Ulasan
Trending

Begini Nasib Tugu Monumen 17 Mei 1949, Menyedihkan

TandaPetik.Com – Seluruh pengendara yang sering bolak-balik menuju arah Banjarmasin, pasti sering melihat Tugu  Monumen 17 Mei 1949 yang berdiri kokoh sebelum memasuki wilayah Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar. Kebetulan pada tanggal 5 Juli lalu, saya melakukan perjalanan ke Banjarmasin bersama seorang sahabat. Kami berdua memang memperhatikan tugu 17 ini saat melaluinya.

Sepanjang perjalanan kami akhirnya hanya membicarakan tentang monumen tersebut.Sebuah monumen yang dibuat bukan untuk sia-sia. Di situ ada cerita cinta antara rakyat Kalimantan terhadap Indonesia. Ditandai lewat monumen tersebut, rakyat Kalimantan memproklamirkan dirinya, mengakui bahwa Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan rakyat Kalimantan berada dalam naungan Negara Republik Indonesia.

“Kita akan singgah sepulangnya nanti,” begitu masing-masing hati kami saling bersepakat. Dan kami melakukannya. Monumen 17 Mei 1949 tersebut diresmikan pada 17 Mei 1985 oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 Kalimantan Selatan, yang waktu itu dijabat oleh Ir H M Said.

Jarak waktu yang cukup jauh dan kami masih kanak-kanak. Tak ada ingatan dan kenangan bagaimana proses monumen ini dibangun. Pada akhirnya, kami hanya memiliki cerita suram, cerita kekinian tentang monumen 17 Mei 1949 yang menyeramkan dalam artian sebenarnya.  Padahal itu terjadi pada siang hari. Tak bisa dibayangkan berada di monumen tersebut ketika malam,  pasti jauh lebih menyeramkan karena tanpa penerangan. Dengan mata telanjang bisa kami lihat Instalasi listriknya rusak parah. Terlintas dalam benak kami, kenapa orang-orang membiarkan monumen ini seakan terbengkalai.

Saat memasuki lokasi monumen, kami seperti memasuki rumah kosong yang berpuluh-puluh tahun tak dihuni. Pecahan keramik, lumut, sampah, dan rumput liar berhambur layaknya sebuah rumah sehabis dijarah.

Kami berdua mencoba mengelilingi tugu. Membaca baris demi baris aksi vandalisme yang menyuramkan dinding monumen. Sementara itu, di bawah tangga, kami temui sampah plastik berisi lem fox. Kami saling berpandangan, monumen tersebut seperti sarang penyamun saja. Akh, monumen 17 Mei 1949 telah kehilangan tujuan awal kenapa didirikan.

Sambil duduk di bawah naungan pohon, kami pandangi ukiran burung Garuda dan logo daerah Kabupaten Banjar seperti lelah menantang matahari dan guyuran hujan. Di beberapa bagian, logo kehormatan itu telah rusak dan catnya pun telah lama memudar.

Tugu Monumen 17 Mei 1949

Akh, menceritakan Tugu 17 Mei 1949 seperti menceritakan kerapuhan yang tak habis-habis. Padahal, saat ini setiap kabupaten / kota di Kalimantan Selatan sedang berlomba untuk menghias diri. Saling berlomba meningkatan kunjungan wisata. Namun, monumen yang letaknya begitu strategis, menjadi lintasan banyak orang justru disuguhi pemandangan sebagian pagar yang jebol.

Sebenarnya ulasan negatif terkait tugu ini juga disampaikan orang lain di Google Maps. Kalau kalian mencari di google dengan kata kunci Tugu 17 Mei, pasti kalian akan mendapati lokasi tugu yang dimaksud. Nah, mengutip satu ulasan di sana, akun atas nama kaekaha rockerz menyayangkan kondisi Tugu 17 Mei 1949.

“Tugu yang menjadi salah satu landmark Kalimantan Selatan ini, sebenarnya cukup strategis untuk dijadikan salah satu destinasi wisata Banua, sayang kondisinya kurang terawat dan parahnya kalau malam tindak ada penerangan di sini, gelap gulita,” tulisnya.

Sama halnya dengan akun Anim Suripto, dia ingin tugu 17 Mei 1949 ini dirawat dengan lebih baik lagi. “Perlu dirawat lebih baik, tugu 17 Mei 1949 masih perlu dipertahankan,” begitu ulas Anim Suripto di Maps Google Tugu 17 Mei 1949.

Sepertinya kami harus berhenti sampai di sini. Semakin terus dilanjutkan, terlalu banyak hal buruk yang menyedihkan. Itulah sedikit gambaran nasib Tugu 17 Mei 1949 terkini. Semoga saja, pemerintah daerah yang berwenang terhadap tugu tersebut menyiapkan perhatian. Tak usah banyak-banyak, cukup membuat monumen tersebut layak dipandang mata saja. Itu sudah cukup ketimbang membiarkannya seperti para nini dan datu yang dulu berjuang lantas diacuhkan sebatang kara.

Baca juga Artikel Berikut:
Tags

ardian

Saya adalah penggemar segala hal. Satu hal yang tidak saya gemari, berpikir!

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin