Esai

Jadi Wasit Sepak Bola Itu Berat, Ini Skill yang Harus Dimiliki

TandaPetik.Com – Dalam setiap pertandingan sepak bola, kita terbiasa melihat sesosok makhluk berbeda di tengah lapangan hijau.  Berpakaian berbeda dari 22 orang lainnya, sosok ini identik sekali dengan pakaian warna hitam-hitam-hitam. Kok hitam-hitam-hitam? Ya iyalah, coba perhatikan sosok tersebut dia mengenakan baju warna hitam, celana hitam, dan kaos kaki hitam walau ada beberapa yang mengenakan warna lain namun tidak begitu sering.  Bagaimana jadinya, kalau dia kenakan baju hitam, celana hitam, kaos kaki hitam dan mengenakan topi warna putih? Anda sendiri pasti tahu jawabannya, apalagi kalau anda menyaksikan dari kursi tribun paling atas yang memiliki jarak pandang lumayan jauh.

Sosok ini, selalu ingat untuk membawa peluit di tangannya, saking tidak ingin peluitnya diambil orang dia mengikat peluit tersebut di tangannya.  Benar saja, dari 22 orang lain di lapangan hijau tidak seorang pun yang berani mengambil peluit tersebut dari tangannya, luar biasa.

Sosok ini juga dikenal dengan orang yang tepat waktu, saking tepat waktunya dia selalu membawa jam tangan di tangan kanan dan kirinya.  Walau, terkadang sosok ini bisa berbaik hati memberi kelonggaran beberapa menit yang terkadang bisa bikin saling iri 22 orang yang ada di lapangan hijau, 11 orang (50%) senang diberi kelonggaran waktu, namun 50% lainnya tidak terima dan terlihat kesal ketika ada kelonggaran waktu tersebut.

Kedermawanannya dalam memberi kelonggaran waktu, ternyata berimbas keluar lapangan hijau, hal yang sama juga terjadi seperti 22 orang yang ada di lapangan hijau, ada yang senang ada pula yang kesal bahkan marah.

Sosok ini konon diberi nama wasit, hampir seluruh suku di Indonesia yang memiliki bahasa daerah menyebut sosok ini dengan wasit.  Di luar negeri, seperti di negerinya Ratu Elizabeth berkeluarga, sosok ini dikenal dengan sebutan referee.

Memahami sosok ini aja sudah terasa berat, apalagi kalau sampai menjadi seperti dirinya, ya pasti lebih berat lagi.  Bayangkan saja, orang ini harus berlari-lari mengikuti kemana arah bola, kadang-kadang sesekali dia ambil alat semprot di pinggangya buat ngasih lukisan (berupa garis) entah melengkung, rata atau bulat di hadapan para pemain.

Terkadang sosok ini juga menggerakkan tangan membentuk love kotak, yang menunjukkan kalau dirinya bukan sosok sempurna yang masih memerlukan bantuan dari orang yang ada di sampingnya.  Baik banget sosok ini, walau memiliki kuasa di tengah lapangan hijau namun masih sadar kalau dirinya bukan orang yang sempurna.

Sosok ini terkadang terlihat lemah di tengah lapangan hijau, yang mengundang hati saya terasa teriris ketika melihat dirinya dikeroyok oleh segerombolan orang-orang yang dia atur.  Hanya karena emosi dari orang-orang tersebut, sosok ini menjadi bulan-bulanan sampai harus menerima bertubi-tubi pukulan dari oknum-oknum yang ringan tangan, bahkan mengharuskan dia berlari kencang ke luar lapangan untuk mendapatkan perlindungan.

Berat, memang berat sekali tugas sosok ini.  Kalau tidak siap mental dan fisik, lebih baik anda mundur saja menjadi seperti sosok ini.  Dia yang dipercaya menjadi penghakim di lapangan, namun terkadang dia pula yang harus menerima “penghakiman” dari oknum-oknum yang tidak terima atas putusan langsung dia di lapangan.

Bukan hanya tentang ancaman seperti itu, menjadi seperti sosok ini juga berat.  Anda harus menjadi orang yang cepat dalam mengambil keputusan.  Keputusan yang tidak sembarang keputusan,  keputusan yang harus memberikan rasa keadilan untuk kedua kubu yang sedang bertarung.

Ketika menjadi sosok ini anda harus bisa mengetahui momentum kapan harus meniup peluit.  Bahkan meniup peluit ini pun, anda harus bisa membandingkan kapan peluit panjang, kapan peluit pendek. Coba anda dengarkan, ada perbedaan panjang dan pendeknya suara peluit yang ditiup, contoh saja ketika peluit tanda akhir pertandingan akan terdengar panjang, “preeeeeeetttttttt, preeeeetttttt”.

Beda lagi kalau ada pemain yang sedikit tuli (tidak mendengar karena riuhnya penonton, “preet, preet, preet”, terdengar seperti itu.  Dia akan meniup peluit pendek, namun beberapa kali, mungkin kalau diterjemahkan dalam bahasa vocal kita “hei, hei, hei,” sambil berlari dia memanggil pemain yang melakukan salah.

Selain meniup peluit, anda juga harus memiliki keterampilan dalam melakukan penilaian terhadap kesalahan pemain.  Besar dan kecilnya kesalahan harus bisa bedakan, anda harus bisa membedakan kesalahan tersebut apakah harus diberikan sebuah teguran, kartu kuning, atau bahkan kartu merah.  Dalam memberikan kartu ini, anda juga harus menjadi seorang yang super ingat dalam mengingat pemain yang sudah mendapatkan kartu kuning.  Kalau anda lupa, mungkin anda tidak akan mengusir pemain yang sudah mendapatkan kartu kuning 2 kali.

Duh ternyata susah juga menjadi hakim lapangan hijau, apalagi kalau salah sedikit bisa-bisa jadi sasaran main hakim dari pemain atau penonton.  Nah, jangan suka nyalahi wasit ya petikers, kalau masih nyalahin wasit apa baiknya diganti dengan V(A)R (Video Assistant Referee) aja? Jadi cukup 22 orang aja di tengah lapangan bola, gak usah ada satu orang yang berpakaian hitam-hitam ikut lari ke sana kemari ngejar para pemain dan bola, terus bikin “berisik” dengan suara pret…pret…pret…?

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin