Otomotif

Driver Grab di Bali Bisa Dapatkan Lebih Sejuta Sehari

TandaPetik.Com – Saya sedang di Bali, persisnya di Ubud, Kabupaten Gianyar. Otomatis akun grab saya sebagai pengemudi tidak aktif di sini. Bisa aja sih dinyalakan, tapi gak bakalan ada orderan yang masuk juga. Finally, setelah mendarat di Bandara Ngurah Rai, saya menjadi pengguna. Mengorder Grab dengan tujuan Ubud, estimasi 40Km lebih saja saya mendapatkan harga 167 ribu. Cukup fantastis saya rasa ketimbang di Banjarmasin.

Nama driver saya agak unik, Leviandi Putra Jaya Dewata bla-bla-bla saya lupa persisnya. Tapi dia minta dipanggil Jackson saja. Jauh banget. Pemuda asal NTT yang sebelumnya sudah berpuluh tahun menjadi driver Blue Burung dan akhirnya konsisten di driver online di Bali.

Dari dia, saya mendapatkan info betapa perputaran orderan dengan jumlah yang cukup fantastis bisa didapatkan hanya dalam kadar waktu 24 jam saja. Sehari, jika memang Dewi Fortuna mengelilinginya, ia bisa mendapatkan sejuta lebih-lebih dikitlah. Apalagi jika ada travel, carteran, dan bookingan. Kebanyakan dari penumpang memang tamu domestik. Sebaliknya, mereka para bule yang dari America dan Australia lebih cenderung ke Taxi Konvensional, Argo. Bahkan sebelum Uber ditutup.

Di sini, tutup poin untuk mendapatkan bonus gak perlu sampai 14 seperti di Banjarmasin. Rinciannya begini, 4 poin untuk 40 ribu, 7 poin untuk 80 ribu, dan 9 poin untuk 150 ribu. Selebihnya tidak ada bonus, tapi mengapa bisa mencapai angka sejuta? Dia bilang, sewa mobil per 12 jam rata-rata di angka 600 ribu. Sehari, ya 1,2 juta lah. Dari sewa carteran itulah dia mendapatkan lebih dan selalu seperti itu. Dan hampir di hari kerja. Gila, gak, tuh!

Seminggu, dia special menyediakan waktunya di hari Minggu untuk tidak menjadi drvier. Tapi meluangkan menjadi Ayah yang baik untuk anaknya yang baru 3 tahun dan istrinya yang juga libur bekerja. Di Bali, dia hanya mulai bekerja di siang hari setelah istirnya pulang bekerja. Bergantian jaga anak gitu.

Saya tanyakan ke Jackson, berapa waktu tempuh untuk sampai ke ubud? Di bilang kurang lebih 2 Jam jika memang tidak macet. “Lah, emang di Bali macet, Bang?” Katanya, lalu-lintas di Bali sudah mirip-mirip seperti di Jakarta.

Sepanjang perjalanan yang kurang dari 2 jam dari bandara ke Ubud, kami bertukar cerita menarik. Tentang berapa ratus tamu yang pernah dibawanya. Drama orang lokal dan pendatang yang tidak bisa mengontrol nafsunya. Sampai Pecalang yang lebih berwewenang ketimbang polisi. Bicara soal daerah terlarang untuk menjemput, Ubud ternyata lebih rentan ketimbang bandara.

Di sini, para pelakunya memutar uang sebanyak-banyaknya. Ada kesepakatan antar masyarakat untuk berbagi wilayah usaha. Mungkin di catatan lain saya akan rincikan lebih lanjut. Karena alasan itu, demi memudahkan akses, saya menyewa motor dengan harga 60 ribu/24 jam. Belum lagi dua hari, saya sudah menghabiskan penghasilan sebagai driver di Banjarmasin 4-5 hari dalam waktu kurang dari satu malam. Hiks.

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

Ananda Perdana Anwar

Lahir di Pelaihari, tinggal di Banjarbaru, suka jadi driver online, tapi lebih senang nulis curhatan penumpang. Nyambi jadi wartawan, dan alhamdulillah masih beriman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin