Apa Pentingnya Toko Buku?

  • Whatsapp
apa pentingnya toko buku?

Banjarbaru, Selasa (3/9/2019) pagi, para pengunjung berbondong-bondong datang ke lantai 3 Q-mall Banjarbaru untuk menghadiri opening toko buku Gramedia yang melakukan pembaruan wajah setelah dua tahun melakukan exhibition di Mall yang sama. Saya kutip dari koranbanjar.net, General Manager Corporate Secretary PT. Gramedia Asri Media Yosef Adityo Nugroho mengatakan bahwa peningkatan ini demi kepuasan pelanggan dan sebagai upaya mendukung literasi, khususnya di wilayah Kalsel. Lebih jauh dia mengatakan bahwa ada sekitar 10 ribu judul buku yang masuk ke sana.

Sejauh yang saya tahu, di Banjarbaru, Gramedia Q-mall adalah satu dari tiga toko buku yang masih eksis sampai sekarang—dua yang lain Toko Buku Salemba dan Toko Buku Riyadh. Sementara itu, tetangganya, Martapura, atau lebih luas, Kabupaten Banjar, entah saya yang tidak tahu atau memang begini adanya; tidak ada toko buku yang memuat karya-karya fiksi atau non-fiksi. Memang ada beberapa orang yang berjualan buku, di pasar-pasar, bercampur dengan buku-buku agama—dan itupun jumlahnya sangat sedikit.

Lebih dari itu, mari kita pertanyakan dulu, apa sih pentingnya toko buku? Sebab kalau pun toh tak penting-penting amat, ada baiknya memang kita tidak memedulikan fakta bahwa kita kekurangan toko buku tersebut di daerah kita.

Sebab pertanyaan itu, saya lalu berselancar ria di internet, mencari berbagai artikel yang mungkin dapat menjawab kebingungan saya. Tetapi apa yang saya temui malah fakta lain yang mengatakan Indonesia, negara ramah-tamah yang amat kita cintai ini, ternyata merupakan salah satu negara yang tingkat membacanya sangat rendah. Ada banyak penelitian yang menyuguhkan informasi tersebut, salah satunya dari Central Connecticut State University (CCSU) yang diumumkan pada tahun 2016 silam. Dalam penelitian tersebut, Indonesia berada di posisi 60 dari 61 negara—berada satu tingkat di atas Botswana, negara yang bahkan sebagian dari kita tak tahu letaknya di mana. Fakta tersebut sering kita dengar di berbagai media, terus berulang, dikeluhkan sebagai suatu biang kerok mengapa Indonesia menjadi lemah dalam berbagai bidang dan menjadi alasan paling standar dalam membenarkan mengapa sumber daya manusia kita tidak secerdas banyak negara di dunia ini.

Apakah benar kita sebegitu tidak sukanya membaca buku?

Dilansir dari detik.com, Jumat (4/1/2019), inisiator Pustaka Bergerak, Nirwan Ahmad Arsuka, terang-terangan tak setuju dengan cap bahwa anak-anak Indonesia adalah anak-anak yang malas membaca buku. Menurutnya, survei PISA dan CCSU menimbulkan kesimpulan yang salah tentang minat baca orang Indonesia. Kawan-kawan di Pustaka Bergerak selalu melihat minat baca dari masyarkat itu tinggi sekali. Begitu disodorkan buku-buku yang sesuai, mereka sangat antusias.

Lebih jauh dia menjelaskan bahwa banyak orang-orang Indonesia tidak membaca buku bukan karena mereka tak suka membaca, itu lebih karena akses terhadap bahan bacaan yang sulit.

Masalahnya adalah banyak masyarakat yang menerima penelitian yang mengatakan bahwa orang indonesia tidak suka membaca itu setengah-setengah saja, kebanyakan dari kita tidak tahu bahwa penilaian itu meliputi lima indikator kesehatan literasi negara; yakni perpustakaan, surat kabar, pendidikan, dan ketersediaan komputer.

Dan kita sungguh amat kekurangan lima hal di atas—utamanya bagi orang yang tinggal di kampung terpencil seperti saya.

Jadi, kembali lagi, apakah penting toko buku di sebuah daerah?

Saya rasa, walaupun tidak saya tulis di sini, para pembaca pun sudah tahu apa jawaban yang tepat untuk pertanyaan tersebut.[]

Pos terkait