Esai

Sholat Jumat Disuguhi Buletin Dakwah, Pulangnya Langsung Pusing

TandaPetik.Com – Sebagaimana semua orang Islam tahu, bahwa, dalam agama yang kita anut ini, hal pertama yang diperintahkan Allah pada Nabi Muhammad adalah membaca. Iqra dalam ayat tersebut tentu tidak semata-mata punya makna sesempit hanya membaca saja. Tidak. Iqra, juga punya makna mempelajari, menganalisa, memikirkan, menelaah, dan sebagainya.

Namun, kendati iqra punya makna yang beragam, kita dapat mengambil paham bahwa perintah untuk mencari tahu itu adalah lewat membaca. Yap, membaca adalah kunci dari segalanya. Dr. Seuss pernah mengatakan bahwa “Semakin banyak kamu membaca, semakin banyak pula yang kamu ketahui”.

Pada era Toktok dan Musiclaly mileneal seperti sekarang, membaca justru menjadi hal yang tabu. Buku-buku dianggap sebagai kitab suci—diletakkan di atas lemari, dibiarkan berdebu, dibuat sebagai jimat agar para setan tak betah tinggal di rumah. Ironis memang.

Tapi begitulah kenyataan yang harus kita terima. Membaca menjadi sesuatu yang tak lagi menarik bagi sebagian kita. Mengapa begitu? Padahal, jika ditengok lagi ke belakang, jauh pada era kejayaan Islam masa Abbasiyah, salah satu faktor yang menjadikan Islam berkembang pesat kala itu adalah penghargaan buku yang begitu mahal. Mereka gila ilmu, gila baca buku.

Nah, jadi begini. Saya hidup di salah satu kota yang dicap sebagai kota agamis. Setiap Jumat, ketika saya pergi ke masjid, saya mendapatkan selebaran berupa ‘khotbah’ yang disampaikan secara tertulis.

Saya senang membaca buletin dakwah tersebut, sebab bagi saya, salah satu cara untuk mengembalikan Islam ke masa jayanya adalah dengan membuat sebanyak-banyaknya orang Islam gemar membaca—bacaan apa saja. Saya senang dengan apa yang dilakukan orang-orang itu.

Sebagaimana lazimnya khotbah, selebaran itu menuliskan hal-hal mengenai keagamaan. Satu Jumat, mereka membahas tentang takwa, bahwa ketakwaan adalah status tertinggi seorang hamba terhadap Tuhannya. Selebaran itu bahkan menyinggung soal satu paham yang memisahkan agama dari urusan politik, negara, atau institusi.

Sampai di sana, bacaan Jumat yang saya nikmati masih biasa-biasa saja. Itu benar, tentu saja. Islam bukan soal akhirat belaka, Islam juga soal kehidupan dunia.

Tapi apakah bacaan Jumat hanya berkutat soal akhirat saja?

Nah, ini yang saya bingungkan. Mungkin celoteh ini hanya bersifat sebagai asumsi saya belaka—semoga. Ada satu paragraf yang akhirnya membuat saya berkata ‘Loh kok larinya ke Pak Anu, ya?’

Akibat hilangnya takwa akhirnya membuat seseorang tak lagi menepati janji. Di sana, di tulisan itu, mereka mengutip salah satu pendapat dari mantan Komisioner Komnas HAM yang mengatakan bahwa ada 66 janji kampanye Anu yang belum ditepati.

Banyak janji diingkari, seperti utang negara, tarif listrik, dan lainnya. Lalu, dalam baris selanjutnya dikatakan betapa bahayanya kerusakan yang dihadirkan akibat sekularisme hingga membuat orang tidak merasa berdosa dan kehilangan takut kepada Allah Swt. Oh my..

Apakah bacaan ini punya pesan terselubung? Entahlah, sekali lagi, ini hanya asumsi saya. Bisa jadi yang mereka tulis memang tulus tanpa niat mendukung si Anu dan melengserkan si Anu. Hanya saja, sebagai orang yang tak jelas rimbanya saudara senegara, saya ingin memperingatkan kepada pembaca, bahwa tak semua bacaan Jumat itu memuat akhirat tok.

Kadangkala ada pesan-pesan yang menggiring opini pembaca agar melakukan sesuatu—di luar konteks politik, bisa jadi pesan itu mengajak Anda untuk jadi teroris—terlebih tahun depan akan diadakan pemilihan presiden. Ya, mbok, hati-hati kalau dengar atau baca sesuatu yang nantinya akan membuat otak dan hatimu goyah.

Salam Toktok

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

Rafii Syihab

Mahasiswa biasa yang punya cita-cita jadi manusia.

Artikel Berkaitan

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin