Esai

Membalikkan Sandal Sebagai Budaya

Tradisi Darussalam Yang Mengakar di Masyarakat Banjar

TandaPetik.Com – Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan tamu dari beberapa orang dosen Universitas Indonesia (UI) menjelang desertasi untuk meraih gelar Doktor. Di dalam mobil, kami membicarakan banyak hal. Dari kehidupan sosial budaya, agama, tradisi lama, peran perempuan dalam lingkungan pesantren, tradisi timur yang mengakar di masyarakat, sampai kebiasaan-kebiasaan yang menyentuh kearifan lokal budaya setempat.

Akhirnya kami mendatangi beberapa pesantren di Kalimantan Selatan. Satu dari sekian banyak pesantren yang didatangi adalah Pondok Pesantren (ponpes) Darussalam, secara Darussalam menjadi pesantren tertua, umurnya sudah lebih seabad. Ya, mereka kan gak tau ya, saya juga sempat mondok di pesantren ini sekitar 8 tahun dari 2004. Ya sebagai driver, saya diam diam bae. Gak usah bore, gitu!

Singkat cerita, niat untuk bertemu pimpinan ponpes (yang saat ini dijabat K.H. Hasanuddin) urung. Pasalnya, Guru Hasanuddin sedang ada pertemuan beberapa pimpinan pondok di luar daerah. Sebagai sekretaris dalam struktur organisasi dewan guru, Guru Nouval yang menggantikan untuk melayani segala keperluan para dosen tadi terhadap pesantren. Guru Nouval adalah sosok guru yang senang bercanda dan paling gaya dari beberapa guru di pesantren Darussalam. Lebih gaul gitu lah.

Udahlah, gak banyak basa-basi Guru Nouval masuk kantor saya udah cium tangan bolak-balik. “Duduk Betelempoh” sampai diminta beliau agar duduk di kursi saja. Gak bisa dihilangkan memang, adab santri ke ustad (yang kami akrab dengan sebutan guru) emang gak bisa dihilangkan. Susah aja gitu, udah ngakar dalam sanubari. Gimana ngejelasinnya ya. Udah kebiasaan.

Saya jadi ikutan duduk di kursi besar, berdampingan dengan tamu. Syair istirahat diputar di pengeras suara, tanda istirahat jam belajar. Beberapa guru masuk ruang kantor, saya berdiri bersalaman bolak-balik lagi. Sampai ke Guru As’ad, wali kelas saya sewaktu kelas 2 awwaliyah. Guru yang selalu mengingat kenakalan saya. Saya itu diingat memang lantaran agak bandel kayaknya, bukan karena prestasi. Gik!

“Di mana wahini bediam, Nda?”

“Di Banjarbaru guru ai”

“Jadi apa gawian?”

“Wartawan guru ai. Sambil jadi supir!”

“Lah, kenapa bisa tekesitu!”

Yah begitulah, obrolan standarlah. Biasa. Sering didapati di kota-kota besar. Pelayanan kepada tamu sudah diberikan, banyak referensi soal pesantren hingga sejarah berdirinya sampai perkembangan sekarang ini dipaparkan Guru Nouval kepada dosen tadi. Hingga pada bagian akhir, kami dikasihkan beberapa dus air minum kemasan asli produk pesantren dengan merek Darussalam. Beberapa poster semua dewan guru. Dan dijanjikan diajak ke Tanjung Rema untuk mengunjungi ibu, istri dari Almarhum K.H. Abdul Syukur pimpinan periode 8 untuk wawancara soal peranan perempuan di lingkungan pesantren. Sebelum beranjak ketua dosen meminta berfoto bersama. Guru Nouval diminta duduk di kursi pimpinan agar fotonya pas. Etapi, apa jawaban beliau.

“Gak bisa”

“Eh… kenapa, Pak!”

Kada kawa. Kada wani kita, belum mampu menyandangnya, dan kurang adab rasanya duduk di kursi pimpinan.”

Begitu lho. Ya kita santri sih, ngerti aja gaes! Etapi hal tersebut jadi luar biasa bagi para dosen. Kan, sekadar duduk di kursi doang! gak ngerubah apa-apa dong! alhasil, mereka berfoto bersama, dengan kursi pimpinan tanpa diduduki di tengahnya. Bisa dibayangkan, kaaaan… gimana jadinya?

Sepulangnya, hal mengejutkan terjadi lagi. Sandal sepatu dan alas kaki yang tadi berhamburan di depan pintu tersusun rapi menghadap luar. Tinggal pasang dan jalan. Singkatnya, perjalanan dilanjutkan sampai semua keperluan rampung.

Di dalam kabin, hal terkecil membalikkan sandal menjadi perbincangan dan pembahasan khasi diskusi kampus. Bagaimana tidak, otak dosen itu emang beda banget ya, apalagi saya sering menemui berbagai macam tipe penumpang.

“Sadar gak, tadi pas pulang, sepatu kita udah rapi.semua.”

“Iya saya kaget lho. Baik banget ya. Lah, kita gak tau yang mana orangnya siapa yang ngebalikin.”

Spikulasi demi stimulasi bermunculan, obrolan mengarah kepada hakikat moral, akhlak, budaya, sampai kearifan lokal. Terlepas dari itu semua, kami para santri udah menjadi keseharian. Apalagi mereka-mereka yang berkhodam dengan sejumlah guru yang hampir di setiap harinya mengurusi sandal guru sampai lulus sekolah.

Terlepas dari perjalanan tersebut, di Banjarbaru persisnya di Masjid Agung Al Munawwarah, saya mendapati hal yang sama. Selepas Ashar berjamaah, sandal para jamah tersusun rapi menghadapi turunan tangga. Para jamaah tinggal keluar langsung pasang dan pergi meninggalkan masjid. Saya pikir, ini budaya kita di Banjar. Yang menurut saya biasa saja, ternyata malah bisa jadi luar biasa bagi orang di luar lingkungan religi. Padahal, hampir semua pesantren menerapkan adab dan akhlak demikian adanya. Kita, mungkin hanya jarang melihat dan merasakannya, karena kurang piknik.

Di akhir perjalanan, para dosen menyimpulkan kunjungannya di Tanah Banjar. “Beruntung sekali di tanah ini. Saya merasa adem dan tenang. Religiusitas pun masih kental sekali. Banyak sekali masjid dan musala menyiarkan syiar agama. Ketika adzan, ramai bersahut-sahutan. Sungai sebagai peradaban yang saya kira, bagaimana pun berkembangnya kota, mereka harus dipertahankan. Yang paling terpenting, kecintaan masyarakatnya kepada ulama dan guru-guru agama di sini. Karena setiap kali saya naik ke rumah-rumah bahkan rumah makan, saya selalu melihat foto ulama bersorban besar yang awalnya saya tak tau siapa beliau. Dan saya kira, ini adalah kultur masyarakat Banjar yang menenangkan,” ungkapnya. Dalam hati saya senang dan sedikit bergumam,

“Tinggallah bapak dan ibu di sini cukup lama, hingga terasa bagaimana keadaan lain terlepas dari itu semua,” dan saya hanya mengucapkan terima kasih. Berharap bisa belajar dari semua orang-orang yang memandang baik akan tanah ini.

 

 

 

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

Ananda Perdana Anwar

Lahir di Pelaihari, tinggal di Banjarbaru, suka jadi driver online, tapi lebih senang nulis curhatan penumpang. Nyambi jadi wartawan, dan alhamdulillah masih beriman.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin