Esai

Ketika Badut A Yani Disalahkan, Lantas Bagaimana Solusinya?

TandaPetik.Com – Lambaian tangan, sapaan ramah dari balik kostum badut yang bertujuan menghibur pengguna jalan raya sembari menjual balon itu mungkin saat ini sedang galau. Pasalnya, oleh pihak Satpol PP Kota Banjarbaru, para badut telah melanggar kesepakatan yang telah dibuat. Tujuan Satpol PP baik, menertibkan keberadaan mereka lebih dini, namun alasan penyebab kemacetan itu perlu dikaji ulang tentunya.

Para badut ini terlihat sering mangkal di sekitaran Jalan A Yani atau lebih tepatnya di dekat mall perbatasan Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Sekali waktu, mereka mangkal di jalan A. Yani sekitaran pasar Banjarbaru atau Pom bensin dekat SMP Negeri 1 Banjarbaru.

Kenapa mereka berada di sana? Kalau ditelusuri, tujuan mereka menggunakan kostum badut adalah menghibur dengan harapan orang-orang memberikan apresiasinya dengan imbalan berupa uang. Di tiga lokasi tersebut di atas, adalah tempat-tempat yang dipenuhi keramaian. Seperti halnya orang berdagang, sudah hukum alam mereka memilih tempat ramai untuk menjajakan dagangannya.

Pendapat orang-orang tentang keberadaan badut ini beragam. Sebagian resah mengganggu lalu lintas, sebagian menganggap mereka tak ubahnya pengemis,sementara ada juga yang menganggap para badut ini kreatif dan menghibur.

Saya sering melihat mereka lalu lalang, menggunakan musik sebagai tambahan hiburan dan sembari menjual balon. Saya kira itu bentuk kreatifitas mereka agar tidak dianggap pengemis.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan profesi yang termasuk kuno ini. Sekitar abad pertengahan, masyarakat Eropa khususnya Italia melabeli profesi badut adalah sebagai penghibur.

Ada dua jenis badut menurut pak wikipedia, badut maskot dan badut karakter. Sering yang saya lihat ini, badut karakter. Ada beberapa karakter seperti tom and jerry, naruto, boboboy dan mickey mouse. Mungkin badut di sini tidak seseram badut yang ada di film IT, kelihatannya saja ceria tapi nasib mereka sepertinya ‘suram’.

Status-status Facebook sering berseliweran. Kebetulan saya berteman di media sosial milik salah satu anggota Satpol PP Banjarbaru. Dia sering menginformasikan tentang penangkapan badut-badut tersebut. Katanya sih ngeyel. Ada perjanjian ‘suci’ antara badut-badut itu dengan pemerintah, tentang tidak diperbolehkannya mangkal di Jalan A Yani. Sanksinya bisa disita kostum badutnya. Katanya sih badut itu biang kemacetan, loh.

Mereka tidak dilarang, Mereka masih boleh membuat hati yang luka menjadi tersenyum di taman-taman sekitaran Banjarbaru. Tapi masalahnya buka itu, benarkah mereka biang kemacetan? Perhatikan saja di kota-kota lain yang tidak ada badutnya, di sana kerap macet juga.

Para badut di jalan Ahmad Yani ini berdiri di pinggiran jalan. Orang-orang yang ingin memberikan apresiasi cukup melemparkan uangnya. Saya tidak pernah melihat orang-orang bergerombol memadati jalan raya untuk melihat aksi pertunjukan mereka. Saya juga tidak pernah melihat para badut tersebut beraksi di tengah jalan raya. Nah, kalau itu terjadi, itu baru macet!

Janganlah badut dijadikan penyebab kemacetan. Cari alasan lain jika tujuan yang diinginkan sebenarnya adalah menggeser para badut tersebut ke area taman kota, menghibur bagi warga yang sedang berkunjung ke sana.

Teruntuk pengusaha badut sendiri, jangan juga mengekploitasi diri dengan kejar tayang mencari penghasilan mulai pagi sampai malam jika alasan di taman sepi di jam-jam pagi hingga siang. Anggap saja, pagi hingga siang digunakan untuk waktu istirahat. Sore hingga malam untuk bekerja menghibur warga masyarakat di taman. Santai saja, rejeki sudah ada yang ngatur.

Tags

ardian

Saya adalah penggemar segala hal. Satu hal yang tidak saya gemari, berpikir!

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin