Cerita Pendek

Cerpen : Pemakan Jantung

Juara Harapan 1 Lomba Dispersip Provinsi Kalsel

Karya Muhammad Rifki

“Kucopot jantungnya. Biar dijadikan kuah sop, agar orang-orang tahu rasanya. Ma, katakan, katakan pada Sabran! Ambil anaknya. Bayi ini bukan anakku, ini anak setan.”

Ida menggerang. Aroma kamboja dan bau melati merebak menyelimuti ruang persalinan. Buncah bersama segala hiruk-pikuk malam yang kian rangkak. Mengeras. Tubuh perempuan di atas ranjang kecil itu meronta-ronta. Uwa Haji panik. Apalagi, sedari tadi perempuan yang dihadapinya tak henti-henti menyumpah serapah.

Uwa Haji bergidik. Ia merasa seperti ada seseorang yang mengirimkan bau kemenyan ke gubuk beratap rumbianya. Bau itu menyelinap ke hidung dan menyesaki kepala. Ia cemas. Malam mendengkur keras. Keringatnya mengembun, berkerikil-kerikil dari dahi ke leher. Tak ia sangka, bayi Ida sampai membuat urat nadinya tegang.

“Katakan, Ma! Katakan pada Sabran! Jika bayi ini tidak diambil, akan kubunuh hidup-hidup. Biar dikuliti dan jantungnya dicincang kecil-kecil!”

Uwa ikut tersengal. Ida masih belum reda mengamuk di atas ranjang. Semakin ia dorong, bayi itu justru menantang balik. Enggan keluar. Bagi Uwa, ini bukanlah pertama kali ia menangani kasus persalinan anak kampang. Berkali-kali ia penuhi keinginan gadis-gadis muda menggugurkan kandungan. Semua berjalan lancar. Konon, kata orang anak hasil perzinahan lebih mudah dilahirkan ketimbang perempuan hamil dengan hubungan yang sah.

Berbeda dengan Ida. Perempuan yang hamil muda dan ditinggal pergi pacarnya saat tahu ia hamil itu masih menemukan jalan buntu. Seperti ada yang menahan si jabang bayi untuk keluar dari rahim.

Malam kian rangkak. Kokok ayam terdengar tipis dari luar gubuk. Wajah Uwa berubah pucat. Ia teringat tentang hantu perempuan yang suka mencuri darah. Dahan-dahan pohon bergemuruh. Angin di luar bersuara resah, konsentrasi Uwa pecah. Ia cemas, ritual persalinan ini diganggu.

“Minah, gantung bawang merah diatas pintu. LAKASI!1

Beruntung, jelang isya ia sudah lebih dulu menggantung bulu landak di bawah gubuk. Karena ia tahu, setan-setan di hutan akan bertamu malam ini dan menagih janji. Mereka ingin menghuni tubuh perempuan hamil dan menjilati darahnya.

Ida tersengal. Nafasnya terputus-putus. Bayi dalam rahimnya mengeras batu. Tertahan kuat. Seperti banyak ilalang tumbuh untuk menahan si jabang bayi keluar. Ilalang-ilalang itu justru menikamnya kuat-kuat. Ida berteriak kesakitan.

Tak ada pilihan. Uwa Haji dan Uma Minah saling bersitatap, “minumi banyu pilungsur!2

***

  tubuh ini terdiri tulang belulang tuan leluhur

  tuan melahirkanku dan aku

  melahirkan tuan.

  kidungku adalah suara

  rahim sepi.

  beri aku

  wajah pengasih,

  maka untuk tuan, kusajikan

  benih-benih leluhur.

  maukah tuan terima rendahku

  pada pendar termarammu?

 

“Aku malu, ma. Malu. Biarkan bayi ini kupersembahkan untuk para leluhur hutan. Biar para ruh gentayangan tahu dan mengasihiku, ma.”

Uma Minah tertunduk lesu mendengar desakan anak tunggalnya. Mengelus dada. Matanya mulai mendikti wajah anaknya yang sukar ia terima. Anaknya, semakin hari tak pernah usai menghardik lelaku si jabang bayi yang cengeng. Uma mengelus dada. Ia eja satu persatu nama tuhan, berharap sedikit banyak agar sikap anaknya tak lagi sekeras pedati.

Uma paham mengapa Ida begitu membenci si bayi. Rasa sakit hati ditinggal pergi kekasih tercintanya, Sabran, membuat kepala anaknya dipenuhi dendam hitam. Dendam itu tumbuh mekar dan berniat ia balaskan pada si bayi. Tapi Uma tak ingin, bayi yatim tak berdosa itu dicelakai.

Ada yang aneh dengan lelaku Ida. Setiap malam merangkak, ia akan berbetah lama di pelataran rumah. Bercerita banyak hal mengenai nasib, masa lalu dan kesedihannya. Ia bercengkrama asyik ke arah hutan. Memanggil-manggil. Menyanyi-nyanyi. Sesekali, si bayi ia gendong dan dinyanyikannya lagu pengantar tidur.

Tidurlah. Para tuan leluhur akan bertamu. Tidurlah.

Orang-orang desa itu meyakini, bahwa hutan kampung mereka dihuni banyak ruh gentayangan dan hantu-hantu menyeramkan. Banyak orang yang memilih mengunci pintu rapat-rapat bila malam sudah beranjak naik. Bahkan untuk keluar rumah pun tak berani, takut diganggu hantu takau3 ataupun mariaban.4

Namun sebagian ada pula yang justru menantang ingin bertemu. Memilih bertapa dan menginap di hutan sekedar untuk mencari buluh perindu5, mengaji ilmu pesugihan atau ilmu kekebalan.

“Da, biar Uma yang mengasuh bayimu. Kasihan. Jangan diapa-apakan bayi yang tidak berdosa itu, Da.” Uma mendekati Ida dan mencoba meraih bayinya, tetapi buru-buru diusir Ida. “Bayi ini yatim, nak. Bayi ini titipan tuhan. Ia lahir dari rahimmu. Seberapapun sakit yang kau tanggung, bayi ini tetap berasal dari darah dagingmu.”

Ida terkekeh.

“Aku malu, ma. Gara-gara bayi ini, banyak orang yang membicarakanku. Bayi ini anak haram. Bayi ini anak Sabran, anak setan!”

Langit pucat. Malam kian buta. Keheningan memuncak. Tak seorangpun yang tahu, termasuk Uma, Ida berlari kencang ke arah hutan. Dipanggilnya para leluhur untuk berkumpul dan menjemput. Upacara ia lakukan. Kemenyan menyeruak. Tangis sang bayi pecah, seseorang lalu menjemput dan menikamnya.

Ida pergi.

Seseorang pergi, seseorang datang.

Dari kejauhan, Uma tengah tertidur pulas usai perdebatan panjang di pelataran rumah. Setelah itu, tak ada yang tahu ke tangan siapa bayi itu digendong.

***

“Uma.. uma..”

Aku mengingat wajah uma melalui sebuah nyanyian kecil. Hanya itu yang kuingat. Seingatku, itu dua tahun lalu sebelum aku dititipkan di sini. Aku rindu dengus suaranya. Aku rindu keluh kesahnya.

Guring anakku, anakku guring. Guring anakku, anakku guring.6

Di sini gelap, ma.

Jika aku seorang anak yang kau peroleh dari hubungan liarmu, maka asalku tetaplah dari tulang belulangmu. Darahku mewarisi tangisan yang kau kirimkan setiap malam pada leluhur hutan.

Malam itu, kau meninggalkanku tanpa mengucapkan perpisahan ataupun pelukan mesra seorang ibu pada anaknya. Aku ketakutan. Di sini sendirian. Tak ada uma, tak ada abah, tak ada kawan. Aku dibuang sebagai anak yang kau tuding-tuding setan.

“Uma.. uma..”

Percuma berteriak. Tak seorang pun mendengar, apalagi menyahut. Aku dibesarkan oleh makhluk berlendir menjijikan. Wajahnya menyeramkan. Aku takut, ma. Setiap hari ia memberikan jantung-jantung segar untuk dimakan. Mengajariku banyak hal, termasuk cara membunuhmu. Ia beri aku, ilmu pengasih.

Namun bagaimanapun, kerinduanku padamu seperti jengkal nafas di tulang belulangku. Tak akan surut. Akan kucari dirimu sampai darah kita menyatu kembali. Ingin sekali lagi nyanyianmu kudengar dan berada di pelukanmu. Merasakan detak jantungmu.

pada wajah uma dalam nyanyian

umanya tak mati.  ia tahu itu.

umanya hanya pergi ke suatu tempat.

bocah itu tak mengerti,

mengapa hatinya sekeras pedati.

dicari-cari

dicari-cari.

***

Kesedihan punah. Bertahun lama ia tinggalkan kidung itu, sebuah tangisan bayi yang ia abadikan di tengah hutan. Sekarang, hatinya telah kembali mekar. Wajahnya lebih ayu dibanding dulu. Lebih cantik dari kembang desa manapun. Sebulan sekali, ia berpindah dari satu pelukan lelaki ke lelaki lain. Lelaki-lelaki itu seperti tersihir dan rela melakukan apa saja, memberikan apa saja untuknya.

Tak ada lagi yang mengingatnya sebagai Ida si ibu anak kampang. Orang-orang kini mengenalnya sebagai kembang desa paling cantik. Malam waktu itu, persembahannya diterima oleh para leluhur. Jasad bayi yang ia sembahkan dilumat habis oleh ruh-ruh gentayangan, sebagai gantinya, ia meminta kecantikan dan awet muda.

Tetapi bagi Uma Minah, kesedihan itu masih menjalar dan belum hilang. Ia seperti merasakan kehilangan bagian tubuh sendiri. Bahkan Uma sama sekali tak lagi peduli dengan Ida, perempuan tua itu hanya sering merindukan si bayi.

Malam ini, adalah puncak kerinduan itu. Hari lahirnya si bayi dari rahim Ida. Tak ia sia-siakan malam ini. Upacara pemanggilan ruh. Ia sajikan kopi pahit, kopi manis, air tawar dan dupa yang dinyalakan. Mulutnya mengap-mengap. Sesajin telah lengkap. Sesaat lagi seseorang akan datang menyantap.

Kerinduan itu belum lindap.

Belum selesai doa-doa dikirimkan, seseorang dengan erangan kecil memangil-manggil dari halaman belakang rumah. Tangis bayi yang seolah berbisik. Merayu Uma, memekakan telinganya.

Semakin ia biarkan, tangis itu semakin keras memanggilnya.

Uma. Uma.

Uma berlari keluar mengejarnya. Dadanya buncah oleh kerinduan berat. Tak terbendung berlari kencang. Semakin  ia dekati, tangis itu kian merayu-rayu. Saat diperdapati muara suara itu, tubuhnya roboh. Hatinya kelu. Bayi itu masih hidup. Tersenyum manja ke arahnya.

“Uma.. uma..”

Bayi itu memanggil-manggil uma. Ia sudah tumbuh lebih besar saat terakhir kali melihatnya. Dihambinnya7 bayi itu, bernyanyi-nyanyi sambil membawanya pulang. Ia ingin secepatnya memberitahu Ida bahwa anaknya dulu masih hidup.

Sayang, sebelum perempuan tua itu selesai bernyanyi, tubuhnya mendadak lumpuh. Seseorang dari belakang menikamnya. Mengambil jantungnya.

Bayi itu, dengan nikmat menjilat-jilati jantung Uma.*

Sabtu, 11 Agustus 2018

 * terilhami dari cerita rakyat ‘anak sima’ yang berkembang di daerah hulu sungai

  1. cepat

2.“beri minum air pelungsur!”

  1. hantu atau siluman yang sering berubah-ubah
  2. hewan gaib berbulu lebat yang tinggal di pedalaman hutan Kalimantan
  3. bulu mariaban yang dapat digunakan untuk memelet wanita
  4. 6. tidurlah anakku, anakku tidurlah. Tidurlah anakku, anakku tidurlah
  5. digendong di pundak

Cerpen ini memenangkan juara harapan 1 dalam lomba Cerpen Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Selatan.

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

ardian

Saya adalah penggemar segala hal. Satu hal yang tidak saya gemari, berpikir!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin