Cinta

Bergantung di Pohon Kaktus

Aku terlalu manja kepadamu, dan menganggap kau akan baik-baik saja dengan sikap manja dan cerewetku ini.

TandaPetik.Com – Disadari atau tidak sepertinya aku selalu perlu seseorang untuk bergantung, sangat kusadari sebenarnya aku tak mampu berdiri seorang diri. Seperti sekarang, aku yang sepertinya ‘agak’ bergantung pada seorang lelaki yang telah memiliki sebuah ikatan sah.

Itu bisa jadi dianggap seperti bergantung di pohon kaktus. Ya, bergantung di pohon seindah kaktus namun tak sadar duri itu menusuk hingga menimbulkan luka dalam yang mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh.

Perkenalanku denganmu kira-kira 3 bulan lalu itu sepertinya berlanjut dan berkesinambungan, kukira kita hanya akan menjadi Partner kerja. Aku membutuhkanmu untuk pekerjaanku, tanpa kau membutuhku untuk hal lain. Tapi ternyata, aku membutuhkanmu lebih dari hanya sekedar urusan pekerjaan tapi juga urusan hati dan kau membutuhkanku untuk menemanimu makan bakso.

Entah siapa yang memulainya, kisah ‘baper’ ini berlalu begitu saja. Kau yang meminta terlebih dulu nomor ponselku, membuatku sedikit tercengang namun agak bahagia.

“Minta nomor kamu dong,” katamu.
“Oh iya, nih 08xxxxxxxxxx,” balasku.

Namun, dalam hatiku terbersit sebuah firasat bahwa kau bukanlah seorang pria bujangan. Dari raut wajahmu nyata bahwa kau sudah memiliki seorang perempuan yang telah menunggu kepulanganmu dari kantor setiap hari. Dan ternyata itu benar adanya, awalnya aku tak peduli karena ini pasti hanya soal pekerjaan. Tapi, semua berubah semenjak Korut memutuskan berdamai dengan Korsel.

Chatting, bertemu saat ada urusan pekerjaan dan saling mengomentari status Whatsapp menjadi bumbu-bumbu yang sedikit demi sedikit membuatku tertarik padamu. Bukti bahwa bukan cuma tangan yang bisa narik, aku temukan di sini, di dalam perasaan ini.

Kau, memang sudah menarik hatiku. Di dalam tatapan matamu, aku merasakan kehangatan seorang imam yang baik. Namun, aku harus kecewa karena kau telah memiliki seorang makmum di hatimu.

Kita mulai sering bertemu di luar jam kerja, hanya untuk makan bakso bersama. Entahlah, bakso itu terasa begitu nikmat bila aku memakannya bersamamu. Chatting-an kita pun seolah penuh dengan curhat-curhatan yang masing-masing kita lontarkan.

Meskipun tak jarang, obrolan kita yang awalnya saling melontarkan pendapat justru menjadi ajang debat yang sekelas debat Pilgub pun kalah serunya. Namun, pada akhirnya salah satu dari kita akan mengalah dan mengakhiri perdebatan itu dengan membahas hal lain.

Perasaan yang kujaga agar hanya menjadi sekedar partner kerja itu ternyata harus terpaksa berlanjut ke sebuah perasaan suka, aku tak bisa mengendalikan perasaan itu. Entahlah ini alami atau dibuat-buat tapi pepatah jawa itu seolah tak pernah salah, “Wiwiting tresno jalaran soko kulino”, yang memiliki arti awal cinta berawal dari terbiasa.

Ya, terbiasa bertemu, terbiasa berkomunikasi dan terbiasa curhat lalu muncul sebuah rasa nyaman. Tapi akan menjadi bencana, saat rasa itu muncul untuk orang yang tak ‘boleh’ untuk aku miliki.

Nama anakmu yang kau gunakan di setiap akun media sosial dan juga akun emailmu pun seolah selalu mengingatkanku, bahwa kau telah memiliki buah cinta hasil dari pernikahanmu.

Tapi, bagaimana jika rasa ini telah tumbuh begitu subur? Bagai kaktus, kau selalu terlihat indah, terlihat menarik dan hijau menyegarkan namun duri itu selalu menusuk tanganku jikalau aku mencoba menyentuhmu. Sama rasanya seperti itu, sama seperti saat aku mencoba memasuki lebih dalam relung hatimu, aku hanya akan semakin tersakiti oleh kenyataan bahwa aku tak ingin merebut kebahagiaan milik orang lain hanya untuk kebahagiaanku sendiri.

Aku terlalu manja kepadamu, dan menganggap kau akan baik-baik saja dengan sikap manja dan cerewetku ini. Tapi kenyataan bahwa aku tak bisa memilikimu itu kembali terbersit dan mengelitik. Hingga membuatku sadar aku tak seharusnya bersikap seperti itu.

Kita berdua telah mengakuinya, meski kau seorang lelaki yang telah memiliki sebuah kelurga dengan satu istri dan satu anak tapi kau mengakui bahwa rasa itu tumbuh subur karena terbiasa. Akupun juga, kau tak menampik bahwa kau melihat tanda-tanda itu di dalam mataku dan sikapmu selama ini.

“Bukannya apa-apa atau bukannya aku sok tau, tapi aku lebih dulu lahir daripada kamu,” katamu.

Sebuah rangkaian kata kau buat untuk menggambarkan perasaanmu yang kau umpamakan layaknya memandang bulan.

Indahnya Cahaya bulan membias dibalik merahnya bunga kertas
Bulannya jauh tak bisa disentuh

Yang tak bisa dipegang cukup dipandang
Yang tak bisa dimiliki hanya bisa dinikmati
Yang tak bisa diikat hanya bisa dilihat

Kadang kehidupan berjalan tak selalu sesuai harapan
Namun langkah kaki tak boleh berhenti
Hidup harus terus bergeliat
dengan bekal sabar, syukur dan semangat

Lalu, aku membalasnya dengan serangkaian kata ini

Mencintaimu bagaikan memeluk kaktus
semakin erat aku memeluknya
akan semakin sakit rasanya

Meskipun, kau terlihat begitu tegar, segar dan hijau
namun, menyentuhmu membuatku terluka
membelaimu membuatku tersayat

Karenanya, aku hanya bisa memandangmu
menyaksikan dirimu menjadi kepala keluarga yang kuat dan tangguh

Layaknya kaktus yang tetap hidup meski tumbuh di lahan tandus
aku pun akan memupus sebuah harapan
yang tanpa kusadari, kuciptakan sendiri dalam khayal

Duhai cinta kaktusku, doakan aku sekuat kaktus
biarlah mencintaimu bagaikan memeluk kaktus
asal aku bisa tetap bisa memandangmu sebagai pria yang tulus..

Sungguh, aku menyesal karena telah ‘merasa memiliki’ yang pada kenyataannya dia adalah
milik orang lain. Tapi bagaimana kalau pada kenyataannya ini telah terjadi, aku sudah terlalu
berharap dan bergantung kepadamu.

Memang, ini terlihat kekanakan. But, you say jalani dan nikmati saja. “Aku yakin suatu saat kamu akan pergi dan mendapatkan yang lebih baik daripada aku. Jadi, nikmati aja, nanti juga berlalu,” ucapmu.

Walaupun aku tanpamu bagaikan layangan putus yang nyangkut di pohon kaktus, amunditarik rabit amun dibiarakan belubang.. Hingga membuat perasaanku ora karu-karuan, tapi mengenalmu adalah salah satu anugerah yang mungkin Allah berikan untukku sebagai salah satu pelajaran hidup. Terima kasih, bang.

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin