Begini Pendapat Najwa Shihab Tentang Perkembangan Literasi di Kalsel

  • Whatsapp
Najwa Shihab

BANJARMASIN, tandapetik.Com – Kehadiran Najwa Shihab Kamis (5/12/2019), di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kalsel membuat riuh ratusan peserta talkshow yang dihadiri para undangan, mahasiswa, seniman, sastrawan dan pegiat literasi Banua.

Kehadiran Najwa Shihab, seperti santer diwartakan banyak media, merupakan kali kedua dalam tiga tahun terakhir—ia datang pertama kali ke Kalsel pada tahun 2017 silam dalam rangka menghadiri even Kalsel Book Fair di Banjarbaru. Kali ini, Najwa Shihab hadir sebagai Duta Baca Indonesia dan berbicara mengenai Literasi Digital.

Literasi di Kalsel Terus Membaik

Kepada awak media, perempuan yang akrab disapa Nana ini mengatakan bahwa Kalsel, dalam hal peningkatan literasi, terus membaik. Menurutnya perbaikan kualitas ini bisa dilihat dari alokasi anggaran dana dari Pemprov Kalsel untuk pengembangan perpustakaan daerah yang cenderung memiliki porsi besar.

“Kalimantan Selatan keberpihakannya jelas, karena alokasi anggarannya (untuk perpustakaan daerah) lumayan ya, 38 miliar. Bahkan konon ini lebih besar daripada anggaran beberapa dinas lain di Kalsel,” kata Nana saat berkunjung ke Dispersip Kalsel beberapa hari lalu.

Dalam talkshow yang juga dihadiri oleh Wakil Gubernur Kalsel Rudy Resnawan tersebut, Nana mengisi talkshow dengan tema Literasi Digital dan dimoderatori oleh Penulis Novel Kalimantan Selatan, Randu Alamsyah.

Mengutip dari laman Wikipedia, Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Literasi digital juga merupakan kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk mengkomunikasikan konten/informasi dengan kecakapan kognitif dan teknikal. Digital literasi lebih cenderung pada hal hal yang terkait dengan keterampilan teknis dan berfokus pada aspek kognitif dan sosial emosional dalam dunia dan lingkungan digital.

Lterasi Digital Era 4.0

Sedangkan dalam kaitannya terhadap dunia literasi dan minat baca, menurut Nana, pada era revolusi 4.0 ini penting untuk mencari pendekatan alternatif agar minat masyarakat semakin tinggi terhadap membaca. Literasi digital adalah salah satu caranya.

Sekarang, orang lebih memilih membaca lewat Line Today daripada koran atau melihat audio visual di internet daripada konten non digital misalnya. Makanya ini adalah saatnya kita beralih ke teknologi literasi digital

“Terkadang kita hanya menggunakan aplikasi terbatas pada handphone kita, hanya WA, IG, Facebook dan lain sebagainnya, padahal banyak aplikasi dan fasilitas yang bisa membawa kita lebih memiliki pandangan ke depan,” katanya.

Padahal dengan teknologi, menurutnya, seharusnya dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan minat baca melalui aktivitas sehari-hari—yakni melalui teknologi digital berupa gawai.

“Dengan teknologi digital, kita dapat mengakses ribuan bahan bacaan melalui aplikasi, salah satunya melalui aplikasi ipusnas milik Perpustakaan Nasional dan i-Kalsel milik Perpus Palnam,” jelasnya.

Seperti yang diketahui, i-Kalsel merupakan perpustakaan digital yang diresmikan 2018 silam oleh Perpustakaan daerah Kalsel. Aplikasi tersebut, seperti yang telah diungkapkan oleh Kepala Dispersip Kalsel Hj. Nurliani Dardie, merupakan kesigapan Dispersip Kalsel dalam mengimbangi zaman. Di dalam aplikasi yang tersedia di Google PlayStore tersebut para pengguna bisa mencari ribuan buku yang mereka inginkan.

“i-Kalsel,” sebut Hj Nurliani Dardie yang kerap disapa Bunda Nunung ini, “merupakan bentuk nyata kepedulian Kalsel terhadap dunia literasi.”

Pentingnya Keterlibatan Masyarakat di dalam Perpustakaan

Sementara itu, Najwa Shihab, ketika disinggung soal gedung perpustakaan, ia berpesan memang penting punya gedung perpustakaan yang bagus, penting untuk punya WiFi yang kencang dan tempat yang nyaman.

Tapi ini hanya menjadi ruang dan tidak akan bermakna kalau tidak diisi berbagai kegiatan. Karena itu penting mengajak masyarakat terlibat dalam pengelolaan perpustakaan. Lebih jauh ia berkata, di satu sisi fasilitas itu penting tapi harus juga bisa dirasakan dan dimanfaatkan oleh banyak pihak.

“Perpustakaan jangan hanya jadi Menara Gading, jadi sepi. Untuk Perpustakaan Provinsi Kalsel ini, saya lihat berbeda, pengunjungnya banyak, aktifitas mereka beragam, dan inilah ciri perpustakaan yang sudah bisa merangkul semuanya,” ujar putri kedua dari cendikiawan muslim Quraish Shihab tersebut. (ras/hip)

Pos terkait