Esai

Antara Saya, Budaya Santri, dan Orang Martapura Asli

TandaPetik.Com – Saya selalu mendapati kerinduan yang berlebihan ketika mendengar percakapan beberapa orang asli Martapura. Lah, kok dibilang asli, sih, Bang? Emang ada yang palsu! Gak gitu juga sih, tapi, gimana ya. Percakapan sesama orang Martapura itu bisa disimak dan unik sekali. Coba tolong tinggalin jejak yang biasa dengar kawannya ngobrol “Raja antik ei” atau “Nyawa ngini bahapal bonor,” atau “Lolongkong“.

Beberapa waktu lalu customer saya sekumpulan ibu-ibu dengan anaknya yang masih remaja, 4 orang. Mereka bercengkrama di dalam kabin. Nama-nama perempuan di Martapura juga gak jauh-jauh dari sunah. Misalnya Zubaidah, Pu’ah, Riskiah, Zakiyah, Aisah, dan akhiran ta’ marbuta sukun lainnya. Percakapan orang Martapura itu lagunya susah dituliskan tapi asik didengarkan. Saya jadi gimana gitu ya, pengen kasih tahu lewat tulisan tapi gak bisa dijelaskan, gitu. Gimana ya?

Saya berhijrah sekitar tahun 2003 dari Kabupaten Tanah Laut ke Kabupaten Banjar. Tinggal di sekitar Pasayangan dan Keraton, 5-6 pindah rumah karena banyak hal, gak bisa hidup di asrama seperti kawan-kawan lain. Sampai di tahun 2012 barulah saya pindah kost ke Gg Purnama, Banjarbaru, yang terkenal dengan “texas” nya Banjarbaru. Sepanjang tahun itu juga ruang lingkup sosial dengan “Urang Kampung” yang artinya penduduk asli Martapura berjalan.

Mendengar percakapan mereka sepanjang perjalanan mengingatkan saya akan orang-orang di Pasayangan dan Pekauman. Yang sejak subuh telah menjajakan kue ‘untuk’ isi kentang di Gang-gang sempit. Nasi samin dengan daging sedikit dan warung-warung penuh pelanggan bapak haji bersarung pasca wiridan subuh. Pemandangan yang selalu saya dapati di tiap ruang aspalnya. Saya tahu itu karena selalu ke Kampung Melayu, kubah Datu Kasyful, majelis yang dipimpin Guru Munawar dilaksanakan setiap hari, kecuali Jumat.

Di Martapura, masyarakat akrab menyebut para pemuka agama dan dewan pengajar di Pesantren dengan sebutan Guru. Sedangkan guru sekolah umum hanya disebut bapak atau ibu, saja. Teman-teman seangkatan saya sekarang sudah banyak yang jadi guru. Kalau bertemu, saya harus cium tangan bolak-balik meski beberapa tahun lalu tangan itu pernah saya pasangkan jepitan jemuran di lengan karena kalah guplah.

Konteks budaya di Martapura masih kuat. Belum tergerus zaman, beberapa remajanya memang sudah bersolek tapi tetap mau baca tasbih Nabi Yunus yang beribu-ribu kali saat pertengahan Sya’ban. Hampir di tiap musholla amalan khas Kota Santri seperti pengajian dan shalawatan masih terjaga. Seperti ada separuh hati yang saya tinggalkan di kota ini.

Pada menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darussalam, waktu berputar seperti cepat sekali. Setiap hari pasca lima waktu, selalu ada saja jadwal pengajian halaqoh di kampung-kampung. Kurang awaknya aja lagi. Tersebar dari ujung Kampung Melayu, Astambul, Pekauman, Pasayangan, Antasan Senor, Tanjung Rema, sampai Sekumpul Ujung. Biasanya para santri yang menghadiri pengajian bersepeda, ada juga kalangan berada yang menggunakan motornya. Abang tingkat saya di pondokan pernah bilang, kita  boleh saja kok iri dengan orang-orang mampu yang sering bawa motornya berangkat ke pengajian, karena menggunakannya ke jalan kebaikan. Pada bagian ini saya pernah bela-belain jual sepeda saya dengan alasan untuk biaya bikin sim C, agar diperbolehkan bawa motor ke pesantren. Motor dibelikan, saya lebih sering ke Lapangan Murjan ketimbang pengajian. Kelakuan yang tak patut untuk dicontoh, ya. Semoga tidak ada generasi penerusnya. Tapi kayaknya banyak sih.

Lingkungan pergaulan semasa itu tak pernah lepas dari masyarat Martapura asli. Di situlah kami para pondokan yang pendatang ini biasanya berinteraksi langsung ketika gotong-royong meuruk tanah kuburan, saling membantu mengambil air bersih pada pompa air, atau jadi pencuci piring saat anak seorang tokoh di kampung kawinan. Tak sekali dua urang kampung biasanya menyilakan  pondokan untuk andil di mushola atau langgar sekitar. Bisa azan, baca doa, atau jadi imam. Mengimami anak gadis mereka bisa juga.

Mengingat itu semua, saya seperti menjenguk kembali separuh hati yang pernah saya titipkan di Martapura. Empat penumpang perempuan tadi saya drop off di satu mini market, dia membayar dan saya menerima. Kemudian kalimat khas yang tak tergantikan sebagai  orang Martapura asil terucapkan: “Berelaan lah!”

 

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin