Esai

Masihkah Televisi Menjadi Hiburan Utama Ramadhan Kali ini?

TandaPetik.Com – Kebebasan memilih hiburan ketika ramadhan tiba benar-benar saya rasakan tahun 2008 ini. Mulai dari sahur hingga menjelang berbuka puasa, bahkan setelahnya, kebutuhan terhadap gadget meningkat drastis. Tentu saja setelah menjalankan ibadah lainnya seperti sholat dan tidur.

Situasi ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana hiburan sangat tergantung dari siaran televisi baik menjelang sahur dan berbuka puasa. Anda pasti masih mengingat bagaimana televisi mengerahkan semua kemampuannya untuk menayangkan program-program konyol dari para artis untuk menemani para ibu-ibu memasak di dapur? Program-program konyol yang terkadang mencuri waktu kita sehingga lupa menjalankan ibadah sholat subuh atau maghrib. Program-programย  televisi kategori variety show yang kurang mutu dan cuma asyik sendiri dan cerewet sendiri.

Masihkah Televisi Menjadi Hiburan Utama Ramadhan Kali ini?

Bagi saya pribadi, tidak. Entah dengan Anda sendiri. Namun saya yakin, mulai tahun 2018 ini, jika televisi masih ngotot menganggap masyarakat penonton televisi adalah orang-orang bodoh sehingga cukup diberikan tayangan tidak bermutu, maka ramadhan berikutnya, tayangan program siaran televisi akan segera ditinggalkan. Mereka akan beralih memelototi siaran dari internet. Youtube, misalnya. Orang-orang akan memilih sendiri jenis siaran yang bisa memenuhi kebutuhan mereka akan hiburan. Bukankah dengan terhubung melalui internet berbagai macam jenis hiburan bisa mereka dapatkan? Mulai dari menonton film, bermain game, mencari informasi dan lain-lain yang kesemuaannya itu tidak dapat dipenuhi oleh televisi.

Kenapa Televisi pun Mulai ditinggalkan?

Dulu orang-orang meramalkan media massa cetak seperti koran dan majalah akan mengalami kehancuran akibat adanya tayangan berita online yang lebih cepat dan murah. Ramalan tersebut sudah sangat terasa sekarang. Para pemilik media cetak sudah mulai ramai menayangkan berita-berita secara online. Saya sendiri sudah bertahun-tahun tidak membeli koran. Membaca berita melalui perantara kertas buram tipis tersebut hanya terjadi ketika menemuinya di meja kantor milik beberapa teman. Selebihnya, semua informasi bacaan, entah itu berita atau artikel saya dapatkan secara online.

Saya berani mengatakan, tak lama lagi televisi pun akan mengalami nasib serupa. Setidaknya, di Indonesia. Alasannya sederhana. Televisi akan ditinggalkan menurut saya karena beberapa sebab berikut:

  • Tidak mampu memberikan program siaran yang dibutuhkan para penontonnya
  • Program hiburan yang monoton
  • Program siaran yang terlalu sentralistik, khususnya dalam siaran berita
  • Jam tayang (siar) yang tidak tepat
  • Kebanyakan iklan (hehehe…)
  • Memberikan hiburan yang tidak menghibur

Dari keenam alasan tersebut, jika dijelaskan lebih lanjut akan memiliki banyak turunan. Seperti, apa yang dibutuhkan penonton? Penonton yang mana dan seperti apa? Hiburan yang manakah yang monoton dan tidak menghibur? Dan seterusnya.

Hiburan Ketika Ramadhan

Dalam kasus tayangan ramadhan, untuk memenuhi kebutuhan informasi agama, saya menemukan banyak ulama atau ustadz yang lebih mumpuni di youtube. Tentu saja mereka bukan ulama artis. Bukan ulama televisi. Saya memilih mendengarkan ceramah atau tausiah keagamaan melalui media siar youtube ketimbang televisi karena tidak mementingkan popularitas si penyampai tausiah, tapi lebih kepada kedalaman informasi yang mereka sampaikan.

Untuk hiburan ketika ramadhan, jujur saja, banyak tontontan keren yang disajikan para youtuber. Mereka sangat variatif. Berbagai macam ulasan baik itu terkait hobi, kuliner, sejarah, tips, bahkan lawakan disajikan dengan baik dan memuaskan. Saya tinggal pilih.

Dengan kata lain, secara mandiri saya berhak memilih informasi yang saya butuhkan dengan ikhlas dan senang hati. Bukan dipaksa atau dijejali informasi atau hiburan yang dikehendaki pihak televisi.

Barangkali, kebebasan dalam berkehendak menjadi faktor utama kenapa siaran di internet lebih disenangi dan berangsur-angsur meninggalkan televisi dan surat kabar cetak.

Lantas, bagaimana televisi di rumah Anda, apakah tetap menyala tapi fungsinya hanya seperti radio?

Tags

harie insani putra

Penulis kambuhan. Kadang menulis dengan jurus mabuk.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin