Esai

Oh. Gusti. Pemilihan Ketua Dewan Mahasiswa Saja Mereka Cuek

Studi Kasus: Institut Agama Islam Darussalam Martapura

TandaPetik.Com – Siapa bilang Islam dan politik adalah dua hal yang tak ada kaitannya sama sekali? Dalam sejarah Islam, Madinah merupakan negara Islam pertama di dunia ini. Berikut pemaparannya.

Kala itu, Madinah dipegang oleh baginda Nabi Muhammad Saw. langsung, dibantu oleh para sahabat yang memiliki integritas dalam menjalankan roda pemerintahan. Nabi Muhammad, ketika itu, bukan hanya sebagai seorang pemimpin rohani bagi umat-umat Islam, melainkan juga sebagai seorang birokrat pemerintahan.

Apakah beliau ditunjuk sebagai kepala negara melalui wahyu Allah Swt? Tidak. Beliau mendapat legitimasi oleh rakyat Madinah berdasarkan kesepakatan yang disebut sebagai Perjanjian Aqobah yang terjadi pada tahun 621 M dan 622 M.

Melihat berbagai macam golongan yang ada di Madinah kala beliau memimpin negeri itu, membuat Rasulullah Saw melakukan langkah-langkah untuk dapat mempersatukan mereka. Pertama, beliau mempersatukan Muhajirin dan Anshar demi persatuan dalam Islam itu sendiri.

Kedua, beliau merancang dan menetapkan perjanjian tertulis yang mengandung fundamen politik yang kokoh dan aturan-aturan yang jelas bagi kehidupan masyarakat Madinah agar merasakan rasa aman yang sama bagi setiap orang atau kelompok yang ada di sana, prinsip tertulis itu dikenal sebagai piagam Madinah—konstitusi tertulis pertama di dunia. Dan, langkah-langkah tersebut merupakan fondasi awal terbentuknya kenegaraan dan pemerintahan dalam Islam.

Selanjutnya, selepas wafatnya Rasulullah Saw., politik Islam terus berkembang dengan cara seperti musyawarah—seperti pemilihan khalifah Islam pertama, pembentukan tim formatur, atau sistem monarki yang dipraktekkan Muawiyah.

Lihatlah, apakah Islam tak pernah mengenal politik? Apakah politik selalu punya konotasi yang jelek dalam Islam? Tidak bukan?

Nah, selanjutnya, saya akan sedikit bercerita tentang pesta demokrasi di kampus saya, Institut Agama Islam Darussalam, Martapura.

Pemilihan Pemimpin Dewan Mahasiswa

Kemarin, baru saja kami menentukan pemimpin Dewan Mahasiswa yang baru untuk satu tahun ke depan. Ada dua pasang calon yang ‘berlomba’ untuk merebut kursi itu. Namun, saya tak ingin membahas tentang siapa yang calon dan siapa yang terpilih jadi pemenang, atau bagaimana track record kedua calon itu. Saya ingin membahas tentang mereka-mereka yang punya suara untuk memilih.

Mahasiswa yang terkenal sebagai makhluk-makhluk kritis dan dicap sebagai agent of change alias agen perubahan, seharusnya punya kesadaran untuk membuka mata terhadap hiruk-pikuk politik, baik itu politik kampus atau politik negara yang ditinggalinya ini.

Mahasiswa menjadi harapan tumbuhnya orang-orang berkualitas dengan kematangan cara berpikirnya agar membawa negeri ini menjadi lebih baik. Dan melek politik, merupakan satu hal yang paling penting untuk menjadikan negeri ini bersih dari tangan orang-orang bejat.

Namun faktanya, di kampus saya, dari seribuan mahasiswa yang punya hak suara, hanya ada 440 orang yang menggunakan hak suaranya dalam pemilihan Dewan Mahasiswa itu—itu artinya kurang dari separuhnya—Mengapa? Kampus Islam, loh. Sebegitu jijiknyakah orang-orang ini terhadap politik?

Beberapa orang teman saya justru dengan jelas berkata bahwa mereka tidak peduli terhadap politik kampus macam begitu. Bagi mereka, hal itu tak ada sangkut pautnya dengan nilai kuliah. NILAI KULIAH! Apakah kuliah hanya sebatas nilai?

Oh. Gusti. Apakah mereka ‘termakan’ ideologi barat bernama sekularisme sehingga mereka berani memisahkan agama dan politik? Apakah mereka beranggapan bahwa memilih Islam berarti menafikan politik? Islam atau politik? Ough, padahal, kata hubung yang tepat antara politik dan Islam bukan ‘atau’ melainkan ‘dan’.

Ini mungkin bukan kontestasi politik yang besar, toh kampus saya juga termasuk kampus antah-berantah di negeri ini—kampus kecil di kota kecil. Tapi, saya melihat ini sebagai sesuatu yang mengerikan.

Di kampus saya yang kecil saja sudah begitu banyak orang yang memilih untuk tidak peduli terhadap politik. Lalu bagaimana di negeri ini, apakah kelak pada tahun 2019 saat pemilihan presiden juga akan terjadi hal serupa—separuh lebih para pemilik suara memilih untuk tidak peduli.

Owalah, bagaimana jadinya negeri ini kalau mahasiswanya saja sudah tak lagi peduli terhadap negerinya, kalau mahasiswanya saja kuliah untuk cari nilai semata, apa jadinya?

Tags

Rafii Syihab

Mahasiswa biasa yang punya cita-cita jadi manusia.

Artikel Berkaitan

11 Comments

  1. Ini baru artikel yg menyehatkan pembacanya. Lanjutkan, Bung! Buat tandapetik, terus berkaya, suguhi kami bacaan cerdas

  2. Begini kawan. Menurut saya opini anda itu kan menjadi argumen anda. Namun bagaimana bila opini yang anda miliki itu keliru dan tidak sesuai dengan apa yang terjadi? Penggiringan opini yang dilakukan oleh anda ini seolah mengatakan bahwa setiap yang tidak memilih mereka mempunyai paham sekuler.
    Belum lagi anda mengatakan bahwa menurut survey anda mahasiswa lebih mementingkan nilai, itu mahasiswa yang mana??? Anda jangan menganggap remeh kata² anda di situ… Sertakan data yang akurat bila anda ingin mengatakan “Atas dasar survey”. Apa jangan² malah hanya teman anda yang disurvey?
    Belum lagi anda mengatakan bahwa Kampus kita antah berantah di kota kecil, ini seolah mengatakan anda mengejek kampus sendiri. Setidaknya jangan lah mengejek seperti ini, malah seolah kita menganggap remeh perjuangan pendiri kampus. Kalau tidak suka ya silahkan pindah.
    Anda juga menulis ini kan murni opini, kalau mau buatlah di Facebook atau Blog Pribadi.
    Perbedaan pilpres dengan dema sudah terlihat dari awal.
    Kalo KPU Nasional sudah ada agenda yang masyarakat sudah tau jadwalnya.
    Kampus kita? Kok malah tiba² pemilihan. Progja nya gak jelas.
    Dimana sekulernya? Dimana demokrasinya? Saya rasa demokrasi barat pun tidak mengajarkan seperti ini.
    Apakah politik yang dipahami oleh panitia, paslon, hingga ANDA itu sesempit ini? Sampai berkoar tentang politik dan Islam?
    Bahkan seolah mencari bahan untuk disalahkan melalui penggiringan opini ini?
    Apa karena kurangnya suara hingga pasangan yang didukung kalah?
    No offense…
    Tapi tulisan anda itu juga sudah menyinggung banyak pihak yang tidak sesuai dengan tulisan anda ini.
    Saya kemarin tiba² juga dikabarkan teman saya bahwa terjadi pemilihan, lho saya juga kaget dong tidak ada kampanye dan sosialisasi atau tetek bengeknya kok tiba² seperti ini? Dan saya juga sedang tidak berada di tempat.
    Saya pun melihat di IG bahwa memang jadwal pemilihan terjadi kemarin, dan jadwal itu pun muncul di IG setelah pemilihan. Saya lihat di situ ada jadwal debat, dll.
    Kok bisa saya tidak tau? Apakah harus saya yang kesana kemari untuk mencari tau? Wow hebat banget.
    Dan juga ada yang tiba² akrab dan ingin minjam KTM, woy memangnya seperti pihak Timses Jokowi yang suka ngoleksi KTP?
    Dan menurut saya opini anda SALAH BESAR jika menyalahkan mahasiswa karena tidak memilih, mengingat apa yang terjadi di kampus.
    Atau anda mendukung paslon sebelah dan tidak terima karena paslonnya kalah, langsung deh menulis ini untuk mengungkapkan kekecewaan karena kurang suara. Haha…..

  3. Sebenarnya saya juga kecewa. Saya dari awal sudh ada niat untuk memilih. Tpi jadwalx diubah menjadi hari sabtu untuk reguler. Dan untuk kelas kami reguler semester 6 pagi. Hari sabtu itu sudh libur dan saya sudh jauh” hari memiliki jadwal hari sabtu itu untuk pulkam. Bukan tidak ingin memilih atau paham sekuler tpi apa boleh buat karena pemilihan mendadak dirubah. Nh mungkin inisalah satu penyebabnya banyak mahasiswa yg tidak memilih.

    1. Ya, ada banyak alasan mengapa para mahasiswa tidak memilih. Dan kita menyoroti dua alasan yg berbeda: km tentang jadwal, sya tentang melek politik. Dan itu tidak masalah. Mari menerima perbedaan😊

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin