua yang hadir terlebih keluarga Darang Atung.

Darang Atung melirik Diyang Imai yang tertunduk di samping orang tuanya bersebelahan Ulak Uning di sudut balai. Ulak Uning juga merasa sedikit tak enak dengan para tetamu.

“Eee… Sebaiknya dipikirkan lagi, siapa tahu Diyang Imai bisa berubah pikiran, kami beri waktu saja” Ulak Sindai sedikit menawar, sebab juga merasa tak enak hati melihat keponakannya yang mendengar penolakan dari keluarga Diyang Imai.

“Sekali lagi mohon maaf, meski tiwai atau mahar yang ditawarkan berupa sebatok kepala manusia sekalipun kami tetap menolak menjodohkan Diyang Imai dengan Darang Atung, jawaban kami ini sudah matang dangsanak”. Ulak Uning bersikeras menolak lamaran begitu juga dengan orang tua Diyang Imai, Umang Bawing tak dapat berbuat apa-apa selain memberikan ketabahan pada anaknya, Darang Atung tertunduk nampak jurang kekecewaan terdalam sedang diterjuni dirinya sekeluarga setelah lamarannya dibalas dengan penolakan. Setelah dirasa cukup, tak ada jua gayung bersambut, keluarga Darang Atung pun undur diri.

Orang-orang kampung sudah mengetahui tentang kabar lamaran Darang Atung yang ditolak mentah-mentah oleh keluarga Diyang  Imai, ada yang perihatin termasuk menghujat serta sudah banyak yang menerka bahwa lamarannya akan ditolak melihat kesenjangan kasta yang nampak di depan mata antara Darang Atung dan Diyang Imai.

“Darang Atung, mungkin Sangiyang Ning Diwata ingin memberikan jodoh yang lebih baik untukmu dibanding Diyang Imai, bersabarlah nak” Umang Bawing tak henti memberikan petuah kepada Darang Atung.

“Tapi Umang, tak kusangka akan jadi seperti ini kejadiannya, sebab aku tahu Diyang Imai juga mencintai aku, tapi keluarga Ulak Uning kurasa yang menjadi penghalangnya, beliau tak ingin mempunyai sepupu yang miskin sepertiku.” Darang Atung meneteskan airmata kekecewaannya setelah sudah beberapa hari ditahannya dalam bumbung dada berselang penolakan lamaran itu, juga tak lain suatu kepantangan bagi seorang lelaki jantan meneteskan airmata, tapi dirasakannya ini sudah terlampau menyakiti hatinya. Terlebih ia tak pernah keluar rumah dan tak berburu lagi memasuki hutan, Darang Atung hanya melamun meratapi nasib yang terikat di tiang penolakan yang menimpanya.

Melihat Darang Atung sering meratap dan bergumam sendirian di dalam ujuk, Keluarga yang tinggal seatap terutama Umang Bawing tak cukup sampai hati melihatnya terus menerus. Umang Bawing juga kerap menyeka airmatanya bila sudah teringat kejadian yang menimpa anaknya.

“Aku tak sanggup membiarkan anakku menjalani hari-harinya penuh beban dan mengucilkan diri dari orang-orang kampung” gumam Umang Bawing.

Umang Bawing beringsut sambil menahan batuk yang lama bersarang di tenggorokannya ke dalam ujuk Darang Atung yang sedang termangu di pinggir jendela menatap tajam pada hamparan hutan hunjuran Meratus, “Darang Atung, apakah kau masih mencintai Diyang Imai?”.

Umang, sudah berapa kali mempertanyakan hal itu tapi nyatanya…” Darang Atung menyalahkan dirinya sendiri.

“Ada satu cara yang ampuh anakku, supaya Diyang Imai jatuh ke pelukanmu” Umang Bawing tersenyum, ada yang dirahasiakan di antara binar mata dan keriput wajahnya.

“Maksud Umang, kita sudah datang dan melamarnya tapi ditolak mentah-mentah, nasi sudah menjadi bubur” Darang Atung semakin menyahut keras.

“Kita memang tak diterima dengan cara halus, tapi masih ada jalan lain, ada satu benda yang dapat membuat orang karindangan[24], anakku” perlahan suara Umang Bawing meyakinkan anaknya.

“Jalan yang bagaimana dan benda seperti apa itu Umang, katakanlah aku akan berusaha bagaimanapun caranya agar Diyang Imai mau denganku!”

“Bulu perindu!” Umang Bawing menatap Darang Atung, “Hah! Bulu perindu?” Darang Atung terkejut sekaligus penasaran.

“Pakai bulu perindu, maka siapapun yang sudah terkena bulu perindu darimu, maka orang itu akan terpikat tergila-gila mencintaimu, Darang…” suara Umang Bawing semakin berbisik berusaha keras meyakinkan anaknya. “Benarkah? lalu di mana aku bisa mendapatkan bulu perindu itu, Umang?” bujuk Darang Atung.

“Pergilah ke Balai Malaris, temui Damang[25] Ibur, beliau salah seorang balian[26] di sana serta minta petunjuk tentang bulu perindu padanya. Menurut penuturan kakekmu bulu perindu itu pernah dipakai mendiang Apang[27]-mu, ketika diam-diam selingkuh dari Umang, namun Sangiyang Ning Diwata cukup adil ketika Apangmu lari dari kampung menuruni gunung bersama selingkuhannya yang tergila-gila kepada Apangmu, mereka terperusuk ke jurang di ujung lembah sana dan mayatnya tertimpa longsor yang melanda di peristiwa dua puluh enam tahun lalu, ketika kau masih kecil dalam gendonganku, anakku” Umang Bawing lirih bercerita dari suara rentanya yang membuka lembaran usang masa lampaunya.

“Tak yaku sangka dan Umang baru menceritakan hal kematian Apang yang meninggal karena selingkuh!” Darang Atung memeluk ibunya. “Tapi Umang sudah cukup merelakan Apangmu, dan Apangmu sudah tenang di pangkuan Sanghiyang Ning Diwata” ujar Umang Bawing sambil menyeka binar kaca di mata dengan buncu tapih[28]nya. “Kalau begitu esok aku akan pergi ke Balai Malaris, untuk mencari bulu perindu itu” ucap Darang Atung menutup percakapan haru mereka di ambang malam menuju subuh di antara dingin yang menguliti.

***

Tepat matahari hidup[29], turun gunung menaiki bukit, merambah hutan menyisir sungai, akhirnya Darang Atung tiba di sebuah perkampungan, diliriknya sebuah balai di antara tengah-tengah kampung, Balai Malaris. Dilangkahkannya kaki menaiki takikan limpang memasuki Balai Malaris, di tengah tihang campan[30] tegak, lalaya[31] bertingkat, angin berkersik menghantarkan bau anyir darah ke lelambaian pucuk enau dan kambang lilihi[32], beras kuning terhambur di lantai, Darang Atung sibuk melihat sekeliling dan bertanya-tanya siapa tetuanya di balai ini, sekaligus mencari Damang Ibur.

“Siapakah gerangan dangsanak?” tanya seorang tua berpakaian separuh, berbadan gagah mengkilap kecokelatan, di kedua belah bahunya bercoret cacak-burung[33] dan galang hiyang[34] melingkar di kedua belah pergelangan tangannya.

Yaku mencari Damang Ibur” Darang Atung menjawab pertanyaan tetua itu dengan sangat penuh sopan santun. “Berkat Sangiyang Ning Diwata mempertemukan kita, di kampung ini hanya aku yang bernama Ibur, salah seorang balian di sini, apa gerangan dangsanak jadi mencariku?. Mereka berdua duduk bersila berhadapan di rampatai[35] balai Damang Ibur hikmat mendengarkan cerita dari Darang Atung bermaksud meminta tolong kepadanya untuk membantunya mencari bulu perindu, Damang Ibur terdiam tertunduk membaca wasilah dalam pejamnya di sisi kanan Darang Atung tepat di hadapan tihang campan, tapih bahalai[36] tersimpul di lalaya dengan lelambaian ringgitan[37] kering. Kadang angin meenyeruak bersama bau manyan[38] dan gaharu semerbak terhingut hidung, Setelah mendengar persoalan Darang Atung, Damang Ibur mengangguk-ngangguk.

“Begitukah dangsanak, perlu andika ketahui dalam bulu perindu yang asli ada Sangiyang Perindu atau Dewa Pengasih, apabila diletakkan di telapak tangan atau terkena asap maka bulu perindu akan menggeliat-geliat seperti hidup bernyawa dan bila di letakkan pada air mengalir maka bulu perindu akan melawan arus. Tapi banyak masyarakat awam mengelabui memperjualbelikan bulu perindu palsu”. Damang Ibur menerangkan tentang bulu perindu kepada Darang Atung, ia menyimaknya dengan seksama.

“Lantas apakah damang berkenan membantu agar yaku bisa mendapatkan bulu perindu yang asli?” bujuk Darang Atung, “Sulit dangsanak, sangat sulit memang mencarinya, tapi coba kita ke hutan belakang kampung ini, di situ ada pohon kariwaya yang berumur ratusan tahun juga merupakan pohon tertua yang ada di sini yang turun temurun dijaga oleh tetua dan balian guru[39] di sini, di dekat pucuknya ada sarang halang sapah[40], sudah empat puluh dua bulan telurnya dierami induknya, lantaran tak kunjung menetas namun juga telurnya tak pernah membusuk, maka induk halang sapah berusaha keras mencarikan usaha agar telurnya menetas, benda-benda yang diambil dari hasil usaha halang sapah itulah yang akan kita ambil, bila beruntung nasib baik di antaranya ada bulu perindu!” penuturan Damang Ibur sangat meyakinkan Darang Atung, mereka bergegas ke hutan belakang kampung.

Setibanya di bawah pohon kariwaya yang menjulang sangat tinggi, ketika siapapun di bawahnya akan terasa teduh sejuk karena rindang dan rimbun dedaunnya, bila memandang ke atas sehabis dongakan leher pucuknya tak dapat terlihat karena ketinggiannya. Perlahan Damang Ibur menaiki pohon kariwaya itu, dahan demi dahan dipanjatnya sedangkan Darang Atung menunggu dengan harap cemas di bawahnya, sampai di salah satu dahan Damang Ibur melihat ke sarang yang penuh dengan jerami dan bulu-bulu induk halang sapah, tiga telur halang sapah yang sudah empat puluh dua bulan dierami indukannya masih utuh. Sebelum diambil sarangnya, ketiga telur tersebut dipindahkan ke dalam sarang baru yang sudah dipersiapkan, Perlahan sarang yang lama tadi dimasukkannya ke dalam butah dan dengan hati-hati dibawa turun oleh Damang Ibur, di bawah pohon kariwaya sudah menunggu Darang Atung yang langsung sigap menyambut butah yang diberikan Damang Ibur.

Sarang halang sapah itu dibawa ke tebing sungai Amandit, Balian Ibur dengan sangat hati-hati menumpahkan seisi sarang ke deras air sungai, disaksikan oleh Darang Atung, semua isi berupa pintalan jerami kering, bulu-bulu merah kehitaman halang sapah, ada bongkahan kunyit putih, rumput bujang, serta benda-benda lainnya yang didapatkan induk halang sapah untuk mengusahakan telur-telurnya agar menetas larut mengikuti aliran air ke hilir, mereka amati dengan cermat ketika semua larut menjauh, ada satu benda yang melawan arus saat air yang sewajarnya mengalir ke hilir, anehnya benda tersebut menuju hulu, sebilah bulu meski kecil terlihat mengkilat merah keemasan diterpa panas matahari, “Nah, inilah bulu perindu, dangsanak!” Damang Ibur menjumputnya dan menyerahkan kepada Darang Atung yang lekas dimasukkannya ke dalam botol lalu dibungkusnya dengan kain kuning. Setelah beberapa minggu di Balai Malaris, Darang Atung berpamit kepada Damang Ibur lalu beranjak meninggalkan Balai Malaris membawa sebotol minyak bulu perindu dan petuah Damang Ibur.

***

Setelah hampir tiga minggu, Darang Atung kembali ke kampungnya di sebelah hulu Meratus. Umang Bawing sangat senang melihat hasil yang dibawa anaknya, sekaligus menjadi benda penawar kesakit hatian anaknya. Sekarang Darang Atung lebih percaya diri dan sering keluar berkeliling di kampungnya dan perkampungan sebelah, tak ada niat selain di mana pun Diyang Imai berada, Darang Atung mendekati melancarkan aksinya mengoleskan minyak bulu perindu pada Diyang Imai tanpa sepengetahuan siapapun, semenjak itulah minyak bulu perindu tak pernah ketinggalan di selipan babat kepalanya.

Setiap tengah malam Darang Atung memulai ritualnya semedi bamamang[41] lirih dipanggil-panggilnya nama Diyang Imai, lewat apuah minyak bulu perindu yang melekat di leher Diyang Imai, suara Darang Antung melesap dibawa angin dihantarkan ke telinga Diyang Imai yang terlelap tidur. Orang-orang kampung mulai gempar melihat keanehan setiap wanita dan anak-anak perempuan mereka, apabila melihat Darang Atung seperti terputus urat malunya, kehilangan kejiwaannya dan ketika malam igauan para wanita kampung menyebut-nyebut nama Darang Atung, tak terkecuali Diyang Imai yang sudah membuat keluarga Darang Atung terlanjur kecewa.

Tiba akhirnya keluarga Ulak Uning merasa ada keganjilan pada Diyang Imai. Diyang Imai berulang kali diantar ke Banjarmasin pada orang tuanya, tetapi berulang kali juga Diyang Imai kembali ke kampung tempat Darang Atung dan keluarga Diyang Imai tinggal. Ulak Uning sudah mencarikan beberapa cara dan mengerahkan segenap balian di kampungnya guna mananambai[42] Diyang Imai yang berbalik tergila-gila pada Darang Atung saking parahnya sampai tak mau lagi dan menghiraukan teguran dari Ulak Uning maupun orang tua dan keluarganya sendiri. Darang Atung hanya tersenyum melihat tingkah laku Diyang Imai yang berbalik mengejar cintanya yang dahulu disia-siakan. Kegemparan itu membuat Ulak Uning menelan malu terhadap warga kampung, di mana yang dahulu menolak keras lamaran Darang Atung kepada sepupunya yang tak disangka kini telah mencoreng arang di kening keluarganya sendiri.

Darang Atung berpikir daripada keluarga Diyang Imai tambah malu dan para wanita yang lainnya semakin mengejar-ngejar dirinya berkat apuah minyak bulu perindu yang dipakainya. Tepat bulan purnama, dingin menguliti gunung Meratus dan longlongan binatang mencekam, Setelah berpamit pada Umang Bawing yang melepasnya dengan airmata, Darang Atung membawa Diyang Imai kawin lari pergi dari kampungnya menuruni hunjuran Meratus. Beriring hujan lebat dan gelegar petir. sayup-sayup angin lirih mengiringi tapak pelarian.

bulu parindu larut di sungai

kambang halalang rapai sakaki

lamunnya judu hudah sampai

tabujur tahalang sampai ka mati[43].

Dusun Kiyu, Hunjur Meratus-Agustus 2018.

Penjelasan :

[1] Yang Maha Kuasa dalam kepercayaan suku bukit (Dayak).

[2] Sebutan dewa penunggu bulan/warna bulan yang dapat di lihat dengan mata saat malam hari persis seperti orang bungkuk rukuk di dalam bulan.

[3] Pohon Beringin.

[4] Senjata tajam khas suku Dayak.

[5] Tangga yang terbuat dari batang kayu.

[6] Wadah yang terbuat dari anyaman purun, bamban atau rotan.

[7] Anggrek spesis yang tumbuh di hutan Kalimantan.

[8] Alu/peralatan untuk menumbuk.

[9] Tanah yang masih asri, belum terjamah tangah manusia.

[10] Ruang tengah tempat berkumpul keluarga.

[11] Melar/memanjang.

[12] Ibu (bahasa bukit).

[13] Aku (bahasa bukit).

[14] Wadah kuningan tempat membuang sepah kinangan.

[15] Musim panen padi.

[16] Pesta upacara tanda syukur kepada Sangiyang.

[17] Laba-laba (salah satu lambang tato suku bukit).

[18] Dinding pembatas.

[19] Sesaji terdiri dari kapur, sirih, pinang, gambir, dan tembakau.

[20] Seekor ayam lengkap yang dipanggang.

[21] Lembaran kulit kayu yang digunakan untuk busana suku bukit.

[22] Sepotong kain (sarung lelaki) lambang kesungguhan niat.

[23] Sebutan keluarga (bahasa bukit).

[24] Kerinduan/selalu teringat dan dapat menyebabkan tegila-gila hingga hilang ingatan bila tak dapat bersama orang yang diinginkannya.

[25] Kepala adat.

[26] Dukun/kepala adat yang mempunyai kesaktian penghubung/perantara antara dunia nyata dengan dunia roh.

[27] Ayah (bahasa bukit).

[28] Ujung sarung.

[29] Matahari terbit.

[30] Tiang tengah balai.

[31] Bangunan tempat sentral upacara suku bukit berhias janur pucuk enau, wadah meletakkan sesaji dan dipercayai tempat turunnya roh-roh leluhur.

[32] Kembang-kembang hutan.

[33] Tanda yang dicoret dengan kapur berbentuk tanda tambah (+), perlambang menolak bala.

[34] Gelang dari perunggu kuningan, salah satu perangkat pemanggilan roh dalam upacara suku bukit.

[35] Lantai yang terbuat dari jalinan bambu.

[36] Helaian kain sarung yang ujungnya tak bersambung/berjahit.

[37] Perangkat upacara/janur dari pucuk enau.

[38] Menyan (kemenyan).

[39] Dukun tertinggi di antara balian-balian yang lain.

[40] Burung elang langka yang berbulu kemerahan.

[41] Bermantra/mengucap jampi-jampi

[42] mengobati dengan cara spiritual/kepercayaan

[43] Bulu perindu larut di sungai/kembang ilalang jatuh sekaki/bilanya jodoh sudah sampai/terbujur terkalang sampai ke mati.

Cerpen ini memenangkan juara harapan 2 dalam lomba Cerpen Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Selatan.

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

ardian

Saya adalah penggemar segala hal. Satu hal yang tidak saya gemari, berpikir!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin