Sosok

Seniman Seni Rupa Banjarbaru Sulistyono Hilda Dapat Empat Penghargaan Bergengsi Dunia

TandaPetik.Com – Seniman Seni Rupa Kalimantan Selatan Kota Banjarbaru Sulistyono Hilda mendapatkan empat penghargaan bergensi dunia tahun 2018 ini, sebelumnya tahun 2007 dan 2010 pernah mendapatkan penghargaan seniman kontemporer dari Jepang dan Cina.

Empat penghargaan yang diraih Sulistyono Hilda tahun 2018 yakni terpilih karyanya di Asian International Art Exhibition di Qingdao China dan bakal berangkat pada tgl 21 Oktober hingga 23 Oktober 2018. Pada bulan September dua karyanya terpilih dalam The Best Artis Modern and Contemprer Art  2018 by Fracesco Russo dan Salvatore Russo. Pada tanggal 26 November hingga 1 Desember satu karyanya terseleksi di Flanders Bruges Brussel Biennale, Belgia dalam ajang yang memilih 60 perupa contemporer dari lima benua. Serta penghargaan lagi akan diraihnya dalam penghargaan Cavargia di Milan Italia, tanggal 7 desember.

“Oleh sebab hal ini selain berangkat ke Qingdao Cina selam lima hari, saya berencana ke Eropa selam lima belas hari menghadari acara itu sekaligus ke museum-museum dunia yang ada di Eropa  dalam rangka mengamati karya-karya old master seperti karya vincen Van Gogh dan lainnya,” ujarnya.

Sebelum keberangkatannya ke Cina dan Eropa tersebut, dia menyampaikan terkait proses hidup berkesenian selama ini.

Proses hidup berkesenian menurut Sulistyono Hilda

Dalam proses hidup berkesenian  dan layak  disebut seniman profesional secara  garis besar  perupa/ pelukis  melalui dua hal yaitu , bagaimana ia menciptakan karya  sebagai kreator, lalu  bagaimana seorang seniman itu menyampaikan karya karyannya ke apresiator,

Dalam hal “ bagaimana seorang seniman menciptakan karya  ( creator)” tentu berhubungan  baik teori seni rupa, teknik, pengusaan material, kemampuan menghadirkan konsep dsb . Dalam hal ini seniman akan terus bereksperimen dengan pemikiran-pemikiran baru yang memungkinkan seorang seniman memilki karya yang berkarakter. Menempatkan sang seniman  memiliki karya yang menarik untuk diapresiasi.

Dalam hal “ bagaimana suatu karya seniman sampai pada penikmat seni atau apresiator “ ialah hal yang sering kurang mendapat perhatian seorang seniman. Dalam hal ini sang seniman acap hanya menunggu daripada istilah jemput bola.

Dikalangan seniman sendiri ada kata kata demikian , “Seniman ya tugasnya berkarya , sementara pengelolaan seni ialah tugas pengelola seni “  Seniman alpha bahwa dalam seni rupa suatu karya yang dihasilkan dan hendak disampaikan ke apresiator ialah terdapat apa yang disebut pasar seni rupa dengan segala karakter dan pemahaman pasar seperti kompetisi produk, nilai keuntungan dsb.

Dalam hal ini sang seniman mestinya juga mempelajari bagaimana suatu pengelolaan seni rupa, memahami pasar seni rupa sebagai bagian menunjang  hidup berkesenian, turut aktif dalam pengembangan budaya utamannya peningkatan rasa apresiasi masyarakat atas seni rupa.

Alasan tersebut diatas ialah mengapa seorang seniman memelukan media untuk memamerkan karyannya, baik lokal, regional, nasional hingga internasional.

Setiap pribadi manusia bisa berkata dirinya ialah seorang artist, seorang seniman namun lingkungan dimana sang seniman hidup akan menguji, apakah ia layak disebut seniman professional, oleh sebab pun seseorang mendapat gelar sebagai seorang yang mengantungi gelar akademis tentu menjadi seorang seniman professional ialah hal lain,  kata profesional tampaknya diberikan oleh masyarakat oleh track record atau jam terbang  capaian artistiknya yang diakui dan menginspirasi. Tentu tak salah dalam hal ini oleh kata seniman tentu tak bisa dipisah dari istilah kreatif dan inovatif yang tentu memilki makna unggul dalam hal memecahkan  masalah dan menilai masalah dan menemukan cara baru untuk tetap bertahan hidup dan mungkin lhidup lebih baik lagi.

Selain memberi arti atas dua pertayaan di atas, seniman dengan anugerah kreatif dan inovatif yang melekat dalam dirinya dapat menjadi ujung tombak atas perkembangan ekonomi kreatif yang sedang digaungkan pemerintah.

Pehaman teori mendasar atas seni rupa di era kontemporer tentu memilki arti yang lebih baik. Antara keduanya dapat lebih dilhat lebih jelas dengan pemahaman “ meleburnya” sekat yang kaku di era yang disebut era modern.

Dalam era kontemporer ( postmo modern ) istilah melebur ini mesti dipahami bijaksana, yaitu bukan berarti tak terdapat karakter perbedaan, namun karakter karakter itu bisa dicermati oleh semangat tranparansi sehingga  didapati nilai-nilai yang bisa saling disandingkan dan bisa diambil suatu nilai untuk kehidupan lebih baik. Seorang seniman tak perlu menyiksa diri oleh kutub-kutub pemahaman teori seni rupa misalkan istilah fine art ( seni murni ) dan applied art ( seni terapan  seperti seni yang berhubungan dengan industri kerajinan dan sebagainya) namun sebaliknya  menemukan manfaat yang baik atasnya, dan justru mampu menunjang proses hidup berkeseniannya lebih tinggi lagi.

Era kontemporer dengan teknologi digital seperti saat ini ialah mampu memberi peluang kehidupan yang lebih baik jika mampu mengambil nilai positifnya.

Demikianlah proses hidup berkesenian itu dijalani , selain mampu mengembangkan diri capaian lebih tinggi juga sekaligus pengembangan lingkunan utamannya masalah ekonomi kreatif.

Tags

ardian

Saya adalah penggemar segala hal. Satu hal yang tidak saya gemari, berpikir!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin