Bimtek Literasi Smart City Menyisakan Tanda Tanya

  • Whatsapp
Bimtek Literasi Smart City Menyisakan Tanda Tanya
Ilustrasi Smart City. (foto: net/tandapetik.com)

Saya pernah ditantang oleh Board of Director (BOD) tempat saya dulu bekerja. Bidang kelistrikan tahun 2007 silam. Agar kantor yang kami tempati menjadi “Smart Building” bahkan Cyber Building, itu impian Bos.

Tim kecil dibentuk, kolaborasi beberapa divisi. Karyawan spesialis IT, otomasi dan saya divisi listrik.

 

Oleh: NARWANTO, RUMAH PENGARANG

 

Tantangan awal, pengertian Smart Building sendiri sangat luas. BOD setuju dan diputuskan agar tim fokus pada gedung yang ramah lingkungan. Spesifik goalnya hemat energi. Tidak hanya memasang CCTV untuk mengawasi.

Langkah pertama, pemasangan sel surya di lantai atas gedung memanfaatkan panas matahari. Kedua, otomasi, kontrol dan monitoring penggunaan energi listrik di kantor.

Teknisnya, tiap ruangan terpantau kapan pun di mana pun asal bisa terhubung ke website perusahaan. Bisa setting di menu timer atau klik ON atau OFF. Mulai dari perangkat stop kontak, AC dan penerangan.

Setiap ruang meeting terpasang sensor gerak untuk menyalakan lampu dan AC. Jam istirahat AC dan lampu otomatis OFF, ON lagi satu jam setelahnya. Sekaligus pertanda karyawan saatnya ishoma di lantai dua.

Hanya level Team Leader ke atas yang bisa log in ke software melalui website perusahaan. Tinggal lihat denah ruangan, jika berwarna hijau berarti ada aktivitas di ruangan tersebut. Tinggal klik sekali, langsung berubah jadi merah. Artinya ruangan tersebut padam atau OFF.

Tidak lama, biasanya saya dapat telepon; “tolong nyalain dong,” kata teman di ujung telepon yang katanya lagi lembur. Karena teman-teman tidak berani telepon atasannya langsung. Kalau saya masih bisa dinego, tapi penuh resiko. Ups!! Manusiawi.

Akhirnya tim berhasil mengurangi penggunaan energi listrik. Bahkan bos sering simulasi “pamer” pada tamu yang datang di kantor atau sedang luar kota lewat smartphone-nya.

Berhasil.

Bukan berarti tanpa kendala, bahkan banyak kendala di awal memulai. Kurangnya sosialisasi, menyamakan persepsi, tentang apa tujuan dan teknis lainnya terutama karyawan lapangan yang jarang ke kantor utama. Merekalah sebenarnya pengguna fasilitas perusahaan untuk bekerja. Yang harus dipermudah agar lebih efektif dan efisien.

Perlu pembiasaan. Seperti hal sederhana, tidak semua karyawan pulang malam dihitung lembur. Lembur harus ada izin dan terkonfirmasi atasan langsung, agar diberi akses penggunaan energi listrik dan internet di ruangan kantor dalam waktu tertentu.

Divisi keuangan pun terbantu, bisa kontrol berapa upah lembur bukan berdasar berapa kali pulang malam.

Serba otomatis kadang membuat kita kurang peduli. Setelah semua serba sensor otomatis, tidak ada lagi imbauan “Matikan lampu selesai gunakan kamar mandi” atau “Matikan keran air” yang biasa tertempel di dinding dekat sakelar dan pintu kamar mandi. Selesai menggunakan komputer, charge ponsel masih suka lupa tertancap di stop kontak.

“Ah, nanti juga mati sendiri,” pikirnya. Tak ada lagi saling mengingatkan.

Mempermudah belum tentu mengedukasi, karena karakter terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan personal sejak dari rumah. Jangan-jangan baru ponselnya yang smartphone, tapi rumahnya belum smarthome, apalagi kita ternyata belum smartpeople.

Menghadiri undangan dari Pemko Banjarbaru tentang Literasi Smart City, 25 November 2019 lalu, membuat saya terpesona dengan pemaparan narasumber yang berjudul Smart Economy Pemberdayaan Usaha di Kota Cerdas

Euforia Smart City memang sedang tinggi. Salah satu kampus di Banjarmasin 17 November lalu mengadakan FGD tentang pembukaan Program Studi D-4 Sistem Manajemen Kota Cerdas. Salah satu narasumbernya adalah Ir. Windy Gambetta, M.B.A yang berani berpendapat bahwa kota Bandung saat ini masih belum bisa disebut smartcity.

Sedangkan UGM bulan ini sudah mulai membuka pendaftaran untuk calon mahasiswa S2 MPWK UGM : SMART CITY.

Kembali ke Bimtek. Dari enam pilar smart city yang ada, narasumber fokus pada Smart Economy di mana goalnya adalah terciptanya aplikasi Smart Tourism. Beberapa menu dasar yang ditawarkan, menjadi semakin menarik dengan simulasi yang ditampilkan. Mapping pelaku usaha, penginapan, lokasi wisata, pusat oleh-oleh terdekat, akomodasi dan lainnya tersaji dan terintegrasi. Tidak lain juga karena pelaku ekonomi kreatif sangat erat kaitannya dengan dunia wisata.

Terintegrasi dengan e-commerce banjarbaru-mall.com sebagai portal pemasaran online lokal yang sudah lama ada namun belum dioptimalkan secara maksimal. Di tengah gempuran e-commerce nasional bahkan luar. Sayang sekali bukan?

Satu teman sesama peserta bertanya, “apa ini bisa dijalankan?” Lewat pesan di grup WhatsApp, tidak mau bertanya sendiri di sesi tanya jawab. Setelah tahu konsep smart tourism baru sebatas ide untuk dipaparkan dalam bimtek bukan untuk didiskusikan bagaimana teknis dan detailnya.

Namun, diakhir sesi tanya jawab, muncul informasi akan dilaunchingnya aplikasi IDAMAN pada 11 Desember 2019 mendatang. Harapan muncul kembali, semoga smart tourism ada didalamnya.

Hingga, tanda tanya itu tak perlu ada.

 

Pos terkait