Esai

Kota Banjarbaru ! Biasa Aja, Sob!

TandaPetik.Com – Apa yang kamu harapkan dari Kota Banjarbaru yang baru tumbuh 19 Tahun. Infrastruktur yang wow? Pertumbuhan ekonomi yang melejit? Tempat wisata dan hiburan yang melimpah? Gunung yang tinggi atau pantai yang aduhai? Gak ada sob. Di Banjarbaru, gak ada yang bisa dibanggakan.

Kota berjuluk Idaman ini sebenarnya punya segudang masalah dengan segala kontroversial baik dalam hal tata laksana ruang publik mau pun infrastruktur yang terpusat di situ-situ saja. Soal bagaimana sejarah, kondisi sosial, dan geografisnya kamu bisa intip wikipedia.

Di luar penjelasan yang sudah terdapat dalam pustaka, Banjarbaru tak punya SDA yang “Laku” dijual. Tapi justru di situ pointnya, ia malah berkembang menjadi anak perempuan yang sudah tak lagi ingusan, “Tetek” nya mulai padat berisi. Ya anggap saja mahasiswi semester tiga kemaruk rasa dan memilih siapa kelak imam di masa mendatang untuk membimbingnya ke jalan yang hakiki. Jodoh kali!

Kemampuan jual pariwisata di kota ini memang tidak bisa diandalkan. Meski masih bisa disebut meniru pariwisata daerah lainnya, para pejabatnya menganggap sah-sah saja selama bisa menarik perhatian pendatang, bukan?

Lantas, mengapa Banjarbaru seolah menjadi primadona di antara 12 rekannya yang lain?

Entah jawaban mana yang paling hakiki, tapi saya pribadi menilai, semata-semata Sumber Daya Manusia (SDM) nya lah yang membentuk Banjarbaru demikian unik, nan menarik.

Banjarbaru tampak dibentuk melalui komunikasi astral melalui orang-orang loyal. Kontemplasi politik seolah berjalan bergandengan bersama budayawan bermisi profesor kenamaan. Masyarakat yang heterogen bak mangkok es campur multi kultural dinahkodai masing-masing kepala dengan pola pikir semi metropolitan. Saya memang berada di titik keramaian, perkembangan kota dalam segi pendapatan pajak dan infrastruktur sangat menonjol di wilayah utara, tapi minim sekali di perbatasan. Saya pribadi bukanlah penduduk asli, minim sekali pengetahuan soal kota semi metropolitan ini, entah mengapa saya suka menyebutnya demikian.

Di sisi SDM, Kota Banjarbaru mempunyai segudang event tahunan, yang dirancang dari ide-ide kreatif para tokoh-tokohan, didorong kemauan-kemauan yang terkontrol. Kota ini juga memiliki pejabat-pejabat yang terhubung dengan kepala suku pada bidang kesenian, hiburan, serta pengendali empat elemen dunia lainnya.

Mempunyai kelompok-kelompok persaingan sengit tapi tetap mau bantu dorong “mobil kalau lagi mogok.” Lahir dari pemekaran Kabupaten tetangga yang getol-getolnya memperjuangkan nilai-nilai religiusitas. Di Banjarbaru, orang-orang bisa mencari keramaian saat kesepian, atau mencari ketenangan saat terlalu ramai.

Sebagai pendatang yang telah terdata (ber e-KTP. Eh, susah lo ngedapetinnya) di kota ini, saya mulai terbiasa dengan harapan palsu dan pedihnya tumbuh bermodal kreatif semata. Sebagian pendatang di kota ini, saya sudah terbiasa dengan hiburan-hiburan khas anak gedongan ibu kota. Banyak anak perempuan desa nakal di kota tinggal dan mencari nafkah di sini.

Sebagian penduduk asli, sudah tidak terlalu peduli dengan tenda dan panggung di lapangan Murjani sedang dipasang, atau sedang dibongkar. Entah pada putaran waktu di mana, lapangan aspal di depan balai kota seolah tak pernah sunyi dari jual beli, ajang pamer kelas sosial, bahkan pesta siasat berlandaskan konspirasi dan propaganda.

Terlalu Cinta Sama Banjarbaru

Makin bertambah tahun, bertambah pula pemukiman yang mengisi ruang-ruang kosong di tanahnya. Banjarbaru, seolah tumbuh dari tanah gersang menuju kota kecil yang kaya dengan hiburan. Ia didik untuk bertahan dalam kerasnya persaingan ekonomi dan politik tanda tangan. Meski minim proyek tambang dan pengerukan SDA, SDM yang ada tampak mengatur keuntungan-keuntungan untuk saling berkonsultasi menanam “buah” di kota ini sebagai indikator kekayaan dan taraf sosial pemiliknya.

Legenda bilang, cinta datang karena telah terbiasa. Saking sudah biasanya, saya gak sadar sedang jatuh cinta, dan gak betah lama-lama tinggal di luar Banjarbaru Kota.

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

Ananda Perdana Anwar

Lahir di Pelaihari, tinggal di Banjarbaru, suka jadi driver online, tapi lebih senang nulis curhatan penumpang. Nyambi jadi wartawan, dan alhamdulillah masih beriman.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin