Esai

Hari Lingkungan Hidup Jangan Sekadar Diperingati

TandaPetik.Com – 46 tahun lalu Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan tanggal 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia (HLHS) untuk menandai pembukaan Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia yang berlangsung antara tanggal 5-16 Juni 1972 di Stockholm.

Diperingatinya HLHS sebagai langkah untuk meningkatkan kesadaran global akan kebutuhan untuk mengambil tindakan lingkungan yang positif bagi perlindungan alam dan planet bumi. Hari Lingkungan Hidup Sedunia merupakan instrumen penting yang digunakan PBB untuk meningkatkan kesadaran tentang lingkungan serta mendorong perhatian dan tindakan politik di tingkat dunia. Hari peringatan ini dipandang sebagai kesempatan bagi semua orang menjadi bagian aksi global dalam menyuarakan proteksi terhadap planet bumi, pemanfaatan SDA yang berkelanjutan, dan gaya hidup yang ramah lingkungan.

Lingkungan hidup sendiri menurut Salim (1976) secara umum memiliki pengertian sebagai segala benda, kondisi, keadaan dan pengaruh yang terdapat dalam ruangan yang kita tempat dan mempengaruhi hal yang hidup termasuk kehidupan manusia. Batas ruang lingkungan menurut pengertian ini bias sangat luas, namun untuk praktisnya dibatasi ruang lingkungan dengan faktor-faktor yang dapat dijangkau oleh manusia seperti politik, sosial, ekonomi, alam dan lain-lain.

Sementara itu menurut UU No. 23/1997, Lingkungan Hidup ialah suatu kesatuan ruang dengan seluruh benda, daya, keadaan dan makhluk hidup yang termasuk manusia dan segala perilakunya yang dapat mempengaruhi segala kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup yan lainnya.

Menurut hemat penulis, lingkungan hidup bisa diartikan sebuah ruang yang ada di bumi yang didalamnya terdapat benda hidup (biotik) dan benda mati (abiotik) yang saling ada ketergantungan.

Lantas kenapa HLHS perlu diperingati? Pastinya berdasar pada uraian di atas ditujukan sebagai langkah untuk melindungi bumi dari segala yang berpotensi memberikan kerusakan. Bagaimana sumber daya alam (SDA) yang ada di daratan dan perairan dimanfaatkan dengan cara bertanggung jawab sehingga dicapai sebuah keberlanjutan (kelestarian). Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia juga merupakan sebuah peringatan kepada kita (manusia) untuk membatasi gaya hidup agar tidak memberikan dampak kerusakan lingkungan.

Lantas setelah puluhan tahun peringatan HLHS ini diperingati, sudahkah membuat kita sadar untuk mencintai lingkungan hidup? Sepertinya HLHS masih menjadi sebuah seremonial sehari, setelah seremonial tingkah laku kita kembali pada proses membuat kerusakan lingkungan hidup.

Sekarang, lingkungan hidup kita sedang “sakit”, sakitnya lingkungan karena olah kita sendiri yang baik secara sadar atau tidak sadar sudah menyuntikkan virus penyakit ke dalam tubuh lingkungan. Bagaimana tidak, dalam hal simple seperti membuang sampah tidak pada tempatnya itu sudah menyuntikkan penyakit ke dalam tubuh lingkungan. Belum lagi dengan adanya aktivitas perambahan hutan secara massif, kegiatan pertambangan batubara besar-besaran tanpa bertanggung jawab, kerusakan perairan akibat limbah-limbah yang dibuang tanpa tanggung jawab, dan masih banyak lagi olah kita yang berpotensi merusak lingkungan hidup.

Kondisi Lingkungan Hidup dI Kalsel

Kondisi lingkungan hidup di Kalsel tergolong dalam kondisi buruk, dari 33 provinsi di Indonesia Kalsel dari Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) berada di posisi 26 dengan IKLH 57,51. Disadur dari jejakrekam.com, Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Dr Faisol Nurrofiq menyebutkan, IKLH Kalsel dalam kondisi yang memprihatinkan. Rendahnya IKLH Kalsel menurut Kadishut karena aktivitas pertambangan yang tidak bertanggung jawab. Kegiatan tambang akan merubah bentang alam yang pasti akan mengganggu lingkungan.

Masih menurut Hanif, rencananya pihak mereka menargetkan di tahun 2019 akan meningkatkan IKLH menjadi 66,16. Langkah yang dilakukan dengan melakukan tindakan tegas terhadap perusahaan, apabila kewajiban rehabilitasi atau sejenisnya tidak dipenuhi perusahaan maka izin perpanjangan tidak akan diberikan.

Langkah yang dilakukan oleh Kadishut di atas salah satu tindakan nyata oleh pemerintah dalam usaha untuk meningkat IKLH Kalsel. Namun sepertinya, ini hanya dari segi Indeks tutupan hutan dan lahan, belum lagi terkait indeks kualitas air dan indeks kualitas udara.

Namun dari semua itu, kita sebagai warga masyarakat harus memberikan dukungan terhadap usaha pemerintah daerah Kalsel dalam meningkatkan IKLH. Kita bisa memberikan dukungan dari hal terkecil dengan merubah gaya hidup ke arah cinta lingkungan dalam sehari-hari, missal membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik, dan kegiatan lainnya.

Mari kita jaga lingkungan hidup demi kita sendiri, sesungguhnya kerusakan lingkungan itu akan membuat kita sebagai makhluk hidup terancam. Lingkungan hidup yang rusak sudah memberikan efek negatif, pastinya tidak luput dari ingatan bencana asap yang terjadi di tahun 2015, di tahun tersebut beberapa nyawa menghilang, kegiatan perekonomian terganggu, dan sektor-sektor lainnya. “Mari Cintai Lingkungan, Kelak Lingkungan Akan Mencintai Kita”.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin