Cinta

Pengakuan: Aku Telah Membunuh Mantan Kekasihku

Sudahkah kau membunuh mantan kekasihmu?

TandaPetik.Com – Jika Nietzsche pada abad 19 lalu berkata bahwa Tuhan telah mati, maka hari ini saya justru akan berkata bahwa: mantan telah mati.

Saya tidak akan menggambarkan ini lewat perumpamaan orang sinting yang mendadak membawa lentera di siang bolong ke suatu pasar seperti yang dilakukan Nietzsche pada tulisannya itu, atau menjerit-jerit dengan muka ketakutan seakan dunia besok akan kiamat. Tidak akan.

Mantan saya telah mati, dan saya adalah pelakunya

Ini adalah pengalaman sakral yang terjadi pada diri saya pribadi Kamis lalu. Tak ada angin tak ada hujan, dengan tiba-tiba saya menemukan kembali kaos pemberian mantan saya beberapa tahun lalu di lemari, tertumpuk di antara kain-kain lain—persis dia yang kini telah tertumpuk dalam relung hati saya bersama dengan mantan-mantan yang lain, uhuk.

Rencananya siang itu saya mau nyumbangin baju saya yang sudah gak muat, itulah mengapa saya mengobrak-abrik lemari baju. Dan, ketemulah kaos itu, beserta kenangan yang berkelindan tak menentu dalam kepala. Asyik.
Kaos itu kumal, berbeda sekali dengan awal diberikan dulu. Warnanya abu-abu dengan tulisan Monster berwarna hijau, lengannya pendek dan saya taksir harganya tak lebih dari lima puluh ribu. Murah, memang. Tapi percayalah, dulu, kaos itu lebih berharga dibandingkan kaos-kaos saya yang lain—yang kebanyakan adalah kaos pemberian partai.

Kenangan, entah bagaimana caranya, bisa begitu saja datang menghantui. Dalam kepala saya tiba-tiba bayangan tentang doi datang, dengan senyum yang memesona dia berdiri di satu sudut ruangan, menatap tajam sebagaimana dulu ia lakukan. Bersamaan dengan itu, kenangan lain tentang masa lalu mulai berdatangan: bagaimana dulu pdkt, menjalaninya, dan bagaimana semuanya harus berakhir dengan tangis penuh sesal.

Saya masih ingat, dulu, waktu awal-awal putus kaos itu saya gantung di sudut kamar. Setiap akan tidur saya menatapnya penuh harap, semoga hubungan itu bisa kembali—bahkan jika pun itu hanya sebatas dalam mimpi. Ough, memalukan.

Tapi kini, perasaan sakit ketika mengingat kenangan itu hilang. Sumpah. Yang saya ingat hanyalah hal-hal lucu, bahkan kenangan bahwa dulu saya ditinggal kawin juga menjadi bahan lelucon yang menarik.

Konon begitulah adanya kenangan, segala hal yang dulu pernah terjadi, betapa pun buruknya, kelak pada suatu hari di saat kebahagiaan lain sudah begitu melekat dalam diri kita, kenangan buruk itu hanyalah sebatas ingatan yang biasa—yang mungkin akan kita tertawakan dengan suka cita.

Saya tidak akan melupakan kenangan itu, tentu saja, begitu juga dengan kenangan-kenangan lain bersama orang-orang lain. Lagian, menurut saya sih, definisi move on itu bukan melupakan, tapi memaafkan dan berdamai dengan masa lalu. Ituh.

Dalam perkara ini, saya kira saya memang telah membunuh mantan, tidak dalam pengertian secara harfiah, melainkan dalam konteks yang lebih kompleks: saya tak lagi sakit hati mengingat mantan, dan itu penting.
So, teruntuk para mantan di seluruh muka bumi, mari kita berdamai dan saling “membunuh” kenangan dalam hati kita masing-masing. Huhuhuhu…

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

Rafii Syihab

Mahasiswa biasa yang punya cita-cita jadi manusia.

Artikel Berkaitan

5 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin