Esai

Analisis Kejiwaan 3 Perempuan Banjar Yang Videonya Viral

 Dangari Buhan BJB BJM MTP

TandaPetik.Com – Petik’ers, tau mimi peri, kan? Ya seperti itu mukanya. Tapi ini versi perempuan tulen dan pandai berbahasa Banjar. Saya gak tau, ya, entah apa yang ada di dalam pikiran mereka terutama yang mulutnya paling doer (saya mau bilang monyong kok agak pedih, gitu) sampai-sampai harus merekam, membuat, bahkan memosting video yang demikian kontroversial, bahkan viral di kalangan netizen Banjar. Entah apakah video ini sudah sampai ke Nasional? kayaknya, sih, iya! Instagram!

Rekaman yang menunjukkan 4 orang dalam framing portrait tersebut memberikan pernyataan bahkan menyebutkan secara gamblang pemetaan kondisi geografis suatu daerah (gaya bahasanya khas anak kuliahan yang gagal nulis skripshit!, yes) yaitu BJM, BJB, dan MTP yang artinya Banjarmasin, Banjarbaru, dan Martapura.

Bahkan dia bilang, “Semuanya”, itu artinya tidak terkecuali anda-anda yang membaca tulisan ini sekarang. Tapi mari kita kesampingkan dulu soal ketersinggungan, kita akan bahas di akhir paragraf.

Iseng sekadar ingin mengetahui apa komentar netizen membuat saya tertawa. Ada yang membalas, ada yang santai. Ada yang bilang juga Hulu Sungai Aman, Binuang, Tanjung, Pelaihari, aman bro!


Berdasarkan jurnal psikologi ala-ala tandapetik.com, ada lima hal yang mungkin saja menjadi penyebeb sekumpulan gadis itu, (gak tau juga sih, gadis atau janda) dianggap menghina, merendahkan, menghujat, bahkan kasar meskipun kalimat itu bukan kalimat sumpah serapah.

Pertama, Ketidaktahuan

Bisa jadi, sekumpulan wanita ini tidak tahu sebenarnya banyak sekali kalangan laki-laki yang berduit bermukim di Banjarmasin, Banjarbaru, dan Martapura. Bahkan sekelas pengusaha Batubara gak melulu menghabiskan uangnya di kampung halaman. Sebagian dari mereka beli dan punya rumah di Banjarbaru, misalnya. bahkan bikin developer perumahan, dan menghabiskan uang-uang mereka di mall sekitaran sini.

Kedua, Dalam pengaruh obat terlarang, alkohol, di luar kesadaran.

Alias sinting. Ya siapa tahu sebelum video itu dibuat, mereka baru pulang dari karoke dan kebanyakan minum alkohol, mampir di warung bakso lalu bikin video. Atau, habis pulang dari THM tadi malam. Siang-siang, efeknya masih terasa gitu lalu iseng bikin video, dan diposting di media sosial.

Ketiga, Terbawa Emosi

Siapa yang tahu di malam sebelumnya mereka habis janjian sebutlah lelaki hidung belang. Atau gini deh, paling ringan, janjian makan di restoran dengan kenalan di fesbuk. Janji traktir lalu ditinggal. Mereka kejebak dan mesti rogoh kocek nggak sedikit. Kebetulan, rekan janjian mereka sekumpulan anak muda dari Banjarbaru, Martapura, atau Banjarmasin. Emosilah mereka dan mengungkapkan melalui media sosial berformat video.

Keempat, Meniru

Memang sebelumnya sudah banyak video yang konotasinya hampir mirip. Dalam konteks menghina suatu usaha, marga, suku, bahasa mungkin, atau kekerean seseorang di hadapan publik dalam hal ini media sosial. Mereka merasa, dengan ungkapan tersebut bisa menjadi pelajaran bagi lingkungannya agar terselamatkan dari penipuan, kali aja.

Karena, tren lingkungan pergaulan

Dan ini menjadi kemungkinan paling kuat. Tersebab, membuat video dan memosting suatu kesalahan atau ketidakterimaan menjadi tren yang mudah diviralkan oleh netizen. Termasuk salah satunya penghinaan yang memancing ketersinggungan yang kadang, sepaling parah, bisa berujung ke ranah hukum dengan undang-undang ITE atas dasar pencemaran nama baik, dan selesai dengan permohonan maaf. Biasanya, sih, begitu.

Lantas, output apa yang diinginkan para perempuan ini?

Kebutuhan seksual, finansial, dan biologis. Dari beberapa hasil penelitian pernah menyimpulkan, motif dari ketelanjangan media sosial menjadi alat untuk mendapatkan uang. Meski pun fakta di lapangan tetap membutuhkan observasi dan interview yang tentative kepada subjek.

Kebiasaan kejiwaan yang melatarbelakangi seseorang seseorang/sekumpulan wanita menghina suatu kondisi keuangan beberapa/sebagian pria adalah, kebutuhan ekonomi, motif kemewahan, dan motif kepuasan (sensasi seksual). Namun jika menengok sudut pandang sosiogenetis yakni, faktor kurangnya pendidikan, agama, serta skill khusus untuk menghasilkan uang sebagai kebutuhan gaya hidup mewah.

Ketelanjangan media sosial mengajarkan kita memilih dah memilah mana konten yang berimbas kepada kehidupan di dunia nyata, bermanfaat, atau unfaedah sama sekali.

Saya menutup layar dan beralih ke konten lain. Lucunya, saya malah mendapati video berbalas dari kaum pria dengan jawaban atas keinginan-keinginan itu. Bayangkan, apa yang terjadi jika di suatu waktu mereka dipertemukan di tempat yang telah dijanjikan. Disengaja atau pun tidak, kita gak pernah tahu! Semua analisis di atas bisa saja keliru.

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

Ananda Perdana Anwar

Lahir di Pelaihari, tinggal di Banjarbaru, suka jadi driver online, tapi lebih senang nulis curhatan penumpang. Nyambi jadi wartawan, dan alhamdulillah masih beriman.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin