Ekonomi

Menghitung Penghasilan “Paman” Nasi Goreng di Banjarbaru

TandaPetik.Com – Nasi goreng memang menjadi salah menu santapan yang menggugah selera dalam setiap kondisi. Entah itu pagi hari, siang, malam atau pun larut malam, selalu nikmat disantap.

Nasi goreng ini juga bukan makanan yang sulit ditemukan seperti menu-menu lain, di pinggir jalan pun bisa kita temukan. Seperti di kota Banjarbaru khususnya, saat malam hari banyak kita temukan penjual nasi goreng mangkal di pinggiran jalan menggunakan fasilitas gerobak. Tentu saja mereka mangkal di pinggir jalan yang ramai dilalui orang, kalau tempat sepi, bisa-bisa itu penjual nasi goreng dari alam ghaib.

Penjual Nasi Goreng di Banjarbaru

Di Banjarbaru bisa kita temukan di sekitar bundaran Simpang 4 Banjarbaru, dekat Polres Banjarbaru, dan di tempat-tempat lain. Kalau dihitung-hitung, mungkin sampai ada ratusan “paman” penjual nasi goreng di Banjarbaru.

Nah yang saya bahas dalam tulisan ini terkait hasil penjual nasi goreng gerobak bukan penjual nasi goreng yang menggunakan tempat khusus semisal warung atau rumah makan. Saya sebut saja “Paman Nasi Goreng”, karena kebanyakan para pria yang berjualan walau sebagian ada “Acil” atau “Ibu-ibu” yang berjualan nasi goreng ini.

Kalau kita lihat, Paman nasi goreng ini biasanya mereka berjualan di malam hari. Pangsa pasar mereka adalah para konsumen yang merasa lapar di malam hari, konsumen yang malas untuk masak mie, dan konsumen yang ingin menikmati santapan murah meriah (satu porsi rata-rata 10-15 k tergantung campuran menu, beda dengan di rumah makan atau warung yang bisa di atas harga tersebut).

Berjualan di malam hari sampai larut malam sepertinya juga menjadi strategi dagang Paman nasi goreng, karena di saat itulah warung-warung makan sudah tutup.Oke, terlalu panjang ini itunya (padahal tidak terlalu penting), saya langsung saja membahas berapa sih penghasilan dari para paman penjual nasi goreng ini?

Penghasilan Penjual Nasi Goreng di Banjarbaru

Berdasarkan hasil survey yang saya lakukan pada salah satu “paman” yang ada di sebuah pinggir jalan. Mengaku dalam satu malam rata-rata bisa menghabiskan 2 “papan” (tempat telur).

Wah lumayan banyak, berarti kalau “papan” itu dapat memuat 30 butir telur per-papan, berarti dia bisa menghabiskan 60 butir telur. Nah berdasar hasil observasi saya di saat sambil menunggu pesanan, ternyata dia menyajikan satu butir telur untuk perporsi nasi goreng.

Lantas beberapa uang yang diraup? Berdasarkan dokumen daftar menu, dia menjual nasi goreng kisaran 10-15 ribu, tergantung menu seperti apa nasi goreng tersebut. Apakah nasi goreng mawut, nasi goreng bakso, nasi goreng biasa, dll.

Nah di sini, kalau dirata-ratakan harga jual per-porsi nasi goreng Rp 10 ribu, maka dalam satu malam dia bisa menghasilkan uang Rp 600 ribu rupiah dari 60 porsi nasi goreng yang terjual. Lantas berapa penghasilan bersihnya dalam semalam?

Mari kita berasumsi kalau modal bahan baku dia 50% dari penghasilannya (kemungkinan harga bahan baku bisa di bawah 50%). Nah kalau 50% dari penghasilan uang yang dia keluarkan untuk bahan baku, maka keuntungan dia Rp 300 ribu per malam. Jika satu bulan, dia bisa meraup keuntungan Rp 9 juta rupiah. Wow amazing sekali kan penghasilannya.

Nah mungkin dia tidak selalu mujur bisa menghabiskan 60 porsi, misal 30 porsi berarti kita tinggal bagi 2 penghasilannya dalam sebulan, berarti mencapai Rp 4,5 juta perbulan.

Penghasilan paman nasi goreng ternyata melebihi gaji pokok walikota yang menurut Keppres No. 68/2011 sebesar Rp 2,1 juta ditambah tunjangan Rp 3,78 juta jadi total Rp 5,88 juta per bulan.

“Hore, hidup paman nasi goreng!”

*Sumber dari satu penjual nasi goreng, keabsahan data belum bisa dipertanggungjawabkan, perlu ada penggalian dan survey lebih mendalam terhadap penghasilan “Paman Nasi Goreng”.

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin