Responsive Ad Area

Share This Post

Traveling

Ketika Dishub Banjarbaru Sibuk dengan Bus Rongsokan

Bus Pariwisata Banjarbaru

TandaPetik.Com – Menyulap bus rongsokan menjadi Bus Pariwisata Banjarbaru mungkin terkesan sepele. Tapi untuk mewujudkannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Ini butuh pemikiran, komitmen dan dedikasi yang serius. Bukan inovasi abal-abal.

O, ya. Dengar-dengar, Walikota Banjarbaru, Drs. H. Nadjmi Adhani, M.Si sedang ‘gila-gilanya’ berinovasi. Alhasil, semua SKPD Kota Banjarbaru pun dituntut untuk mendukung keinginan tersebut. Kata ‘Banjarbaru berubah’, ‘Banjarbaru Berinovasi’, memang selalu didengungkan pak walikota sejak beliau terpilih menjadi Walikota Banjarbaru. Baiklah, inovasi di Banjarbaru ditandai oleh keinginan kepala daerahnya. Ini poin penting. Bagaimana SKPD mau berinovasi kalau tidak ada dukungan penuh kepala daerahnya? Bisa-bisa dituduh, cari muka.

Sebagai warga yang sok kritis semacam saya, otomatis saya berusaha mencari tahu apa saja yang sudah berubah dan diinovasikan. Itu saya lakukan baik dari jarak jauh maupun dekat.

Beberapa waktu lalu saya sengaja silaturahim ke Dinas Perhubungan Kota Banjarbaru. Maksud hati ingin menemui Pak Yani Makkie yang saat ini menjabat sebagai kepala dinas. Saya sih sukanya manggil beliau dengan ‘Om’. Ijinkan selalu begitu dalam tulisan ini.

Kedatangan saya murni sebagai kawan, jika boleh disebut demikian. Kalau beliau menganggap berbeda, itu sah-sah saja. Yang jelas saya tidak datang untuk minta uang jajan laiknya seorang anak kepada bapaknya. Tapi mau menanyakan apakah ada bus yang bisa dipinjam untuk kegiatan saya dan teman-teman.

Bus Wisata Banjarbaru

Bus Wisata Banjarbaru, Tampak Samping

Saat saya dipersilakan masuk, sebenarnya tak ada lagi yang bisa disampaikan. Semua sudah jelas sejak saya memasuki halaman kantor Dishub Banjarbaru. Ada dua bus dengan desain meriah sedang parkir. Saya sudah curiga sejak awal ketika memerhatikan bagian belakang bus. Badan bus tersebut dibongkar dan di desain ulang laiknya bus wisata. Menarik. Tapi tujuan saya bukan untuk mengagumi inovasi yang dilakukan Dishub Banjarbaru. Saya toleh kanan-kiri, tak ada bus lain.

Ya, sudahlah. Seandainya sejak awal tidak menyampaikan kepada para pegawai yang menanyakan maksud kedatangan saya, mungkin saya diam-diam merayap pergi tanpa harus menemui Om Yani.

Inovasi Bus Rongsokan Menjadi Bus Pariwisata Banjarbaru

Tema bus rongsokan lantas menjadi bahan obrolan kami. Beliau katakan, masih ada 1 (satu) bus rongsokan lagi yang sedang direnovasi untuk dijadikan bus pariwisata Banjarbaru. Jadi totalnya bakal ada 3 (tiga) bus pariwisata Banjarbaru yang akan dioperasikan. Istilah rongsokan ini pun yang mengucapkan Om Yani sendiri loh. Sayangnya, saya tidak meminta foto sebelum bus rongsokan tersebut direnovasi.

Apabila kamu nanti melihat bus pariwisata Banjarbaru yang rencananya untuk memfasilitasi kunjungan ke destinasi wisata di Banjarbaru, perhatikan langsung dari dekat. Jejak rongsokan masih tertinggal dengan jelas. Elus saja bodinya, kamu akan menyadari kalau bodi bus tersebut tampil cantik karena polesan cat yang menarik. Luka di badan bus mungkin sengaja tidak didempul untuk mengukuhkan bahwa bus tersebut sejak awal memang rongsokan.

Naluri untuk mengetahui lebih jauh rencana operasional bus pariwisata Banjarbaru tersebut mengalir dengan sendirinya. Kalau disusun menjadi pertanyaan, berikut yang saya sampaikan saat itu.

  1. Siapa saja yang boleh memanfaatkan bus tersebut untuk mengunjungi destinasi wisata di Banjarbaru?
  2. Apakah bus pariwisata Banjarbaru akan berbayar (dikenai tarif angkutan) seperti angkutan umum?
  3. Dimana nantinya bus tujuan wisata di Banjarbaru tersebut akan mangkal secara permanen?

Saya selaku warga sangat berbangga hati dengan inovasi yang dilakukan Dishub Banjarbaru. Berinovasi dengan bus rongsokan dan digunakan untuk memberikan manfaat kepada orang banyak adalah ide cermerlang sekaligus perbuatan mulia.  Jujur, ini bukan puja dan puji.

Kalau bicara inovasi, apa yang sudah dilakukan Dishub Kota Banjarbaru merupakan terobosan yang jos gandos. Bandingkan kalau beli bus baru dengan konsep wisata, saya juga bisa asal ada uangnya. Tapi berpikir untuk memanfaatkan barang-barang di sekitar kita yang nganggur, mangkrak, tidak terpakai, kemudian dijadikan bermanfaat belum tentu bisa dilakukan semua orang

Saya tebak Om Yani pun berpikir keras untuk riset, mencari informasi hingga memutuskan menyulap bus rongsokan menjadi bus pariwisata. Buktinya, saat saya bertemu beliau, rambutnya mulai banyak beruban dan terlihat kusut. Hehehe, ampun om, cuma bercanda.

Untuk jawaban tiga pertanyaan di atas, kita tunggu saja informasi resmi dari Dishub Kota Banjarbaru mengingat semua jawaban tersebut sedang digodok dan dibuatkan aturannya.

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Lewat ke baris perkakas