Ulasan

Jemaah Haji Dengan Segala Problematika Barang Bawaan

TandaPetik.Com – Seringkali kita menemui hal-hal yang sebenarnya penting, bahkan sangat dibutuhkan bagi jemaah haji. Kadang nih ada-ada saja barang aneh ditemui petugas haji saat pemeriksaan. Entah itu makanan, minuman atau rice cooker dengan segala manfaatnya. Pastilah ada jemaah haji ada yang pintar untuk menyembunyikan barang aneh tersebut. Tidak seperti kamu yang kurang bisa menyembunyikan perasaan kepada doi.

Usaha Kementrian Agama berusaha melarang barang ini itu kelihatannya sia-sia. Apalagi barang kategori cair, seperti sampo, minyak goreng atau air minum dalam kemasan. Itu bakal mengganggu penerbangan. Kalau terbakar diatas pesawat, kan bahaya.
Saat intogerasi, alasan sebagian jemaah sih simpel, katanya buat mengenang kampung halaman saat di tanah Arab. Loh, seperti ngga mau pulang ke tanah air saja. Gimana sih ini.
Saya pernah meliput keberangkatan jemaah haji di Embarkasi Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Saat itu, saya mewawancarai seorang jemaah perempuan. “Bu barang apa saja yang sampeyan bawa ke Arab Saudi selain perlengkapan haji” begitu pertanyaan saya. “Ikan kering mas” jawab ibu itu. “Kenapa Bu bawa ikan kering” tanya saya penasaran, maklum wartawan baru. “Buat masak-masak disana, juga buat ingat kampung halaman,” ujar ibu tersebut. Saya pun positif thinking. Mungkin ini juga terjadi pada jemaah lainnya.
Telinga saya pernah mendengar cerita dari paman saya yang pernah berangkat haji. Kebetulan paman saya ini perokok aktif. Isapannya sih “dji dji sam sam”. Kata beliau, dia berhasil membawa rokok ke tanah Arab sana. Yah tidak banyak sih cuman tiga sampai empat bungkus. Kan memang, ketentuan bea cukai melarang rokok dalam jumlah banyak. Diijinkan hanya 2 slop saja. Kalau banyak dikategorikan barang expor. Bila jemaah bawa rokok sampai berdus-dus itu namanya mau jualan namanya.
Ngomong-ngomong, suhu udara di Arab diprediksi 53 derajat. Ini kata Kementrian Kesehatan loh. Kalau seperti paman saya tentu menjadi tidak enak saat merokok saat suhu panas. Nah saya menyarankan, kalau ada jemaah sampai membawa rokok sampai 2 slop. Mungkin bisa diirit. Satu slop dipakai, satu slop dijual.
Menurut ayah teman saya @anandaperdanaanwar, katanya harga rokok di sana lumayan mahal. Bahkan sampai 50 ribu kalau dirupiahkan. Kalau dijual, kan lumayan uang penjualan rokok tadi, bisa beli oleh-oleh.
Berkaitan masalah selera makan, seperti ibu tadi, yang ingin makan ikan kering. Tentu itu selera dia. Kalau ada jualan ikan kering di Arab, pasti si ibu itu tidak bakal bawa makanan tersebut. Entahlah saya juga belum pernah ke tanah suci. Kalau ada yang ngajak, kenapa tidak –ngarep-.
Masalah selera masakan sih, Kementrian Agama sudah menyiapkan katering dengan masakan bercita rasa Nusantara. Kalau dulu memang cita rasa masakan katering kebanyakan tidak disukai para jemaah haji. Mungkin karena minyak unta kali ya.
Mungkin solusi dari Kementrian ini membuat ibu tadi kalau berangkat haji lagi, bakalan tidak bawa ikan kering. Siapa tahu, yang tahu kan tuhan, ibu tadi dan petugas bandara.
Temuan-temuan barang jemaah yang tidak cocok dibawa memang masih terjadi. Ini masih problematika jemaah haji yang perlu ditanggulangi. Akhir kata, semoga jemaah haji menjadi haji mabrur.

ardian

Saya adalah penggemar segala hal. Satu hal yang tidak saya gemari, berpikir!

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin