EsaiPolitik

Tukang Becak Dan Petani Aja Bisa, Masa Elite Politik Tidak

TandaPetik.Com – 73 Tahun lalu Soekarno akhirnya memproklamirkan kemerdekaan republik ini setelah sekian lama para pendahulu kita mempejuangkannya. Kemerdekaan, sebagai suatu capaian paling prestisius dalam suatu negeri yang ratusan tahun dijajah, diharapkan mampu membuat para rakyatnya—dan para keturunannya kelak—hidup dalam kesejahteraan yang asali.

Namun, seperti mana yang telah Soekarno katakan puluhan tahun lalu, bahwa “perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Benar saja. Puluhan tahun setelah kemerdakaan kenyataannya tak membuat bangsa kita berdamai—utamanya dengan dirinya sendiri. Kita tentu tahu berbagai macam masalah yang telah menimpa negeri ini, dari kasus PKI yang menimbulkan banyak sekali polemik sampai sekarang, reformasi 98 sebagai akhir dari proses menumbangkan kepemimpinan Soeharto, kasus korupsi yang merajarela, kemiskinan yang mematikan, sampai perpecahan umat perihal kasus seorang Basuki Tjahaja Purnama tahun lalu. Pada akhirnya, mau tidak mau, harus kita akui bahwa perjuangan kita dewasa ini adalah melawan kita sendiri, melawan ego setiap manusia yang bertempat tinggal di negeri ini.

Betapa pun saya tidak suka dengan perpecahan, saya kira, hal-hal semacam itu sudah menjadi ketentuan-Nya dalam suatu negeri yang merdeka sekali pun. Sebab, adakah negeri di dunia ini yang sedang baik-baik saja? Yang hidup dalam ketentraman tanpa satu pun masalah. Bahkan, negeri dongeng yang penuh dengan kegembiraan pun pada masanya harus merasakan permasalahan yang teramat pelik bagi penghuninya, bukan?

Tapi, dengan asumsi seperti demikian, apakah kita harus menerima begitu saja perpecahan di negeri ini? Apakah kita mesti diam saja dengan berbagai permasalahannya? Hmmm….saya kira tidak begitu adanya.

Mari kita lihat isu paling panas di tahun-tahun belakangan; pilpres. Bagi saya, pilpres kali ini—dan juga pilpres di tahun-tahun sebelumnya yang saya ikuti—menjadi sangat memuakkan adanya. Ada kubu-kubu yang saling menjelekkan. Saling hina. Saling lempar genggam ke muka lawan—baik secara harfiah atau metafora, keduanya sama-sama pernah terjadi, bukan?

Jujur saja, saya menjadi takut untuk percaya. Mau nonton televisi ini, eh katanya pemilik stasiun televisi tesebut condong ke satu kubu—yang mana kata orang sering menyisipkan kampanye terselubung lewat acara-acaranya. Televisi yang lain, ke kubu yang lain. Begitu juga sosial media, yang saling lontar makian, hina, fitnah, dusta, dan segala macam dosa demi kepentingan argumentasi politik belaka.

Dan, begitulah perpecahan terjadi; yang dulunya kawan, bisa jadi tak lagi saling tegur sapa karena berbeda pilihan. Yang dulu lawan, kini saling peluk demi pencitraan. Dari kaum-kaum fanatik, disebarkanlah isu-isu tidak mendidik demi kepentingan politik, demi calon yang mereka sebut terbaik. Ada yang bilang, gara-gara si petahana tidak becus, jadilah tsunami menghantam negeri ini. Satu yang lain menghantam isu perpecahan keluarga demi menujukkan kubu oposisi tidak baik-baik amat dalam memimpin.

Demi tanah yang kita pijak, serta demi musibah yang memporak-porandakannya. Saya ingin mengajak kita semua berdamai—tidak peduli apakah kamu milih Jokowi atau Prabowo, atau bahkan golput sekali pun.

Coba sekali waktu datang ke pangkalan ojek, wahai kawan-kawan, atau ke sawah, ke pasar, atau ke perkebunan. Saya tidak tahu bagaimana situasinya di daerah kamu. Yang pasti, di sini, di Kalimantan Selatan, di Martapura khususnya, ketika saya datang ke pasar, saya sering melihat akang-akang becak yang memakai baju partai, biru, kuning, merah dan banyak lagi warna-warna lain, sungguh, mereka tetap santai dengan segala perbedaan tersebut. Tetap woles dan berbagi penumpang.

Begitu pula yang terjadi pada para petani di kampung saya, bisa saja petani yang memakai kaos partai berwarna hijau membantu petani lain yang memakai baju partai berwarna merah.

Nah, apa kabar elite politik yang katanya orang-orang terdidik? hmmmmm…..ada satu hal yang paling melekat dalam kepala saya ketika menulis artikel ini, itu adalah pernyataan tentang partai setan dan partai Allah. Hal-hal semacam itu tentu akan berakibat fatal bagi persatuan bangsa. Oleh banyak orang, perkataan dan tindakan orang pintar semacam elite politik seperti itu adalah fakta. Tidak ada tawar-menawar. Masalahnya, ada banyak sekali elite-elite lain yang mengatakan hal serupa, di televisi atau media sosial, menyampaikan segala sesuatu secara sepotong, parsial, bahkan tidak jarang mereka menggunakan logika yang melompat-lompat. Adalah tidak penting siapa dan dari kubu mana yang menebar kebencian serta permusuhan tersebut, yang pasti, itu tidak baik untuk konsumsi rakyat. Saya kira, mereka perlu belajar memahami perbedaan dari orang-orang kecil seperti para petani dan akang-akang becak tersebut.

Ya, barangkali benar jika beberapa dari orang yang saya sebut tadi tidak mengerti sama sekali dengan politik. Tapi, toh, saya kira kita mesti belajar dari orang-orang tersebut, bahwa partai politik hanyalah sebatas baju, sebatas identitas, yang terpenting dari kaos-kaos tersebut adalah persatuan. Bahwa siapa pun dukunganmu, yang paling penting adalah negeri ini mengalami perbaikan: dan kita bisa memulainya dengan bersatu melawan perbedaan.

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

Rafii Syihab

Mahasiswa biasa yang punya cita-cita jadi manusia.

Artikel Berkaitan

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin