Cerita Pendek

Cerpen : Sangkar Batu Besi

Juara Harapan 3 Lomba Dispersip Provinsi Kalsel

Karya Rafii Syihab

“Malam ini yang terakhir,” ucap Diana pada lelaki itu sambil menyerahkan minum dan menyunggingkan satu senyum teramat kecut. Sementara laki-laki di hadapannya hanya mengangguk tidak peduli sebelum akhirnya meniduri Diana persis seperti malam-malam sebelumnya, menikmati tiap sudut tubuh Diana yang barangkali sebentar lagi akan ia tinggalkan. Tak lama setelah mendapatkan kepuasan, laki-laki itu lantas pergi meninggalkan Diana yang masih dalam keadaan tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.

Segera setelah itu satu orang kawannya datang—menyerobot masuk begitu saja. Ia, perempuan yang baru datang itu, duduk di ujung ranjang sambil mengisap rokok. Sementara Diana, dengan roman muka kelelahan yang wajar, memilih rebahan tanpa menggubris sedikit pun kedatangan kawannya tersebut.

Diana bekerja di salah satu rumah bordil di Batu Besi, Landasan Ulin. Sebuah tempat yang oleh banyak orang dikenal sebagai wilayah prostitusi. Batu Besi adalah satu dari dari tiga tempat prostitusi yang ada di Banjarbaru, letaknya agak masuk lebih ke dalam melewati Jalan Sungai Salak. Tersebab wilayah Batu Besi tidak begitu luas, maka tidak sulit menemukan perempuan berumur tiga puluh tahun itu di sana: dari simpang tiga sebelum masuk ke komplek tersebut, berjalanlah sekitar seratus meter, lalu tengoklah ke sebelah kanan, rumah pertama yang berada paling luar dan bentuknya sudah teramat lapuk dimakan usia, di sanalah Diana berada malam itu, di sebuah kamar kecil sederhana.

“Setelah malam ini, aku akan berhenti bekerja,” timpal Diana memandangi lekat-lekat kayu dinding kamar yang mulai lapuk, langit-langit kamar yang penuh dengan bintik-bintik hitam karena rembesan air, sehelai kain gorden berwarna merah terjurai menggantikan pintu yang telah lama rusak, sementara di dekat pintu masuk terdapat meja dan kursi yang sewaktu-waktu menjadi tempat alternatif dia bercinta dengan pelanggan.

“Mau pindah ke mana?”

Gak gitu, maksudnya aku mau berhenti kerja yang beginian. Mau hidup normal kayak orang-orang, mau cari kerja yang bener!

“Kamu yakin, Na?” tanya kawannya malam itu. Namanya tidak penting benar untuk disebutkan, tapi dialah yang selama ini menjadi kawan Diana, seorang perempuan bertubuh gembrot yang selalu merias wajahnya dengan bedak sangat tebal.

“Kenapa enggak?

“Kamu tahu, kan, tentang mahar itu?”

Diana menghembuskan napasnya berat sekali. Sebagaimana kebanyakan pelaku prostitusi di negara ini, alasan Diana melakukan pekerjaan itu adalah uang. Itu terjadi tepat setelah suaminya mulai sakit-sakitan dan dipecat dari pekerjaannya pada awal bulan April lalu. Dulu suaminya bekerja sebagai pekerja bangunan, ia mengerjakan proyek-proyek semacam pembangunan jembatan atau bangunan besar lainnya. Tapi sial, suatu hari penyakit batuknya yang tiada henti tercium oleh sang mandor. Itulah saat akhirnya laki-laki berumur empat puluh empat tahun itu diberhentikan, menjadi pengangguran dengan simpanan yang semakin menipis, tak ada pekerjaan lain yang bisa ia lakukan selain mengutuk diri di rumah dan menceramahi pemerintah dengan tuduhan tak adil pada orang-orang miskin.

Di saat-saat yang begitu mendesak itulah ide gila tentang memperkerjakan istrinya di salah satu lokalisasi terkenal di Kalimantan Selatan keluar. Untuk satu-dua bulan saja, kata suaminya membujuk. Perempuan berparas cantik itu sempat menolak mentah-mentah usul suaminya, hingga suatu ketika saat keadaan semakin mendesak, Diana akhirnya memutuskan menerima usul suaminya dengan syarat satu dua bulan saja dan akan membuat usaha sendiri setelah itu. Suaminya mengangguk. Begitulah kemudian Diana mengenal dunia barunya, dunia yang kerap kali dipandang hina oleh orang-orang. Dia pun sadar diri dengan pandangan jijik itu, namun manusia kerap kali berbuat apa pun demi menghasilkan uang. Dan itulah yang terjadi pada perempuan bertubuh tinggi semampai itu. Dalam sehari, Diana bisa saja melayani empat atau lima orang, meraup uang empat sampai lima ratus ribu dalam sehari. Penghasilan itu lebih dari cukup, bahkan Diana mulai rajin menabung untuk menebus dirinya sekaligus modal usahanya kelak.

“Aku sudah tahu tentang mahar itu,” jawab Diana akhirnya, “Tiga juta, bukan? Aku sudah mempersiapkannya.”

“Dapat uang dari mana? Ngutang?

“Tak penting dari mana uangnya. Aku sudah muak di sini.”

“Kau pikir hanya soal uang? Tak segampang itu berhenti dari sini, Na,” kata kawannya berusaha agar Diana mengurungkan niatnya, “Apalagi punya tubuh yang bagus kayak kamu, banyak pelanggan yang tergila-gila buat nidurin.”

“Maksudmu?” Diana menatap kawannya dengan tatapan bingung.

“Aku juga sudah lama pengin berhenti, Na. Tapi tak semudah itu. Buktinya, sampai sekarang aku terkurung di tempat sialan ini.”

“Apa yang terjadi?”

“Coba kamu pikir. Mana mungkin mami mau lepasin anak-anaknya yang hasilin uang begitu saja!? Gak bakalan! Apalagi pelangganmu semakin bertambah sekarang ini,” bisik kawannya pelan seolah-olah khawatir ucapannya terdengar orang lain.

Diana tersenyum. Ia tak mau percaya begitu saja dengan ucapan kawannya itu. Diana bahkan curiga semua hanya akal-akalan kawannnya agar ia tak meninggalkan Batu Besi. Selama ini, setiap kali ia sudah kelelahan melayani banyak para lelaki hidung belang, ia selalu merekomendasikan kepada kawannya itu.

“Jangan menjelek-jelekan mami. Sejak awal dia sudah berjanji kepadaku. Barusan juga aku sudah bilang kalau malam ini suamiku akan datang membawa uang untuk menebusku,” kata Diana sambil mengenakan pakaian dan memerhatikan jam dinding telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.

Diana memang sudah hapal jam-jam suaminya akan datang menjemput, pukul dua belas malam atau paling telat pukul satu dinihari. Maka dari itu, setiap menjelang tengah malam, ia sudah tidak melayani para pelanggan lagi, tidak peduli berapa pun uang yang mereka tawarkan. Setiap malam, ketika suaminya datang, mereka akan saling tatap sebentar, melempar senyum yang asing. Diana akan duduk manis di belakang, mendekap suaminya erat, bergidik setiap kali lewat kuburan simpang tiga saat akan memasuki tempat tersebut, lalu belok kiri melewati jalan Sungai Salak hingga akhirnya sampai di rumah kontrakkan yang mereka tempati.

“Percaya, deh, Na. Itu gak bakal terjadi!”

“Kita lihat saja nanti, sebentar lagi suamiku akan datang menjemput,” balas Diana sembari beranjak keluar menuju teras rumah untuk menunggu kedatangan suaminya.

Seiring waktu berlalu, suami Diana tak kunjung datang hingga jam di dinding telah menunjukkan pukul dua dini hari. Diana masuk ke dalam rumah, lalu keluar lagi, dan terus seperti itu berulang kali. Dia gelisah, sesuatu mungkin telah terjadi, batinnya. Perempuan yang tak pernah melahirkan anak itu memandangi langit, tanpa sujud dan wudu dia mengangkat tangannya seperti orang-orang saleh berdoa di sepertiga malam. Suasana menjadi sangat mencekam, setidak-tidaknya bagi dirinya seorang. Dia lalu memilih mendekap diri melawan rasa dingin di teras rumah, menunggu kedatangan suaminya yang entah kapan.

Samar dari suatu jarak suara motor perlahan terdengar, memecah malam, menimbulkan harapan pada hati Diana. Tapi tidak. Suara motor itu nyatanya berbeda, sebab yang datang kemudian hanyalah seorang lelaki bertubuh jangkung salah satu pelanggan tetap di rumah bordil itu.

“Tumben jam segini belum pulang,” kata lelaki itu pada Diana.

“Iya, jemputannya belum datang,” jawab Diana dengan satu senyuman tipis.

Lelaki itu duduk di sana, di samping Diana, mengeluarkan sebungkus rokok dan menawarkannya pada Diana. Tidak, kata Diana menolak. Di depan sana pohon-pohon berbaris, menari sewaktu-waktu sebab tiupan angin, gemerisik pepohonan dan gongongan anjing yang saling bersahut tak jarang menimbulkan suasana yang mistis. Sebenarnya, Batu Besi tak ubahnya seperti desa-desa lain di negeri ini, yang hijau dengan pepohonan berbaris mengelilinginya, satu yang membedakan tempat itu dengan banyak tempat lain hanyalah praktik prostitusi oleh sebagian orang di dalamnya.

Dulu, tempat prostitusi itu pada mulanya hanya ada di Pembatuan saja—sebuah daerah yang dulu waktu pembangunan Bandara Syamsudin Nor menjadi tempat untuk menumpuk batu-batu material. Saat itu, tak banyak orang yang menghuni daerah Pembatuan tersebut. Barangkali itulah alasan sekaligus kesempatan menjadikan beberapa rumah menjadi tempat praktik prostitusi oleh dua orang pemiliknya. Dua mucikari itulah yang kemudian membawa para pekerjanya dari luar daerah dan membuat bisnis itu menjadi semakin besar baik dari pekerja atau tempatnya—salah satu tempat tersebut adalah yang kini ditempati Diana beserta kawannya, Batu Besi.

***

Hembusan angin kian terasa di kulit, membuat malam semakin dingin dan berahi semakin kuat dibuatnya. Lelaki itu mengajak Diana untuk menikmati malam sembari menunggu jemputannya datang.

“Barangkali suamimu ketiduran,” saran lelaki itu mengajak Diana masuk ke dalam kamar. “Daripada di luar sini, bisa-bisa masuk angin,” lanjutnya dengan senyum nakal.

Udah capek. Kalau pengin, masuk saja. Ada, kok, penggantiku di dalam,” ucap Diana menolak. Setelah dua bulan bekerja di sana, perempuan itu tahu betul maksud dari ajakan tersebut.

“Pasti si gembrot itu, males, akh,” jawab lelaki jangkung itu. Dia lebih memilih mencari kenikmatan di rumah lain. Bagi mereka yang sudah terbiasa mendatangi Batu Besi, tidak sulit membedakan mana rumah bordil dan mana yang bukan, para warga yang hidup di sana dan memilih untuk tidak terlibat dalam dunia tersebut kebanyakan memilih menulis “Rumah Tangga” di depan rumah mereka untuk menandakan bahwa rumah itu benar-benar bukan untuk ngamar.

“Pasti ada sesuatu yang telah terjadi pada suamiku,” pikir Diana sebelum akhirnya tertidur di teras rumah bordil tersebut. Diana baru bangun jam delapan pagi harinya ketika seorang wanita sekonyong-konyong lari seperti orang kesurupan dari arah danau, meraung-raung begitu lantang memecah keheningan.

“Tolong..!! Ada mayat di danau! Ada mayat di danau!” teriak wanita itu gaduh, ia berlari ke pelataran salah seorang warga, menangis keras, membuat orang-orang terkejut. “Ada mayat di danau! Ada mayat di danau!”

Orang-orang berlarian mendatangi wanita itu sesaat sebelum akhirnya pergi bergerombol ke danau, tempat di mana wanita itu menujukkan di mana mayat itu berada. Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, semua yang mendengar kabar kematian itu pergi ke sana demi mengobati rasa penasaran mereka yang kelewat dalam.

Mayat itu tergeletak di sana, di danau bekas tambang pasir tersebut, seratus meter dari tempat Diana bekerja—persis saat akan memasuki Batu Besi. Oleh polisi, mayat lelaki dengan baju hem lengan pendek berwarna hitam itu diduga kuat korban pembunuhan. Mayat itu meninggalkan jejak sobekan di bagian kepala, wajahnya lebam, dan hidungnya berdarah.

Jelas sekali itu suami Diana. Kendaraan roda dua yang setiap waktu menemani kedua suami istri itu tampak tergeletak di pinggir danau. Melihat itu, Diana berteriak sejadi-jadinya, meraung-raung penuh duka, meloncat dari ketinggian bibir danau dan menjatuhkan tubuhnya ke dalam kubangan lumpur. Ia peluk tubuh suaminya, menggoncang-goncangkan mayat itu berharap suaminya sadar dan hidup kembali.

Sementara itu, dari atas bibir danau, di antara keramaian orang-orang yang sedang menyaksikan pengangkatan mayat suami Diana, tampak seorang laki-laki tersenyum sinis ketika berpapasan dengan perempuan bertubuh gembrot yang memperingatkan Diana malam tadi. Perempuan gembrot itu langsung menundukkan wajahnya dengan rasa takut, tak berani menatap wajah lelaki itu. Dan, pagi paling ramai yang pernah terjadi di Batu Besi itu pun berakhir dengan rasa takut yang misterius.[]

Cerpen ini memenangkan juara harapan 3 dalam lomba Cerpen Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Selatan.

Tags

ardian

Saya adalah penggemar segala hal. Satu hal yang tidak saya gemari, berpikir!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin