Esai

Stop Mendaftar Menjadi Car Driver Online!

TandaPetik.Com – Pernyataan ini tentu akan menimbulkan efek kejut bagi kedua provider aplikasi yang sedang merajai Indonesia karena bertolak belakang dengan misi mereka. Yakni: terima terus tanpa batas. Tapi ini bukan untuk mereka.

Pernyataan ini untuk calon driver online yang mikirnya belum seribu kali saja.Pernyataan ini tentu akan dibantah oleh driver-driver di Jakarta! Why? Karena jumlah penduduknya, kesibukan non-stop 24 jamnya, dan pengguna yang terus naik berlarian berkejaran di tiap tahunnya.

Tapi di daerah, angka-angka itu hanya merangkak perlahan bak bayi yang pantatnya masih merah delima.

Pernyataan ini bukan berarti para driver yang sudah lama takut tersaingi dan cemas jatahnya diambil oleh driver baru. Bukan. Poinnya bukan di situ. Peringatan ini sebagai bentuk rasa sayang karena kita sesama pekerja, para ayah milenial, para lelaki yang siap bertanggung jawab terhadap keluarga. Yang keadaan financialnya di bawah rata-rata.

Tadi malam saya mendapatkan seorang penumpang ibu dengan anaknya. Sebut saja ibu Marsha. Beserta helm. Saya menjemput di sekitaran Siring, wisata susur sungai, Banjarmasin. Sepanjang perjalanan, ibu ini menceritakan betapa suaminya kewalahan menjalani profesi yang saya jalani sekarang. Sekitar 8 bulan beroperasi, dan berakhir pada take over.

“Emang, sih, mas. Di awal angsuran lancar-lancar saja. Angsuran mobil yang dibayarkan dalam sebulan sekitar 3,2 juta. Makin ke sini, katanya bonus semaki merendah nilainya. Ya Allah, kami kelimpungan. Akhirnya Minggu kemarin mobilnya di take over saja. Pendapatan kami sudah tidak menutupi angsuran. Kami sedang cari usaha lain, saat ini jualan jagung bakar di siring,” ungkapnya kepada Saya.

Ibu Marsha adalah korban dari sekian banyak tren pekerjaan yang sedang digandrungi masyarakat urban di era sekarang. Menjadi driver online, seolah menjadi gaya hidup, padahal, ada Kisah Sedih di Hari Minggu di sana. Why? Mengapa hal itu bisa terjadi.

Ketika aplikasi transportasi online raksasa masuk ke Banjarmasin di akhir 2016 dan ramai di pertengahan 2017, masyarakat awam berbondong-bondong merapatkan diri. Konfilk yang sudah selesai di DKI Jakarta beberapa tahun yang lalu pun dimulai di sini, di Banjarmasin dan sekitarnya. Perselisihan taxi online dengan konvensional, pembagian wilayah antara kang ojek pangkalan dengan ojek online, sampai perjanjian-perjanjian di atas materai. Pemerintah daerah seolah kagok dengan digitalisasi zaman sebagai solusi percepatan pembangunan. Tapi kita tidak bahas itu.

Terlepas dari kontroversialnya, ada kisah pedih para driver online sendiri, terutama kategori mobil, car driver. Saya tak bisa pungkiri banyak di antara kaum pekerja yang terhasut akan iming-iming di permulaan oleh si pengembang aplikasi. Mulai bonus yang seolah tak berkesudahan, sampai meningkatnya jumlah driver yang angka perbandingannya tak berbanding seimbang dengan jumlah pengguna (customer). Ditambah hiperbola kabar pendapatan hingga 4 juta sepekan. Empat juta rupiah dalam satu Minggu bersih. Siapa yang tak mau?

Saya mencari tahu soal itu melalui kata kunci di gugel tentu saja. Di pulau Jawa sendiri, sudah banyak yang menyarankan agar tidak lagi melakukan pendaftaran sebagai driver online. Alasannya simple, karena tidak nutup pengeluaran. Orang yang ingin menjadi driver online diharapkan tidak gegabah sampai berani mendepe mobil baru. Karena termakan iming-iming pendapat yang sejuta sekit 4 juta seminggu itu tadi.

Okelah, no problem bagi mereka para calon driver yang sudah duluan punya mobil pribadi tanpa beban angsuran di tiap bulan. Lah, kalau sampai berani ngambil mobil baru dan kredit dalam jangka lama, tenor sampai 5-6 tahun, mau tersiksa sampai kapan?

Di awal-awal mungkin iya. Driver-driver yang memang rajin berangkat subuh pulang subuh mendapatkan lebih dari 500 ribu rupiah sehari di akhir pekan. Bahkan ditotalkan bisa sampai 4 jutaan termasuk bonus dan pembayaran tunai dari penumpang. Tapi makin ke sini, angka-angka seperti di atas semakin berat dicapai. Seperti mendaki puncak tertinggi di pegunungan Meratus. Gak tinggi memang, tapi melelahkan.

Bekerja pada aplikasi online adalah bekerja pada sesuatu yang abstrak. Tidak jelas. Berdasarkan itu pula pihak provider aplikasi online menyebut driver mereka mitra, bukan karyawan. No BPJS, no gaji no tunjangan. Mereka hanya memberikan bonus yang suatu saat terserah mereka mau memberikan kapan dan berapa jumlahnya. Jika driver melanggar aturan, tinggal diputus kemitraan. Tanpa urusan tetek bengek sebagaimana memecat karyawan di perusahaan. Ya siapa tahu kelak ketika pengguna meningkat bonus-bonusan udah gak ada lagi. Siapa tahu?

Jika boleh saya beberkan, di awal masuknya aplikasi transportasi online di Tanah Banjar ini, bonus untuk setiap driver car berkisah pada angka 300 ribu saat mencapai 14 poin atau orderan yang diselesaikan. Semakin ke sini, bonus semakin disedikitkan. Terakhir saya lihat, dua develop raksasa itu hanya memberikan sekitar 145-150 ribu rupiah jika mencapai poin 14. Tanyakan kepada driver online, seberapa mudah mendapatkan angka 10 di setiap hari daerah Banjarmasin dan sekitarnya tanpa tuyul, fake gps, dan kecurangan lainnya? TEBEHERA!

Stop melakukan pendaftaran. Yang sudah terlanjur, jalani saja. Yang baru akan mulai, mending mulailah sebagai ojek online motor. Atau tidak sama sekali. Setahu saya, tidak ada perubahan bonus untuk driver bike. Ya, semoga saja manajemen Jakarta berbaik hati pada kebijakan driver-driver di daerah. Dan para driver yang ingin senang-senang di akhir pekan dengam mobil yang sudah ada tanpa beban, otomatis semua beban-beban di atas tak berlaku.

Kita, kadang hanya ikut-ikutan senang. Tapi di sisi lain, ada yang sedang berjuang menutupi lobang ekonomi rumah tangga yang setiap bulannya selalu berlobang. Kita tak pernah tahu.

Tags

Ananda Perdana Anwar

Lahir di Pelaihari, tinggal di Banjarbaru, suka jadi driver online, tapi lebih senang nulis curhatan penumpang. Nyambi jadi wartawan, dan alhamdulillah masih beriman.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin