Sosok

Mengenal Gusriansyah, Birokrat yang Siap Mengabdi untuk Rakyat

Sosok yang Hobi Menulis, Membaca dan Pecinta Alam

TandaPetik.Com – Saya kira tak banyak birokrat setelah habis masa abdinya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), lantas mendedikasikan diri mengabdi untuk rakyat melalui calon legislatif (caleg), Adalah Drs Gusriansyah M.Si yang akrab disapa dengan panggilan, Cacah.

Melihat jejak rekamnya, Cacah telah melewati masa di pemerintahan sebagai Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Banjarbaru selama 5 tahun. Tiba masa pergerakan roda pemerintahan, ia mengepalai Badan Perizinan dan Pelayanan Terpadu (BP2T) Kota Banjarbaru, kemudian menjadi asisten walikota selama 8 bulan, dan mengakhiri jabatannya selama 8 bulan sebagai Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Banjarbaru.

Legislatif Bukan untuk Coba-coba, Pahami Trifungsi Dewan

Trifungsi dewan bukan hal yang asing bagi Cacah. Yakni fungsi anggaran, fungsi pengawasan, dan fungsi legislasi perda dan sebagainya. Kepada penulis dikatakannya, memasuki koridor legislatif seyogiannya bukan perihal untuk coba-coba.

“Legislatif perlu diisi orang-orang yang mengerti dan memahami tiga fungsi tadi. Menurut saya, orang-orang birokrat mampu melakukannya. Dan tentu saja, keterlibatan orang-orang birokrat dapat memberikan dampak positif dan mampu menjalankan fungsi sesuai aturan undang-undang. Jadi, selain mewakili aspirasi masyarakat, juga berfungsi sebagai pengawasan pergerakan dan program eksekutif yang sudah berjalan sesuai dengan prosedurnya,” ungkapnya.

Cacah; Rajin Menulis, Membaca dan Pecinta Alam

Pada masa menjabat sebagai kepala dinas di beberapa instansi, Cacah juga kerap menyampaikan ide-ide dan pemikirannya dengan mengirimkan tulisan ke koran. Tema-tema yang ditulisnya fokus pada perkembangan dan persoalan yang seringkali menghinggapi kaum urban seperti kota yang sedang berkembang. Secara, tesisnya juga tak jauh dari pembahasan perkembangan kota yang berkaitan dengan tokoh lokal sebagai penggeraknya: Peran Birokrasi lokal Dalam Pembangunan.

Kemampuan dan pemikiran Cacah dalam pembangunan suatu pemerintahan sering dituangkan dalam bentuk tulisan berupa esai dan opini di koran-koran lokal juga Nasional. Kemampuan menulisnya yang apik tentu juga diiringi dengan hobi membacanya yang membabi buta. Bahkan sejak masa didik di SMPP 28 Banjarmasin, Cacah menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Majalah Dinding di masanya.

Cacah menyelesaikan pendidikan APDN pada 1984, STIALAN RI Ujung Pandang 1990, dan Program Pasca Sarjana UNHAS tahun 1994. Tak hanya unggul dalam akademik, Cacah di masa muda juga sebagai pecinta alam yang terlibat dalam Ekspedisi Semeru tahun 1978 bersama rekan sejawatnya, dalam kegiatan Pertemuan Jumpa Pecinta Alam se-Indonesia. Padahal, ketika itu umurnya baru 18 tahun.

Pemikiran Cacah; Hubungan Pemerintah dan Masyarakat

“Pendapat umum yang diketahui selama ini, Pemda sebagai pelaksana yang melaksanakan pembangunan. Padahal, pemerintah secara fungsi sebagai penyelenggara sekaligus motivator untuk memotivasi masyarakat agar turut serta, yakni berpartisipasi, dalam segemen yang berkaitan dengan pembangunan kotanya,” ungkap Cacah.

Diyakinkannya, sebagai motivator, sudah tentu harus mampu membangkitkan semangat masyarakat dalam kemandirian dan keinginan yang kuat untuk membuka hasrat sebagai tokoh yang andil pada perkembangan daerahnya.

“Peran birokrasi bisa untuk merangsang. Sebagai bentuk kemajuan dan penggerak modernisasi. Perlu kiranya melibatkan banyak orang untuk sama-sama mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan suatu daerah sebagai perkembangannya,” jelasnya.

Yang pastinya, Cacah yakinkan peran birokrasi selain sebagai pelayan publik, juga sebagai Agent of Change, pelopor perubahan modernisasi bangsa.

Bagaimana dengan Banjarbaru?

Menurutnya, birokrat di ruang lingkup Banjarbaru beruntung karena didominasi oleh masyarakat yang sebagian besar memang melibatkan diri dalam pembangunan. Ia menilai, tingkat partisipasi di Banjarbaru. Sebagaimana dilihat dari aspek indek pembangunan, IP pendidikan paling tinggi se-Kalsel adalah Banjarbaru.

“Angka itu juga diiringi dengan aspek IP yang lain yaitu pendapatan dan kesehatan. Tinggi itu dilihat dari angka harapan hidup. Menurut data, orang Banjarbaru angka harapan hidupnya tinggi, mencapai angka 72 tahun. Itu artinya, banyak orang-orang yang berpola pikir optimis dalam berkehidupan. Tentu angka tersebut juga disertakan dengan peran Walikota, serta masyarakat yang menyambut dengan baik segala gagasan serta arah pembangunan,” tegasnya.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin