Ulasan

23 Adab Menziarahi Makam Wali Agar Tidak Dibully

TandaPetik.Com – Peristiwa yang terjadi di kubah (makam) KH Abdussamad, Marabahan, Batola, semestinya bisa menjadi pelajaran bagi semua masyarakat secara luas tak hanya masyarakat Banjar saja. Aksi arogansi yang diduga pejabat ASN menjabat Kabag Humpro Hery Sasmita memukul penjaga makam tak elok dicontoh. Tersebab, setiap makam memunyai tata tertib, dan aturan untuk berziarah. Bahkan dalam kitab-kitab kuning khas Nahdatul Ulama (NU) juga disusun perihal adan berziarah kubur.

Kabarnya, sehari pasca pemukulan itu, yang bersangkutan langsung tidak masuk kantor. Ruangannya sepi. Bahkan menurut satu portal berita online, sejak apel pagi hingga tulisan ini ditayangkan, yang bersangkutan hilang, tak ditemukan jejak-jejak, tak tercium baunya. Terparah lagi, semua akun medsosnya hilang bak ditelan malam.

Kita tak pernah tahu kemana perginya pejabat termaksud. Padahal, jika hadapi saja proses hukum bisa menjadi permakluman sebagian netizen. Sontak hilangnya Hery Sasmita menjadi bully-bullyan tak tertahankan di beberapa postingan netizen perihal kejadian itu.

Bisa jadi yang bersangkutan sedang berproses meminta pertolongan kepada sang Maha Kuasa agar diberikan petunjuk dan jalan yang lurus. Atau sedang melobi Bupati Batola agar tidak memecatnya dari jabatan Kabag Humpro atau ASN. Atau berusaha mencari rekanan (orang dalam, kenalan, misalnya) agar bisa memuluskan kasusnya di kepolisian untuk diringankan. Sukur-sukur bisa dipenjara, tanpa kortingan masa tahanan. Lah, kalau bebas-bebas saja berkeliaran, sama sekali tak menjalani proses hukum yang berlaku dalam undang-undang penganiyaaan satu pun, ini berbahaya, bisa berabe. Sebab menjadi  citra buruk pejabat pemerintah dalam hal ini ASN, jadi teladan anak muda yang baru menjabat, atau parah lagi, jadi perilaku tercela sebagai zurriyat ahlul bait/kubah/makam. Ya kita masih mengira-ngira, akan dibawa kemana kasusnya.

Baiklah, terlepas dari persoalan hukum yang sedang berjalan atau stagnan, peristiwa ini hendaknya menjadi pelajaran bagi peziarah lainnya agar tidak mencontoh Kabag Humpro yang arogan. Saya pribadi dibesarkan dalam keluarga Nahdatul Ulama yang kental dengan amaliah masyarakat Nahdiyin. Ditambah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darussalam Martapura, perihal ziarah menziarahi para makam Aulia Allah sudah menjadi rutinitas kami. Bukan hal baru apalagi hal yang aneh. Segala adab dan tata krama kami amalkan sebaik-baiknya sebagai mana yang telah disusun oleh para ulama dan guru-guru kita.

Beberapa momentum hari raya setelah saya telah berkeluarga juga. Istri saya termasuk dalam lingkungan kelembagaan Muhammadiyah yang kuat. Mereka juga lebih lagi dalam pelajaran adab berziarah kubur. Mungkin sebagian masyarakat Nahdiyin masih memakai alas kaki saat ziarah di pekuburuan muslimin yang umum, bukan kubah atau makam wali. Tapi masyarakat Muhammadiyah, sejak tiba di pintu gerbang saja, kita peziarah sudah diminta untuk melepaskan alas kaki, karena itu lah adab kita masuk ke dalam komplek perumahan. Lihat! Tentu saya tidak tahu perihal ini jika tidak ditegur mertua saya.

Well, itu pengalaman saja. Saya kira sahabat petik’ers lainnya juga memunyai pengalaman yang berbeda-beda. Disedot dari islamidotco, berikut saya beberkan bagaimana seharusnya adab kita dalam menziarahi kubur apalagi makam ulama besar.

23 adab menziarahi makam para wali yang saya beberkan ini disusun oleh Syeikh Abdullah bin Muhammad bin Siddiq al-Ghummari, dalam kitabnya Ittihaf al-Adzkiya.

1. Niat baik.
Bermaksud mendekatkan diri kepada Allah Swt supaya mendapatkan keridaannya. (Bukan ingin menujukkan kehebatan nasab) . Apakah dia zurriyat atau orang jaba/biasa. Seraya mengikatkan hati dengan kecintaan kepada Nabi Muhamad Saw dan keluarganya, beserta para Aulia Allah Swt, dan juga berharap penuh agar mendapatkan syafaat dari mereka.

Disunnahkan juga, Mandi dan wudhu sebelum pergi ke makam, serta memasuki makam dalam keadaan suci dan memakai pakaian yang bersih. (Tidak memakai sepatu yang kotor walau pun anda seorang pejabat pemerintahan)

2. Istigfar.
sebanyak sebelas kali, seraya menghadirkan hati sebelum memasuki area pemakaman. Tumbuhkan rasa sedih dan penyesalan dalam hati, pertanda taubat, sehingga memasuki area makam, dalam keadaan bersih lahir maupun batin. (bukam malah menunjukkan kesombongan sampai memukul penjaga makam)

3. Berdiri di hadapan pintu makam seraya meminta izin untuk masuk. (bukan nyelonong masuk seenak pala lu)

4. Membaca surat al-fatihah kepada para masyaikh ketika jalan (menuju makam).

5. Melepas sendal ketika masuk. (sepatu juga termasuk. Bahkan lebih beradab lagi melepas kaus kaki. Letakkan sepatu yang memang telah disediakan di makam. Jika sembarangan dan ditegur untuk merapikan, patuhi saja. Jangan malah emosi lalu marah-marah ke penjaga makam)

6. Mendahulukan kaki kanan ketika masuk.

7. Memasuki area dengan tenang.

8. Membaca لاإله إلا الله sebanyak sebelas kali, dan diakhiri dengan membaca محمد الرسول الله.

9. Membaca do’a berikut:

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَيُّهَا الْوَلِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، أَنْتُمُ السَّابِقُوْنَ وَإِنَّا بِكُمْ  إِنْ شَاءَ اللهُ لَاحِقُوْنَ

(Assalamualaikum ayyuhal waliyyu wa rahmatullahi wa barakatuh. Antumus Sabiquuna wa inna bikum insyaallahu lahikun)

10. Membaca surat al-fatihah 11 kali.

11. Membaca surat yasin.

12. Membaca surat al-ikhlas 11 kali.

13. Menghadiahkan pahala al-quran dengan mengucapkan:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ ثَوَابَهَا فِي صَحِيفَةِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَثَوَابَ مِثْلَ ذَلِكَ لِأَرْوَاحِ أَبِيْنَا آدَمَ وَأُمِّنَا السَّيِّدَةِ حَوَاءَ وَمَنْ وَلَدَا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَثَوَابَ مِثْلَ ذَلِكَ لِآلِ بَيْتِ النَّبِيِّ وَأَصْحَابِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَتِهِ وَأَهْلِ بَيْتِهِ أَجْمَعِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَعَنَّا وَنَفَعَنَا بِهِمْ دُنْيَا وَأُخْرَى وَأَلْحِقْنَا بِهِمْ فِي الدَّارَيْنِ آمِيْنَ وَثوَابَ مِثْلَ ذَلِكَ فِي صَحِيْفَةِ هَذَا الْوَلِيِّ وَإِلَى مَنْ تُحِبُّ

(Allahummajal tsawabaha fi shahifati sayyidil mursalin Shallalahu alaihi wasallam wa tsawaba dzalika li arwahi abina adama wa ummina as-sayyidati hawa’a wa man waladaa minal ambiya’i wal mursalin was syuhada’i was shalihin wa tsawaba mitsla dzalika li aali baitin nabiyyi wa ashhabihi wa azwajihi wa dzurriyatihi wa ahli baitihi ajmain, radiyallahu anhum wa anna wa nafa’ana bihim dunya wa ukhra wa alhiqna bihim fiddaraini amin, wa tsawaba mitsla dzalika fi shahifati hadzal waliyyi wa ila man tuhib.)

14. Berdoa dengan mengucapkan: يَا سَيِّدِي فُلَانٌ شَيءٌ لِلهِ اَلْمَدَدُ sebelas kali.

15. Bersalawat kepada nabi dan keluarganya sebanyak sebelas kali.

16. Berdoa kepada Allah Swt seraya membentangkan tangan ke langit, memohon agar kebutuhan dunia maupun akhirat dipenuhi olehNya. Berdoalah dengan menghadap makam wali, maka sang wali itu akan meng-amin-kan doamu. Mulailah doa dengan memuji Allah Swt dan salawat kepada Nabi Muhammad Saw serta meminta ilmu dan kebaikan dari seluruh kebaikan di dunia dan akhirat kepada Allah Swt, kemudian tutuplah doamu dengan bacaan:

يَا إِلَهِي بِحَقِّ وَلِيِّكَ هَذَا فَرِّجْ كَرْبِي وَهَمِّي فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَارْحَمِ اللَّهُمَّ صَاحِبَ هَذِهِ الْمَقَامِ وَعُمَّهُ بِاللُّطْفِ وَالْإِكْرَامِ وَاسْتَجِبْ دُعَائِي اللَّهُمَّ بِحَقِ الْمًصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِسِرِّ ثَوَابِ الفَاتِحَةِ

(Ya Ilahiy bihaqqi waliyyika hadza farrij karby wa hammy fid dunya wal akhirah warham allahumma shahiba hadzihil maqam wa ummahu billutfi wal ikram wastahib du’ai. Allahumma bihaqqil mustafa shallallahu aialihi wasallam wa bisirri tsawabil fatihah)

17. Mengucapkan kalimat syair dibawah ini dengan khusyuk:

لَنْ أَبْرَحَ الْبَابَ حَتَّى تُصْلِحُوا عِوَجِي # وَتُقَبّلُوْنِي عَلَى عَيْبِي وَأَوْزَارِي

(Lan Abrahal baaba hatta tshlihu `iwaji # wa tuqabbiluni ala aibi wa auzari)

18. Kemudian mengucapkan:

أَشْهَدُ يَا سَيِّدِي يَا فُلَانُ أَنَّنَا نَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ جَدَّكَ مُحَمَّدٌ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَهِيَ لَنَا وَدِيْعَةٌ عِنْدَكَ

(Asyhadu ya sayyidi ya fulan annana nasyhadu an la ilaaha illa Allah wa anna jaddaka muhammad abdullahi wa rasuluhu wa hiya lana wadiatu indaka)

19. Membaca ayat kursi sekali, dan mengulang-ngulang ayat وَلَا يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ (walaa ya’udhu hifdzuhuma wa huwal aliyyul adzim) sebanyak tiga kali.

20. Menghormati penjaga makam, dan berbuat baik kepada mereka. (Bukan meninggi-ninggikan suara dan marah-marah lalu memukul)

21. Membaca al-fatihah untuk wali di makam tersebut seraya meminta izin untuk kembali pulang dan berkata: “Aku telah menghadirimu wahai tuanku, bukannya aku jemu ataupun bosan, akan tetapi aku memiliki keperluan, gairahku pun berkurang dan melemah, dan aku bermaksud untuk pamit dari makammu”.

22. Tidak membelakangi makam ketika hendak pulang. (berbalik badan. Bukan lari karena sudah memukul penjaga makam)

23. Bersedekah di sekitaran makam kepada orang-orang yang membutuhkan.

Selain memperhatikan adab-adab ziarah di atas, para peziarah juga harus memperhatikan peringatan dan larangan ketika berziarah sebagaimana berikut:

1. Tidak membawa dan menyalakan lilin ketika ziarah, karena itu adalah tabiat orang nasrani.

2. Makruh meletakan kedua tangan di atas kuburan atau mengusap kuburan, dan tidak juga menciumnya.

3. Hindarilah berputar-putar mengelilingi makam, sesungguhnya itu diharamkan oleh syariat.

4. Seyogyanya bagi seorang wanita untuk tidak berhias dan memakai wewangian ketika berziarah.

Demikian adab-adab dan larangan berziarah, semoga bermanfaat ya petik’ers. Jangan dibuli, karena ini perihal adab. Jika petik’ers mendapati peziarah belum beradab, mungkin dia masih belajar, maka jagalah hati agar kita tergolong orang-orang yang baik prasangka kepada manusia.

Wallahu a’lam.

Artikel Berkaitan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Dukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda
WhatsApp chat Chat Admin