EsaiPolitik

Jokowi: Decoding-Mode: ON

TandaPetik.Com – Teman saya penyuka film-film hacker. Peretas yang membobol sejumlah kode dalam bahasa mesin atau komputer. Berhasil merubah atau meraup data beserta tetek-bengeknya. Atau prestasi tertinggi misalnya, membobol sitem keamanan suatu Negara? Asik ya.

Lantas apa hubungannya hacker dengan Jokowi? tulisan ini opini cetek yang lahir pendidikan politik dalam jurnal-jurnal pustaka yang kadang susah masuk di otak, alot dicerna dalam usus, bumbu-bumbu penyedap klasik sara dan agama membuatnya harum dan lebih menggoda ditelan masuk dalam perut tanpa harus dikunyah-kunyah hancur.

Alhasil, politik tingkat tinggi ala Jokowi bercokol meramaikan media massa, bahkan media sosial menjadi indikator yang susah dibobol. Maksudnya, berhamburan tak terbendung, macam simbol-simbol dalam kontemplasi budaya barat. Jokowi, adalah simbol dan decoding para pegiat media.

Media massa mampu membuat naik-turunnya seorang pemimpin dalam kooridor pencitraan atau pemeliharaan. Pemeliharaan yang saya maksudkan di sini adalah upaya para tim di belakang Jokowi, bisa itu pembisik, konsultan, sutradara, penulis naskah, dan jurnalis tentu saja.

Mengapa profesi-profesi demikian meski dilibatkan, kaks? Ya siapa lagi, drama perpolitikan di Indonesia dimulai jauh sebelum era Jokowi. Selama ini masyarakat mampu menilai seorang pemimpin melalui pemberitaan, ditambah media sosial yang disajikan gratis tanpa harus membeli kertas. Pemimpin menjadi newsmaker, wartawan sebagai playmaker.

Dalam hal ini, Jokowi sebagai pemimpin muncul sebagai Da Vindi Code, membuat setiap pengamat menjadi Profesor Langdon. Setiap ahli mendedikasi diri mereka untuk meretas dan menerjemahkan simbol-simbol yang dimunculkan saling berkaitan, terhubung antara satu dengan yang lain, bahkan anda yang saat ini sedang membaca. Anda sedang berada dalam sistem decoding.

Perpolitikan di Indonesia secara umum masih berorientasi pada cara lama. Polanya begini, pemimpin punya kerja baik, pengulasan di media dibuat sekadarnya. Kabar baik disimpan sebagai peluru andalan ketika masa genting. Sebelum kebaikan itu tercium, ada peranan sebagai korban di sana. Ia akan terus dihantam dengan berita buruk, hujatan, cacian, penghinaan, bahkan data-data yang menunjukkan citra buruk. Berita buruk akan naik tercium lebih dulu dan dibicarakan lebih cepat dari bau bangkai di belakang rumah tadi malam. Apa hikmahnya? Pemimpin bisa selalu eksis di benak para pemirsa. Lah, kok bisa?

Dari kontemplasi media demikian, lahirlah pengamat, pembicara, komunitas, organisasi, tim pemenangan, bahkan perang tagar yang mulai meremang ditimpa piala dunia dewasa ini. Kemudian, ada sepercik rasa kasihan di sana, lantas lahirlah tokoh-tokoh yang bermunculan baik itu itu pemimpin yang memang sudah lama populer atau yang baru mau populer. Mereka muncul berkat terkoordinirnya pesimisme ke pemerintahan yang sedang dirasakan. Suara mereka disatukan lantas secara otomatis memberikan calon panutan-panutan dengan berbagai macam nama.

Pada bagian ini, decoding dinyalakan, para hacker turun tangan membobol sejumlah data, termasuk, mencari tokoh idola untuk dipasangkan sebagai wakilnya. Pasang sini, pasang sana, posting ini, posting itu jadilah ketetapan harga. Statement dikeluarkan, para pesimisme ternganga. Wah, mereka tak meyangka. Politik siapa sangka?

Banyak kok yang sudah menyangka, hanya caranya menyampaikannya yang berbeda-beda. Para pengamat politik profesional dan pengkritik akan selalu dipelihara oleh negara bahkan tim di belakang Jokowi. Jika pembahasan mulai meredup, harus ada perihal kontroversial yang dimunculkan agar terus dibicarakan. Efeknya, lawan tak tercium baunya. Sekeras-kerasnya benturan masih ada peluru andalan yang disimpan. Siasat belum berakhir, hacker baru memulai kerjanya. Jokowi bangun pagi menikmati kopinya sembari tersenyum melihat para pembicaranya melakukan predikisi demi prediksi di depan layar kaca.

Tags

Ananda Perdana Anwar

Lahir di Pelaihari, tinggal di Banjarbaru, suka jadi driver online, tapi lebih senang nulis curhatan penumpang. Nyambi jadi wartawan, dan alhamdulillah masih beriman.

Artikel Berkaitan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin