Esai

Pray for Lombok dan Video Ketegaran Iman

TandaPetik.Com – Saya mengunjungi Lombok beberapa tahun lalu. Kondisi tanah tandus dan menara-menara masjid menjadi pemandangan yang tak terlupakan. Kota yang religius sekaligus ramah untuk wisatawan asing di pulau-pulau eksotisnya menjadi pemasukan andalan yang mampu memutar cepat roda ekonomi masyarakatnya. Dan tentu saja potensi wisata laut yang tak pernah habis dieksplor beribu-ribu kali.

Sebagian kami (masyarakat Kalimantan) tak merasakan itu. Itu yang saya maksudkan adalah gempa di sepanjang catatan sejarah geografi.

Kemarin, gempa mengguncang wilayah Bali, Lombok, dan Sumbawa dengan kekuatan yang tidak kecil, 7,0 skala ritcher. Gempa yang sebenarnya rangkaian yang sudah terbaca tanda-tandanya di tanggal 1 Agustus hingga puncak parahnya pada 5 Agustus kemarin. Hal ini menjadi perhatian serius, tidak hanya kita masyarakat di Indonesia, melainkan dunia.

Sebagian kita hanya melihat peristiwa di layar kaca dan media sosial semata. Tagar #Lombok dan #PrayForLombok menjadi trending di twitter. Menjadi pembahasan dan ajang doa para tokoh politik, artis, dan penceramah kondang yang gemar bermedia sosial. Doa-doa tertuit agar cepat dikirimkan ke tekape dan tidak ada gempa susulan.

Betapa, goncangan yang begitu dahsyat meruntuhkan beberapa infrastruktur, rumah, dan bangunan di pusat kota Mataram. Sebagian masyarkat Bali, Lombok, dan Sumbawa mungkin bisa sedikit berlega walau masih ada rasa was-was. Yaiyalah. Tapi, tidak dengan masyarakat yang justru tinggal persis di pusat gempa yaitu Dompu, NTB. Kabar terakhir yang dilaporkan pihak Kecamatan Pekat, ada 40 rumah warga rusak parah. Semakin pemberitaan ini berkembang pendataan masih terus dilanjutkan.

Musibah yang saya yakini akan menjadi bencana nasional ini semata-mata adalah fenomena alam, yang lahiriah, sunatullah, dan memang tak bisa ditangkal. Kita patut berbangga, masyarakat Indonesia seperti sudah terlatih merespon cepat musibah yang sifatnya besar, (terlebih pasca Tsunami Aceh 2006 silam). Lembaga-lembaga sosial beserta para prajurit kebanggan diturunkan untuk urusan evakuasi dan segala macamnya. Kita yang jauh dan memantau perkembangannya, bantu lah dengan doa. Semua sudah ada tupoksi masing-masing.

Anda tahu apa yang dikatakan pemerintah setempat dan pihak BMKG soal ini? โ€œMasyarakat di Lombok Barat dan sekitarnya dihimbau tetap tenang dan melaksanakan aktivitas seperti biasa,โ€ katanya.

Saya menengok sebentar saja riwayat gempa di Lombok, yang ternyata ada lebih dari 5 riwayat gempa yang aktif dan terutama sekitaran Sumbawa. Di antaranya, Tsunami Tambora 10 April 1815, Tsunami Bima 8 November 1818 tinggi 3,5 m, Tsunami Bima 29 Desember 1820 tinggi 24 m, Tsunami Bima 5 Maret 1836, Tsunami Bima 28 November 1836, Tsunami Labuantereng, Lombok 25 Juli 1856, dan Tsunami Flores 12 Desember 1992. Meski dalam pernyataan pihak BMKG meyakinkan kecil kemungkinan adanya gempa susulan, sudah sepatutnyalah kita pun waspada.

Video terkait saat gempa terjadi pun cepat berwara-wiri di timeline media sosial. Ada yang pontang-panting berlarian di jalanan, reruntuhan bangunan, kerusakan sarana rumah sakit, bubarnya shalat berjamaah di masjid, sampai video rekaman suara di grup WA para mahasiswa yang ada di Lombok yang berbunyi permintaan pengiriman bantuan karena terisolasi.

Yang menarik dari peristiwa ini, ada satu video yang mampu menggetarkan hati, seorang imam tak bergeming dari shalatnya. Ia melantunkan ayat Quran sembari tangannya ke dinding untuk menahan goncangan agar tetap tegak. Bibirnya terus bergetar melantunkan ayat suci Quran. Beberapa makmum di belakangnya ada yang sudah roboh dan meninggalkan shaf. Ada juga yang kembali ke barisan ketika melihat sang imam tak berkutik dari pijakan sajadahnya. Allahumayarham.

Berikut videonya:

Video itu berdurasi 1 menit hingga goncangan dari frame kamera mun redam. Selalu saja ada hikmah di balik peristiwa, dari sedihnya para korban dan keimanan yang menggetarkan relung hati terdalam. Tidak sepantasnya lah jika peristiwa ini dikatikan dengan beralihnya dukungan gubernur kepada presiden, misalnya. Dan terparah lagi, ada saja pihak yang tak ingin meminta pertolongan kepada kepala negara melainkan kepada lawanny politiknya. Heran.

Sudahlah, peristiwa begini hebat bisa sebagai teguran dari sang khalik kepada makhluk, yang tanpa kita sadari, justru menguji kita yang di luar Lombok ketimbang mereka masyarakat Lombok itu sendiri. Lantas pada bagian mana kita bisa mengambil pelajaran dan peran?

Tags

Ananda Perdana Anwar

Lahir di Pelaihari, tinggal di Banjarbaru, suka jadi driver online, tapi lebih senang nulis curhatan penumpang. Nyambi jadi wartawan, dan alhamdulillah masih beriman.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin